Di saat sebagian remaja sibuk mencari jati diri, saya yang tidak remaja lagi sibuk mencoba menemukan sebuah hobi. Padahal hobi itu pernah saya abadikan dalam beberapa buku diary dan Curriculum Vitae (CV). 

Sewaktu masih alay SMP, saya pernah beberapa kali mengisi buku diary teman. Salah satu informasi yang ada pada buku diary itu adalah hobi atau kegemaran. Sama seperti cita-cita, hobi pun kerap berubah seiring bertambahnya tingkat kedewasaan.

Saya tidak berhasil mengingat hobi apa yang pernah saya isi pada buku-buku diary itu. Jangan-jangan saya cuma mengisinya dengan: “masih dipikirkan!” atau bisa jadi saya mengisinya dengan: “ada aja!”. Yasalam, sungguh sangat alay.

Selain pada buku diary, hobi pun kerap dicantumkan pada CV untuk melamar pekerjaan. Saya masih bisa mengingat hobi yang diisi pada CV, karena dokumen CV masih tersimpan rapi. Ternyata hobi yang saya isi pada CV adalah berenang.

Jujur saya bingung kenapa saya mengisi hobi dengan berenang padahal sampai sekarang saya belum terlalu mahir melakukan olahraga air itu.

Saya begitu getol ingin menemukan sebuah hobi karena kok rasa-rasanya saat ini agak aneh seorang Bapak-Bapak tidak punya hobi. Coba lihat lah sekeliling, hampir dipastikan 9 dari 10 Bapak-bapak pasti mempunyai hobi.

Saya pun heran kenapa yang 1 nya itu harus saya. Itulah yang mendorong saya untuk mulai menemukan sebuah hobi.

Saya amati salah satu teman punya hobi main burung. Saya coba menggali informasi tentang hobi main burung ini. Sepertinya asyik juga mendengar kicauan burung kenari setiap pagi. Saya utarakan niat suci ini ke istri. Dan jawabannya seperti ini:

"Apa abah (istri saya biasa memanggil saya abah) sudah yakin bakal rajin ngasih makan dan bersihin kandang. Itu ikan cupang sebiji aja, saya lho yang suka kasih makan dan ganti airnya.  Kalau abah malas kasih makan burung, burungnya bisa lemas dan akhirnya ga hidup lagi lho!”

Kok pemilihan diksi istri saya terdengar aneh ya?

Tapi jawaban itu cukup membuat semangat saya kembali menggelora untuk … mencari hobi lain saja.

Selain main burung, hobi bapak-bapak lainnya adalah bersepeda. Bak gayung bersambut, saya mendapat hadiah sepeda. Bukan karena berhasil menjawab nama-nama ikan, tetapi mendapat door prize dari acara family gathering perusahaan.

Saya pun menjalankan hobi bersepeda. Setelah rutin bersepeda setiap akhir pekan selama 3 pekan, lagi-lagi saya utarakan niat mulia saya ke istri.

"Ma, saya mau beli sepeda yang lebih bagus ya. Biar lebih nyaman kalau rutenya jauh.”

"Apa ga sebaiknya diuji dulu bah konsistensi bersepedanya?” ujar istri saya ragu. Baru juga 3 minggu. Menurut penelitian menguji konsistensi itu sebanyak 27x  lho. Satu aktivitas bisa dikatakan konsisten kalau sudah dilakukan sebanyak 27x.” terangnya sok ilmiah.

Mendengar jawaban berbau ilmiah itu, saya pun terdiam. Sempat penasaran, penelitian siapa yang dimaksud. Apakah angka 27x itu tidak tertukar dengan keutamaan pahala shalat berjamaah. 

Baca Juga: Hobi yang Mahal

Tapi jawaban itu membuat jiwa saya tertantang. Setiap akhir pekan saya rutin bersepeda.

Tepat di pekan ke-5 rasa bosan mulai menghampiri. Mungkin karena bersepeda sendiri. Sempat terbersit mau gabung sama komunitas tapi keder saat tahu jarak yang kerap ditempuh jauh sekali.

Menjadikan bersepeda sebagai hobi pun gagal.

Saya tidak putus asa. Pencarian hobi lain pun dimulai. Sempat melihat postingan Facebook teman yang suka lari. Sepertinya seru juga dijadikan sebuah hobi. Tidak butuh modal besar sama sekali.

Pagi-pagi sudah memakai kostum lari yang lengkap dan rapi. Tampilan sudah mirip Lalu Muhammad Zohri. 

100 meter pertama baik-baik saja, 300 meter selanjutnya kecepatan mulai ditambah biar terlihat gagah, 700 meter mulai ngos-ngosan tapi malu untuk menyerah, 1000 meter ulu hati mulai terasa sakit karena merasa lelah.

Selfie sebentar sebagai pengalih perhatian. Coba lari lagi tapi sepertinya berat untuk dilanjutkan. Menjalani sisanya dengan berjalan kaki sambil menahan sakit ulu hati sepanjang jalan. 

Entah lah apa yang salah, sepertinya karena kurang pemanasan atau terlalu bersemangat sampai lupa tidak mengatur pernapasan.

Hobi lari langsung terhenti, tapi pencarian hobi tidak boleh berhenti. Akhirnya dipilih lah pencarian hobi lain yaitu olahraga berjalan kaki. Nah hobi kali ini istri siap menemani. Mulai lah kami olahraga berjalan kaki.

Awalnya cukup menjanjikan. 2 bulan pertama kami konsistensi jalan kaki setiap akhir pekan. Sudah bisa share strava di status WhatsApp kek orang-orang.

Tepat bulan ke-3, istri sering izin karena ada kuliah pagi. Saya tak mau terpengaruh sama sekali. Saya harus tetap melakukan olahraga berjalan kaki walaupun sendiri.

Pekan pertama olahraga berjalan kaki tanpa istri terasa tidak apa-apa.

Masuk pekan ke-2, berjalan kaki tanpa istri terasa lelah sekali. Setelah saya pikir-pikir, oh iya wajar saja saya merasa lelah karena separuh napasnya tinggal di rumah. Hasek.

Pekan-pekan selanjutnya cuaca pun mulai sering mendung sehingga niat olahraga berjalan kaki menjadi terbendung. 

Selanjutnya, mulai banyak alasan yang dicari-cari untuk tidak olahraga berjalan kaki. Mulai dari sepatu yang tidak cocok untuk olahraga berjalan kaki sampai alasan korona dimunculkan kembali.

Ah, sudah lah. Pencarian hobi dihentikan dulu sampai waktu yang belum ditentukan.

Kalau nanti ada kolom hobi yang harus diisi, jujur saya masih bingung harus mengisinya dengan kebohongan atau kealayan.