Istilah sekularisasi, dalam diskursus pemikiran pembaruan di Indonesia telah lama mengemuka, terutama ketika Nurcholish Madjid berpidato dengan kertas kerja yang berjudul “Keharusan Pembaruan Islam dan Masalah Integrasi Umat”. 

Peristiwa ini memang sudah terjadi pada Januari 1970, sehingga wajar jika ternyata ada anggapan bahwa gagasan sekularisasi di Indonesia sudah usang. Akan tetapi, saya memandang bahwa gagasan sekularisasi ini menjadi kembali penting ketika melihat situasi kondisi terkini.

Saya bersepakat dengan Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, bahwa pemikiran keislaman di Indonesia masih mengalami kejumudan. Kemunculan dai-dai tampak tidak cukup untuk memberikan pemahaman tentang ajaran Islam yang komprehensif. Bahkan, kerap kali dai-dai tersebut justru berhasil menimbulkan kegelisahan dan keresahan tertentu. 

Dengan demikian, lagi-lagi saya meminjam istilah Cak Nur bahwa pemikiran keislaman di Indonesia sedang kehilangan psychological striking force (daya tinju psikologis) yang tampaknya jawaban atas berbagai persoalan belum dapat ditemukan untuk beberapa tahun ke depan.

Proses identifikasi Islam dengan kekerasan atau terorisme kembali muncul ke publik seiring peristiwa bom bunuh diri beberapa waktu lalu. Hal ini tentu menjadi sebuah kesedihan tersendiri bagi umat Islam, karena ternyata masih ada beberapa saudara seiman yang bertindak demikian. 

Menganggap bahwa pengeboman diri sendiri dengan target orang yang tidak sepaham merupakan jihad fisabilillah. Selain itu, iming-iming surga, kebahagiaan dan nalar apokaliptik merupakan apa yang ada di belakang para penganut paham tersebut.

Pertanyaan kemudian muncul, bagaimana cara untuk menghentikan kedunguan (meminjam istilah yang sering digunakan Rocky Gerung) ini? Sosialisasi paham moderatisme Islam atau Islam moderat? Pengesahan RUU Antiterorsime? 

Semua pertanyaan itu memiliki jawaban masing-masing tergantung perspektif orang yang menjawab. Namun, bagi saya, karena saya bukan berlatar belakang politik dan hukum, maka saya menawarkan kembali gagasan sekularisasi sebagai upaya pemberantasan terorisme.

Mungkin beberapa pembaca akan merasa heran, jengah atau bahkan jengkel dengan gagasan ini. Akan tetapi, justru saya melihat bahwa apa yang terjadi pada mereka yang bernalar apokaliptik disebabkan sikap sakralisasi terhadap simbol-simbol keislaman. Dengan demikian, yang perlu dilakukan bukan hanya tindakan fisik saja, tapi juga tindakan pikir. Untuk tidak terlalu berbasa-basi, mari kita masuk ke gagasan utama tulisan ini.

Cak Nur, dalam tulisannya, menyatakan bahwa sekularisasi yang dimaksud olehnya adalah setiap bentuk liberating development. Liberalisasi yang diusung Cak Nur diperhadapkan dengan situasi di mana umat Islam tidak mampu lagi membedakan mana yang termasuk ajaran Islam dan mana yang termasuk peradaban Islam. 

Hal ini tentu tidak dapat dipisahkan dari kesejarahan umat Islam itu sendiri yang mana sakralisasi terhadap suatu ajaran atau pemahaman telah terdapat presedennya. Seperti yang dicontohkan sekaligus dikritik Fazlur Rahman terkait teologi atau kalam dalam Islam.

Rahman dengan tegas mengkritik bahwa hegemoni dan dominasi, terutama teologi Asy’ariyah dan fikih empat mazhab, mengakibatkan umat Islam mengalami kejumudan dan kebekuan berpikir. Dengan demikian, wajar jika banyak yang mengajak untuk kembali kepada preseden-preseden tersebut tanpa memiliki keinginan untuk berusaha meskipun mampu. Bahkan, terkait umat Islam yang ekstrem, menurut Azra, presedennya adalah kaum khawarij di masa klasik, Ibn Taimiyah di masa pertengahan, dan Wahabi di masa modern.

Berangkat dari uraian di atas, umat Islam masa kontemporer seharusnya paham bahwa segala preseden yang muncul pada masa lampau tidak akan terlepas dari nilai-nilai kesejarahan. Karena nilai kesejarahan itu memiliki unsur ruang dan waktu, maka keharusan berpikir progresif adalah sebuah keniscayaan bagi kaum muslim, seperti yang ditegaskan oleh Abdullah Saeed dan Omid Safi. Bukan justru terninabobokan oleh romantisme kejayaan masa lampau.

Kembali ke soal sekularisasi, menurut Tom Jacobs, sekularisasi dapat dipahami sebagai usaha pemurnian agama dan reaksi terhadap sakralisasi yang melampaui batas. Hal ini tentu menemukan korelasinya ketika dihubungkan dengan kondisi beberapa kaum muslim yang beraliran ekstrem. Mereka, di antaranya, selalu berteriak untuk melawan peradaban Barat, mendirikan khilafah atau negara Islam dengan salah satu tindakan untuk mencapai tujuannya adalah melakukan aksi teror.

Penanggulangan pemahaman seperti itu, saya kira tepat jika kita kembali membaca hasil kertas kerja Cak Nur. Dalam tulisannya, Cak Nur memberi kita langkah, yaitu intellectual freedom (kebebasan berpikir), serta idea of progress dan sikap terbuka. 

Dua langkah ini, hemat saya, jika dapat dikembangkan lebih lanjut dengan memperkaya referensi dan mengikuti arus perkembangan zaman, akan dapat menjadi solusi konkret bagi kehidupan yang lebih baik. Meskipun, terkadang sikap arogansi intelektual (meminjam istilah Mun’im Sirry), selalu saja bermunculan dari kalangan yang tidak sepakat, namun bukan berarti kita (atau saya sendiri) yang sepakat akan urgensi sekularisasi harus menutup diri dan tidak berdialektika dengan mereka yang berlainan.

Oleh sebab itu, sebagai penegasan sekularisasi yang mesti diusung, tentu dengan berbagai referensi yang lebih kaya, harus dimaksudkan sebagai menduniawikan nilai-nilai yang memang duniawi dan mengukhrawikan nilai-nilai yang ukhrawi. Ini yang biasa kita sebut pula dalam konsepsi Islam dengan adil. Menempatkan sesuatu pada tempatnya, proporsional.

Selain itu, jika dilihat dari pendekatan sosiologis, sekularisasi merupakan pembebasan masyarakat dari belenggu takhayul atau saya sebut dengan utopis dalam berbagai aspek kehidupan dan tidak berarti pengahapusan orientasi keagamaan dalam norma dan nilai kemasyarakatan.

Dengan demikian, bagi setiap muslim, sikap yang tepat adalah kesiapan mental untuk selalu menguji dan terus menguji nilai suatu ajaran di hadapan kenyataan-kenyataan material, moral, terutama historis. Bahkan, secara sosiologis, sekularisasi merupakan manifestasi pandangan manusia sebagai khalifatullah (wakil Tuhan), karena dunia dan alam diserahkan kepada kebebasan, kebijakan dan tanggungjawab manusia. 

Oleh karena itu, jika disederhanakan sekularisasi adalah pembebasan dari segala hegeomoni dan dominasi kejayaan masa lampau sebagai sikap beragama secara dewasa, beragama dengan penuh kesadaran dan pengertian, tidak hanya sekedar konfensional belaka.