Pendidikan adalah salah satu hal sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan akan menunjukkan serta menuntun kepada arah yang baik bagi setiap jiwa yang memahami maknanya. Pendidikan juga menjadi sebuah indikator kemajuan suatu peradaban. Bahkan, salah seorang filsuf bernama Rupert C. Lodge dalam Philosophy of Education berkata bahwa, "pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pendidikan". 

Meskipun tidak semua orang pro dengan pendapat di atas, tetapi harus diyakini jika pendidikan merupakan suatu kebutuhan. Untuk peran pendidikan dalam kehidupan wanita sendiri, masih banyak orang yang kontra akan urgensinya dan membungkus dengan alasan kodrat. 

Padahal, dalam berbagai sumber terkemuka banyak dijelaskan bahwa ilmu adalah hal yang wajib dituntut baik oleh laki-laki maupun wanita. Dan pendidikan bagi seorang wanita bukan hanya sebagai alat pencerdas wanita itu saja, melainkan juga sebagai alat pencerdas generasi yang lahir dari rahim mereka.

Di sekeliling saya sendiri, saya tak luput dari pertemuan dengan orang yang kontra akan pendidikan bagi wanita. Orang tersebut menggaungkan bahwa setinggi apapun pendidikan wanita, kodratnya adalah mengurus suami, anak, dan kebutuhan dapur pada akhirnya. Terlebih lagi pernyataan mengenai sudah ada suami yang akan menafkahi istri, saya sangat tidak setuju dengan argumen ini dalam memperkuat alasan kontra. 

Mengapa tidak setuju? Mungkin saya tidak lahir dari keluarga yang berhasil ditempa di perguruan tinggi ternama. Tetapi saya yakin bahwa saya lahir dan hidup di tengah keluarga yang tidak membatasi keinginan untuk terus mencari ilmu dan makna sebuah pendidikan. 

Saya kenal dekat dengan seorang wanita yang menginspirasi. Kedua orang tuanya hanya tamatan sekolah dasar dan pekerjaannya adalah buruh. Saya melihat seberapa kesulitannya wanita tersebut ketika harus meminjam beberapa hal yang dibutuhkan selama kuliah kepada kerabatnya, bahkan tak jarang ia harus menelan kata-kata remehan yang cukup menyakitkan hati. 

Saya salut dengan usaha kedua orang tuanya yang tidak kenal lelah untuk membayarkan UKT, membelikan anaknya sebuah laptop dan printer, juga membayarkan ongkos transportasi perkuliahannya. Hari demi hari berlalu, kini anaknya telah menjadi sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri dan bekerja di sebuah institusi yang memberikan pendapatan berlipat ganda dari pendapatan orang tuanya. Bahkan wanita tersebut menikah dengan lelaki yang tak kalah cerdas dengannya, teman sewaktu sekolahnya dahulu dimana menurut saya status sosialnya-pun sangat baik. 

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa berhati-hatilah membawa impian ke tempat yang salah. Tulisan ini benar, sebuah tempat akan diisi oleh berbagai macam karakteristik orang dan tidak semua dari orang tersebut akan mendukung impian kita, bahkan ada tempat dimana diisi sepenuhnya dengan 100% orang yang kontra. Untuk itu, carilah tempat paling aman untuk menggantungkan dan menceritakan segala impian, berkembanglah di sana.

Dalam hidup, semua manusia tentunya sangat butuh sandaran dan penunjang. Jika ada asumsi bahwa pendidikan tidak menjamin kehidupan, apa pernah mereka tahu makna dari pendidikan itu sendiri. Makna pendidikan bukan hanya tentang kepintaran belaka, tetapi juga soal kecerdasan, wawasan, pola pikir, kreatif, inovatif, penyeleksi baik buruk, dan penyelesai masalah. 

Guru IPA saya sewaktu SMP merupakan orang pertama yang tidak mendukung murid-muridnya untuk menjadi seorang yang pintar. Beliau mendorong kami untuk menjadi seseorang yang cerdas, cerdas, dan cerdas. Dengan begitu, wanita yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan diharapkan menjadi wanita cerdas yang tajam pola pikirnya, luas wawasannya, dan baik akhlaknya.

Bila dipikir lebih lanjut, bekal ini dapat membantu wanita untuk menunjang kehidupan karier, keluarga, serta dirinya sendiri. Kehidupan wanita akan sangat terbantu dengan hasil yang ia peroleh karena pendidikan, dan tentu juga bukan hanya ia sendiri yang dapat menikmati hasil jerih payah pendidikannya.

Berbicara mengenai apa saja yang dicari wanita dalam proses pendidikan, bukan hanya soal nilai yang berupa angka atau huruf, SKS yang dilewati, juga berapa banyak jurnal pengampu mata kuliah yang dibaca. Lebih jauh, banyak wanita yang terus mencari jati dirinya, siapa ia, apa kemampuannya, dan bagaimana kondisi dunianya. 

Selain itu, para wanita juga pasti belajar dari alam sekitar mereka, bukan dari buku-buku miliknya saja. Lewat alam sekitar, mereka akan mencari dan menyeleksi siapa saja manusia-manusia yang bisa dijadikan tempat berteduh untuk mereka kala suka duka menyelimuti hati. 

Seorang ibu tua renta yang berusaha memecahkan batu, cipratan air tanah saat hujan, serta wangi orang yang berbeda-beda juga akan membuat wanita belajar bagaimana cara menerima kehidupan ini, kehidupan yang tidak sempurna tetapi selalu menuntut untuk sempurna. Niscaya, hal-hal baik yang mereka cari akan menjadi sebuah keajaiban untuk dunia.

Realisasi dari proses pendidikan yang dijalani wanita erat kaitannya dengan tindakan yang dilakukan wanita. Dalam berteman, ia akan selaras hati dan akalnya untuk memilih siapa yang dapat berkawan dengannya, wanita tersebut paham teman yang baik akan memberi dampak yang positif juga untuk kehidupannya. 

Teman-temannya pula akan menjadi manusia yang menolong dalam masalah paling sederhana sekalipun. Tetapi biasanya, wanita seperti ini akan tetap terbuka dengan kehadiran orang lain di sisi mereka sebab setiap orang adalah pelajaran yang berharga. 

Dalam menjadi ibu, wanita berpendidikan bukan hanya seorang ibu untuk anak-anaknya, ia juga menjadi teman dan madrasah yang membantu anak untuk menganalisis kehidupan yang belum sepenuhnya dikuasai, pembelajaran yang diberi pada anak pun beragam ilmu dan sumbernya. Dengan begitu, berangsur-angsur anak paham bahwa kasih sayang seorang ibu tidak akan selalu sama, terus terperbaharui, dan terus berubah-ubah sesuai kebutuhan mereka. 

Jika kelak wanita menjadi seorang istri, wanita tersebut akan dapat memilah dan memilih laki-laki terbaik untuk dunianya, ia juga bukan hanya menjadi istri yang mengurus keluarga dan dinafkahi oleh suami. Lebih tepatnya ia akan menjalankan kewajiban untuk menyayangi keluarga dan mendapat haknya untuk dinafkahi oleh suaminya. Wanita tersebut akan menjadi tiang dalam rumah tangganya, jika tidak ada tiang tersebut, maka tidak mungkin terbangun sebuah rumah yang kokoh.

Setelah mengetahui poin dan tantangan apa dibalik pentingnya pendidikan bagi seorang wanita, mari berefleksi apakah kita sudah membantu meneguhkan hati seorang wanita atau wanita lain dalam perjalanan pendidikannya yang berliku. Ya, baik dukungan dari laki-laki maupun sesama wanita, keduanya sama-sama dibutuhkan sebagai tanda kasih sayang untuk seorang wanita yang sedang menapaki jalan pendidikannya. 

Selalu ingat bahwa pohon dari akar berupa pendidikan akan terus tumbuh memberi manfaat. Begitulah juga untuk wanita, meskipun nanti ia hanya menghabiskan waktu untuk mengasihi keluarga, ilmu yang ia dapat tidak akan pernah sia-sia. Ilmu miliknya akan bermetamorfosa dan abadi untuk buah hatinya.