Agama Islam merupakan agama yang diturunkan untuk seluruh umat manusia dengan tujuan agar manusia bisa mencapai kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Visi agama Islam sendiri adalah membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarki dan ketidak adilan atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan rahmatan lil ‘alamin

Hal ini senada dengan pendapat Siti Mailaha (2015), bahwa agama Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan keselamatan bagi umat manusia baik di dunia maupun diakhirat.

Terdapat beberapa pendekatan untuk memahami agama Islam, pendekatan ini bertujuan agar seseorang yang memahami agama Islam tidak terjebak dalam paham agama yang salah. 

Karena, akibat dari beberapa oknum yang kurang tepat dalam menentukan pendekatan untuk memahami agama, sehingga dari dulu hingga sekarang tidak jarang yang menganggap bahwa agama Islam bercorak anarki, penuh kekerasan, intoleran, dan ekstrem.

Bahkan, tidak jarang pula sekte-sekte atau aliran-aliran yang terdapat dalam agama Islam merasa hanya kelompoknya saja yang paling benar dan selain mereka adalah salah. 

Beberapa oknum inilah yang membuat Islam nampak jauh dari konsep Islam yang rahmatan lil alamin. Menurut Abuddin Nata (2018) bahwa kelompok-kelompok dalam Islam lebih cenderung menggunakan pendekatan teologis normatif saja sehingga antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya saling mengklaim dirinya yang paling benar dan hal ini sulit untuk didamaikan.

Begitu majemuk dunia ini serta begitu banyak macam-macam aliran dan kepercayaan menjadi tantangan tersendiri bagi umat manusia, yakni bagaimana agar mereka dapat hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain. 

Menurut Abdullah (2009) berbagai pendekatan sudah banyak dilakukan oleh agamawan-agamawan, seperti dialog keagamaan, seminar, dan pendekatan lewat jalur spiritual, namun sejauh ini implementasinya masih tersendat-sendat dan tak jarang hanya berhenti pada tataran kata-kata.

Untuk memahami agama Islam agar terciptanya konsep Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan mengedepankan toleransi pendekatan yang dibutuhkan bukan hanya pendekatan teologis normatif saja, karena jika hanya pendekatan ini yang digunakan, maka akan berdampak pada penganutnya, yakni jika yang dianut adalah teologi yang keras, maka para penganutnya pun akan bersifat agresif, sebaliknya jika yang dianut adalah teologi yang kalem, maka para penganutnya pun akan bersifat kalem pula. 

Hal ini senada dengan pendapat Mufidah (2017), bahwa jika hanya menggunakan pendekatan teologis normatife, maka akan berdampak sesuai dengan teologi mana yang diikuti, jika teologinya bersifat keras, maka penganutnya juga akan bersifat keras, dan sebaliknya.

Dari uraian diatas bukan berarti memahami agama dengan pendekatan teologis tidak diperlukan, karena menurut Abuddin Nata (2011) pendekatan teologis dalam memahami agama berfungsi untuk mengawetkan ajaran-ajaran agama. 

Namun, seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa masing-masing sekte keagamaan merasa paling benar sendiri dan bukan tidak mungkin hal ini dapat dikatakan mereka menganut dan meyakini agama yang mereka buat sendiri.

Lantas jika pendekatan teologis dirasa masih belum cukup dalam memahami agama, apakah memahami agama menggunakan pendekatan sosiologis sangat urgen dalam memahami ajaran agama, terlebih apakah pendekatan ini dapat meningkatkan sikap toleransi antar umat beragama? Sehingga ajaran-ajaran Islam tetap pada jalurnya, yakni Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Sebelum itu perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa pendekatan sosiologis merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk memahami agama, karena esensinya banyak kajian keagamaan yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat menggunakan bantuan ilmu sosiologi. 

Hal ini senada dengan pendapat Khoiruddin (2014), bahwa dengan bantuan ilmu sosiologi agama dapat dengan mudah dipahami secara tepat, karena agama sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial.

Pendekatan sosiologi dalam studi Islam bertujuan untuk memahami corak agama dan stratifikasi dalam suatu kelompok masyarakat, mengarahkan, dan menambahkan keIslaman yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat sesuai dengan ajaran agama yang mereka anut tercipta kedamaian serta agar tidak timbul gejolak serta tantangan antar kelompok. 

Menurut Maulana Ira (2022) bahwa memahami agama melalui pendekatan sosiologis sangat signifikan, karena kegunaannya adalah dapat membantu seseorang memahami fenomena sosial yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah.

Selanjutnya pentingnya pendekatan sosiologis dalam memahami agama, karena banyak sekali urusan-urusan agama yang berkaitan dengan urusan sosial. Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa selain pendekatan sosiologis bertujuan agar seseorang tidak terjebak dalam paham agama yang salah, menurut Ishak (2013) ketika muncul teori kontroversial yang dikemukakan oleh sarjana Barat bernama Clifford Geertz pendekatan sosiologis inilah yang berperan penting dalam menghalau teori yang bersifat tendensius tersebut.

Jika mengacu pada uraian di atas, pendekatan sosiologis dalam memahami agama sangat relevan dan sangat signifikan jika diterapkan di dunia saat ini, sebab dunia saat ini tidak lagi terkotak-kotak seperti halnya dahulu. 

Dunia saat ini lebih cenderung mengedepankan kerukunan dan saling kerjasama antar umat beragama (toleransi). Selain itu menurut Jalaluddin Rahmat yang dikutip oleh Abuddin Nata (2011) terdapat beberapa alasan mengapa pendekatan sosiologis ini sangat relevan, yakni:

Pertama, Alquran dan Hadits yang menjadi sumber rujukan utama umat Islam sendiri proporsi terbesar kedua adalah urusan sosial, serta ayat-ayat Al-Quran sendiri dapat diketahui perbandingan antara ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan muamalah (masalah sosial) ibarat satu banding seratus, yang satu adalah ayat-ayat tentang ibadah dan yang seratus adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan urusan muamalah. Bahkan dalam QS. Al-Mukminun ayat 1-9 diantaranya menjelaskan bahwa ciri-ciri orang mukmin adalah mereka yang mampu menjaga amanat dan janjinya.

Kedua, ditekankannya urusan muamalah dalam Al-Quran, karena pada realitanya jika suatu ibadah berbarengan dengan urusan muamalah, maka ibadah tersebut boleh ditangguhkan, namun bukan berarti ditinggalkan, melainkan dengan tetap dikerjakan.

Ketiga, dalam ajaran Islam pada hakikatnya ibadah yang mengandung unsur kebersamaan diberi ganjaran lebih besar dibanding dengan ibadah yang hanya dikerjakan perseorangan. 

Dalam hal ini seperti shalat yang dikerjakan secara berjamaah lebih tinggi derajatnya dibanding dengan shalat yang dikerjakan secara munfarid.

Keempat, dalam ajaran Islam jika suatu ibadah batal karena melanggar aturan tertentu, maka terbusannya atau kafaratnya adalah dengan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan masalah sosial, seperti ketika seseorang telah melanggar larangan ketika berpuasa, maka tebusannya adalah dengan membayar fidyah dalam bentuk memberi makan fakir miskin

Kelima, dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa amal baik yang berkaitan dengan masalah sosial akan mendapat ganjaran yang melebihi ganjaran ibadah sunnah, seperti jika seseorang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin, maka pahalanya sama seperti orang yang berjuang di jalan Allah.

Dengan melihat urian dan data-data di atas, maka memahami agama melalui pendekatan sosiologis dapat dikatakan sangat urgen dan dinilai meningkatkan sikap toleransi antar umat beragama, karena pada esensinya Al-Quran dan Hadits sendiri lebih menekankan urusan yang berkaitan dengan masalah sosial dibanding dengan masalah ibadah.