Waktu itu, saya mengamati Pak Djamaludin sumringah setelah Indonesia memastikan membawa pulang Piala Thomas yang sudah 19 tahun tour mancanegara. Beliau termasuk salah satu mantan atlet bulutangkis yang pertama kali memboyong pulang Piala Thomas Tahun 1964.

Sebagai teman seangkatan Tan Joe Hock dan Ferry Soneville, wajar kalau beliau senyam-senyum sambil terlihat berkaca-kaca. Sesekali saya perhatikan beliau menarik napas panjang, seperti sedang mengulang kenangan.

“Ah, mudah-mudahan ada penghargaan dari negara,” begitu katanya.

Alis mata saya terangkat mendengar kalimat Pak Djamal. Saya pikir dengan menjadi juara, sudah otomatis dapat penghargaan. Medali, plakat, uang, dan bonus-bonus yang membanjir. Belum lagi kalau diarak keliling ibu kota pakai voorijder.

Seketika saya mengamati rumah Pak Djamal yang berlokasi di Kota Bandung. Di carport rumahnya terparkir mobil Toyota dengan logo masih berupa tulisan kapital ‘TOYOTA’. Kalau mau dijual, barangkali hanya bisa ke kolektor. Kalau tidak, terpaksa di-kilo.

Kata Pak Djamal, mobil itu hadiah dari Presiden Soekarno. Dan hanya itu saja. Karena sampai di usianya yang sekarang sudah lewat 80 tahun, boro-boro sejumlah uang, untuk sang pahlawan. Kalau nggak main ke rumahnya, mungkin saya juga nggak tahu kakek-kakek itu siapa.

***

Di tengah tanda tanya atas penghargaan kepada para atlet, ada kehebohan lain di jagat maya tentang rencana pemberian nama jalan di Jakarta dengan Mustafa Kemal Ataturk. Di tengah polemik, salah satu alasan yang mengemuka adalah penghargaan.

Turki sudah menghargai Indonesia, maka sudah sepantasnya Indonesia pun melakukan hal serupa. Hubungan bilateral yang ‘sudah bagus’ antara Indonesia dan Turki, akan dipermulus dengan pemberian nama jalan Ataturk.

Hal tersebut diyakini juga sebagai sebuah etika politik, untuk membalas kebaikan Turki yang sudah menyematkan nama ‘Ahmed Sokarno’ menjadi nama jalan di sana. Lha masalahnya, hubungan bilateral yang bagus ‘kan bukan hanya dengan Turki saja.

Apalagi kalau sekadar untuk saling balas nama jalan, ‘Soekarno’ juga ada di Maroko, Pakistan, Meksiko, bahkan Mesir. Apa iya suatu saat kita juga akan punya Jalan Firaun?

Saya kok lebih sreg kalau Indonesia ini tidak terlalu membiarkan budaya ‘nggak enakan’. Alih-alih menunjukkan balas budi, justru negara kita tampak sedang ditaburi nama-nama orang asing yang juga asing di telinga dan lidah lokal.

Lagipula, katanya nama ‘Ahmed Sokarno’ penghargaan, tapi kok nyatanya nggak gratis. Kenapa bukan Jalan Eko Yuli, Jalan Ginting, Jalan Nurul Akmal, atau bahkan Jalan Djamaludin. Semuanya Indonesia banget, daripada jalan mister nganu yang kalau diucapkan malah sering meleset.

Selain itu, nama-nama asli Indonesia itu, mungkin, juga bisa membuat anak keturunannya bangga ketika suatu saat melintas ke jalan tersebut. Kita makan nasi goreng yang di jalan eyang, yuk.

Okelah, kalaupun bidang olahraga tidak dianggap pahlawan. Lalu, adakah nama jalan dengan presiden-presiden kita yang lain? Sengaja saya merambah Google, ternyata mau mengangkat nama Jalan BJ. Habibie yang sudah jelas-jelas besar jasanya bagi bangsa, kajiannya pelik sekali. Apalagi Jalan Soeharto.

Kalaupun tidak mau repot mengundi nama siapa yang pantas, kenapa tidak dipermudah seperti di belahan Amerika sana, yang memberi nama jalan sesuai dengan gedung terdekat di situ. Jalan melintang disebut Avenue, jalan membujur disebut Street. Udah gitu aja, tinggal diberi nomor.

Di Kanada, sebuah persimpangan di Saskatoon diberi nama Ahmadiyya Crescent. Seperti juga persimpangan di New York dengan nama Ahmadiyya Way. Alasannya simpel, karena ada masjid besar milik komunitas Ahmadiyah di persimpangan Range Road 3050 itu.

Selain alasan pemilihan nama jalan yang sederhana, hal itu juga akan memudahkan pengguna jalan menghapalkan nama jalan. Sama sekali tidak ada kepentingan apapun termasuk dalam urusan berkeyakinan.

Bayangkan kalau hal itu terjadi di Indonesia. Jalan Raya Parung-Bogor diganti dengan nama Jalan Markaz Ahmadiyah. Wah, barangkali pergulatan tentang toleransi beragama di Indonesia akan memulai babak baru gara-gara nama jalan. Dan usulan nama berikutnya adalah Jalan Habib.

Kisah Pak Djamaludin membuyarkan membuat pikiran saya semakin nggrambyang, membayangkan nasib pahlawan olah raga yang mungkin bernasib sama. Bangsa ini kok seperti kacang lupa kulitnya.

Ada seorang atlet lari yang kini jualan teh botol di GBK. Pebulutangkis senior yang terpapar cancer dan harus menunggu instruksi pejabat baru diperhatikan nasibnya. Juga tak sedikit dari mereka yang jual medali karena merana di hari tua.

Apakah seperti ini yang namanya 'pelajaran rendah hati' ala negara kita? Seseorang harus rela tidak dihargai meskipun sudah besar jasanya. Sementara ada orang lain yang entah siapa, baru datang langsung disematkan tanda jasa di dadanya.

Melelahkan. Demikianlah, hidup di negara yang orang-orangnya nggak enakan ke negara lain, tapi bodo amat ke negeri sendiri.