Liburan sekolah semester genap tahun pelajaran 2018/2019 telah berakhir. Hari ini anak-anak bangsa, generasi penerus negeri ini, telah berada di sekolah untuk memulai tahun pelajaran baru. Beragam pengalaman telah mereka cicipi di masa liburan.

Liburan sekolah semester genap tahun ini memang lumayan panjang. Meski panjang, tapi terasa sangat pendek karena ia merupakan masa yang datangnya langka, hanya satu tahun satu kali. Ia selalu ditunggu, dirindu, dan disambut gembira oleh mereka.

Bagi mereka, masa liburan sekolah adalah momentum berharga dan teramat mahal. Mereka lumayan lama bisa terbebas dari hiruk pikuk proses pembelajaran yang normatif. Mereka bisa sejenak istirahat untuk meregangkan otot-otot otak yang sudah tegang dan kaku.

Kini, mereka akan memulai pengalaman baru dan seru, kembali bergelut dengan buku dan para guru. Hari pertama sekolah, di satu sis, adalah hari yang biasanya membuat anak-anak sekolah malas melakoninya. Hal ini berlaku bagi mereka yang sudah bersekolah di tempat yang sama.

Namun, di sisi lain, bagi mereka yang perdana mengenyam sekolah di tempat yang baru akan terasa sangat bersemangat dan berapi-api. Hal ini karena mereka akan mendapatkan pengalaman baru; mempunyai teman baru, guru baru, lingkungan baru, dan seterusnya.  

Bagi sebagian orang tua baru, termasuk saya, menghadapi tahun pelajaran baru dan hari pertama sekolah merupakan pengalaman baru yang tak terduga. Tak terasa, dulu disekolahkan orang tua, kini sudah tiba saatnya menyekolahkan anak sulung. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa para orang tua di masa-masa seperti ini terlihat sangat sibuk menyiapkan segala kebutuhan mereka.

Seminggu sebelum masuk sekolah, saya sudah memastikan bahwa seluruh kebutuhan si kecil tak ada yang tertinggal, mulai dari alat-alat tulis, tas, seragam sekolah, hingga biaya-biaya yang tak terduga. 

Semua hal di atas dilakukan dalam rangka menyemangati anak-anak bangsa untuk meraih kesuksesan di masa yang akan datang. Pendidikan di negeri ini harus dibangun oleh anak-anak bangsa yang cerdas dan berbudi. 

Toleransi dalam Pengenalan Lingkungan Sekolah

Bagi peserta didik baru, hari pertama sekolah biasanya tak langsung dimulai dengan pembelajaran efektif. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, biasanya mengenalkan lingkungan terlebih dahulu kepada mereka, mulai dari tempat belajar, manajemen sekolah, kegiatan ekstra kurikuler, para pengajar, hingga hal-hal terkecil yang berkaitan dengan lingkungan sekolah.  

Hal tersebut sangat penting secara psikologis bagi mereka. Mereka harus mengenal terlebih dahulu yang kemudian mereka akan merasa enjoy. Ada satu adagium yang cocok untuk kondisi ini, yakni “tak kenal maka tak sayang”.

Sekolah sebagai tempat untuk memberikan pembelajaran bagi generasi penerus bangsa ini harus nyaman secara jasmani dan rohani untuk mewujudkan tujuan pendidikan ideal yang dicita-citakan negeri ini.

Salah satu hal penting yang harus disampaikan dalam masa penegenalan lingkungan sekolah (MPLS), selain lingkungan sekolah sebagai tempat peserta didik untuk bergumul, beraktivitas dan berkreasi, ada satu tema penting yang harus disampaikan di tengah polarisasi pascapilpres, yaitu toleransi.    

Jika kita lihat peta atau gambaran mutakhir soal toleransi dalam lembaga pendidikan di Indonesia, terlihat hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta tahun 2018 terhadap 2.237 guru muslim TK hingga SMA di Indonesia menunjukkan, lebih dari separuh atau 56,9 persen (6,03 persen sangat intoleran, 50,87 persen intoleran) beropini intoleran terhadap pemeluk agama selain Islam.

Data di atas menggambarkan ada celah dalam pendidikan kita yang membutuhkan perhatian serius. Celah tersebut tak lain adalah intoleransi. Kondisi demikian jika, tak ditindaklanjuti secara serius, akan merambat dan pada akhirnya menjadi persoalan bersama yang harus diatasi secara cepat, tepat, dan tangkas.

Dalam konteks di atas, sekolah sebagai miniatur masyarakat di mana anak dipersiapkan untuk masuk dalam kehidupan masyarakat, maka pendidikan mesti relevan bagi kehidupan sosial. 

Masa orientasi peserta didik untuk mengenal lebih jauh terhadap lingkungannya merupakan media paling strategis, cocok, dan relevan untuk mengenalkan sekaligus menanamkan sikap toleran terhadap sesama yang berbeda suku, bahasa, agama, dan seterusnya.

Peran guru, narasumber, pembicara, serta siapa pun yang terlibat dalam orientasi ini menjadi kunci sukses mengampanyekan nilai-nilai serta sikap toleransi ini. Banyak cara dan metode yang bisa dilakukan oleh mereka.

Sebagai contoh sederhana, misalnya, instruktur membuat beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari peserta didik yang berbeda agama, suku, atau latar belakang lain yang berbeda. Kemudian mereka mendiskusikan pentingnya kebersamaan dalam keragaman. Selanjutnya, mereka disuruh untuk mengambil nilai-nilai positif dari sebuah kebersamaan.

Masih banyak contoh lain yang bisa dibuat, yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik yang berada di tingkat pendidikan masing-masing. Peran pihak sekolah, terutama guru atau pembina OSIS, khususnya, mempunyai peran vital untuk menciptakan contoh model atau semacam role model pendekatan untuk tema toleransi.      

Pada dasarnya, pendidikan toleransi bertumpu pada dua ranah yaitu pada ranah teoretis dan praktis. Ranah teoretis adalah pengetahuan tentang toleransi, sedangkan ranah praktis berwujud interaksi dengan yang berbeda keyakinan maupun pandangan (liyan).

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Masyarakatnya yang berbeda dalam berbagai aspek adalah tantangan sekaligus kekayaan yang dimilikinya. Hidup rukun, damai, dan harmonis menjadi kebanggaan bersama bangsa ini. Jangan sampai kebersamaan tersebut berakhir hanya karena mempersoalkan perbedaan.

Setidaknya, ada dua problem mendasar yang mengakibatkan bangsa ini terancam bubar dan cerai-berai. Pertama, pengetahuan masyarakat sangat minim tentang pentingnya menjaga, melestarikan, dan menjunjung tinggi toleransi di tengah merebaknya polarisasi yang kuat dan dahsyat yang tercipta pascapilpres atau pileg kemarin. 

Kedua, peran negara dalam menanamkan, menyosialisasikan, dan membumikan Pancasila sebagai dasar bernegara.

Menghormati dan menyayangi orang lain yang berbeda dengan kita adalah obat mujarab menetralisasi segala perbedaan tersebut. Toleransi itu indah dan kuat. Toleransi itu menghormati dengan cara aktif, termasuk membela orang yang dizalimi hak-haknya.

Mulailah dengan mengajarkan kepada peserta didik kita, sebagai generasi penerus bangsa ini, tentang pentingnya sikap toleransi di lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan usia dini, dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi. 

Selamat melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bagi seluruh sekolah di wilayah Indonesia. Tanamkan nilai-nilai toleransi dan sikap toleransi kepada peserta didik untuk Indonesia yang toleran, rukun, dan damai.