Dalam pembahasan mengenai epistemologi yang termasuk bagian dari diskursus tentang filsafat saya menemukan cara unik meneguhkan keimanan seorang hamba yang sebelumnya lebih kuat dengan dominasi dogma-dogma agama atau doktrin-doktrin yang berasal dari kitab suci atau sumber kuat lainnya tanpa melibatkan porsi akal secara nyata atau berimbang.

Hal ini saya nyatakan bukan berarti menganyampingkan agama tapi justru menguatkan atau menegaskannya secara lebih mantap dan tetap, mindset banyak orang terkadang agak miring tentang filsafat yang banyak digunakan untuk dekonstruksi keimanan seorang yang beriman, bukan malah untuk merekonstruksi kepercayaan yang sebenarnya bisa dilakukan dengan baik tanpa meluluh-lantahkan dali-dalil kuat dari sumber wahyu.

Sebagaimana ilmu pengetahuan, agama sebagai objek studi juga harus ilmiah artinya bersifat rasional dan empiris dalam cara memahaminya baik bagi pemeluknya (internal) maupun dari pihak eksternal yang tertarik pada ajaran tertentu. 

Agama secara ritual dan kepercayaan memang boleh saja ditelan mentah-mentah dengan ditaati secara buta dalam bentuk ketaatan dan menghambakan diri pada Tuhan, namun memahaminya secara baik dengan pemahaman yang mantap akan lebih afdhol sebab lengkap dengan cara beragama yang lebih inklusif. Meskipun kita akui bersama akal pun memiliki kekurangan yang tidak semua objek lapangan studi agama bisa ditempuh dan dicapai oleh pikiran.

Dalam mempertanyakan eksistensi Tuhan termasuk dalam kajian epistemologi kritis sebab dimulai dengan kritisme atau pertanyaan yang butuh pembuktian secara kongkret, namun karena keterbatasan akal kita mesti memahaminya dengan analogi yang diperkecil atau diturunkan pada contoh-contoh yang mudah dimengerti. 

Sebelum masuk kesana, alangkah baiknya kita memahami cara mengakui keberadaan sesuatu itu harus melalui beberapa tahap yang nantinya akan berkait-berkelindan satu sama lain saya sendiri menyebutnya triangle rasio-empirisme, yaitu tahap realitas atau fakta, konsep atau idea, dan term atau kata. Dalam mempergunakan tiga hal ini tentu saja menggunakan proses atau metode tajribi (observasi atau eksperimen) yang berarti pengamatan indrawi.

Misalnya kursi, secara realitas dan fakta ia memang ada sebagai tempat duduk yang berkaki empat, secara konsep atau idea ia mulai masuk dalam pikiran atau alam ideal manusia yakni tashawwur membentuk gambar kursi meski dengan memejamkan mata, secara term maka terbentuklah 5 huruf yaitu k-u-r-s-i, maka kita bisa mengakui eksistensi kursi. 

Contoh lain adalah kentut, secara realitas dan fakta ia mampu dideteksi oleh indra penciuman dan terkadang pendengaran, kemudian meng-idea di alam pikiran manusia yakni membayangkan aroma kentut meski kita menutup hidung dan terbentuklah term k-e-n-t-u-t, maka kita pula dapat mengakui keberadaannya secara empiris dan rasional. Begitu pula dengan hal-hal kongkret yang lain seperti garam, gula, pohon, rumah, buku dll atau hal-hal abstrak seperti rasa asin manis pedas, dan yang lebih abstrak seperti rasa cinta, rindu, kecewa, cemburu, marah dsb.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengakui Tuhan yang kita hanya menemukannya dalam terma (dalam hal ini sebagai Muslim yaitu term “Allah” dalam kitab suci al-Quran), tapi –karena keterbatasan akal dan indra- tak berpengalaman dalam menemukannya di realitas/fakta dan akhirnya tak membentuk konsep yang meng-idea dalam pikiran kita?.

Pertanyaan ini pada awalnya adalah pertanyaan yang mengusik atau mengganggu aqidah kita sebagai muslim, apakah ini ujian keimanan dalam kepercayaan kita?, sehingga kemudian kita pun harus kembali mencari jawaban dalam rumusan-rumusan yang dibuat ajaran Islam terkait Tuhan agar kita bisa menyembah sesuatu yang rasional dan empiris.

Rumusan yang saya temukan dalam Islam adalah definisi Ihsan yakni “an ta’buda Allaha ka-annaka taraa-hu, fa in lam takun taraa-hu, fa-innahuu yaraa-ka”, hendaknya kamu sebagai hamba ketika menyembah Allah bayangkan seakan-akan kamu sedang benar-benar melihat-Nya, maka jika kamu tak mampu melihat-Nya, yakinilah bahwa Dia benar-benar sedang menyaksikanmu” (faiz: sedang beribadah, sholat misalnya).

Rumusan yang kedua adalah firman Tuhan sendiri dalam al-Quran “Laisa Ka-Mitslihii Syai-un” (Tak Ada yang Menyerupai Dia -Tuhan-, sesuatu apapun jua) dan Rumusan ketiga adalah Hadits Nabi Saw. “Man Árafa Nafsahu faqad árafa Rabbahu” (Siapa saja yang mengenal dirinya maka ia benar-benar telah mengenal Tuhannya).

Penjelasan mudahnya adalah mari kita analogikan bahwa ada 3 person A B dan C, A sedang sendirian di satu tempat, B dan C sedang bersama-sama di tempat lain, A dan B sudah saling kenal dengan baik begitu pula B dan C, namun A dan C itu belum saling mengenal dan belum pernah saling bertemu tatap muka. Lalu terjadi panggilan telfon antara A dan B, terjadi percakapan panjang dan akhirnya B ingin memperkenalkan C (yang sedang bersamanya) kepada A yang jadi lawan panggilannya di tempat lain.

B menyatakan kepada A “perkenalkan ini C sedang bersama saya ini kawan saya juga” dan berkata pada C “ini saya sedang ngobrol dengan A disana, dia ingin mengenal anda”. Kemudian handphone tersebut diserahkan kepada C, si A langsung berkata “hai saya A, ini C kan” dari situ mereka sudah saling mengenal.

Kita analogikan secara mudah bahwa kita manusia sebagai seorang Hamba adalah A, Al-Quran dan Nabi Muhammad sebagai B yaitu saksi kredible dimana dalam isra’ wal mi’raj beliau berjumpa langsung dengan Dzat Allah, lalu C sebagai Tuhan Kita atau Term Allah yang kita temukan dalam Kitab Suci al-Quran dan dirisalahkan kepada Rasulullah.