Dunia hari ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Teknologi dan mesin-mesin canggih seakan menjadi “Denyut Nadi”-nya.  

Melihat realitas secara alamiah, kita tak lepas dari hegemoni teknologi. Kuatnya perkembangan arus teknologi membuat manusia membangun hidup di dua dunia, yaitu yang nyata dan digital. Lihat saja pada pelbagai belahan dunia (sekitar 90%), teknologi menyentuh di setiap lini kehidupan masyarakat—baik sosial, politik, budaya, pekerjaan, dan usaha.

Digitalisasi membuat manusia mau tidak mau harus menguasai teknologi informasi. Mengingat, pentingnya teknologi yang dapat mempermudah aktivitas (pekerjaan sehari-hari manusia). Bahkan seluruh wilayah di planet bumi dapat kita lihat melalui Google Maps atau sejenisnya. Ini menandakan teknologi seakan telah membungkus bumi dan menjadi lapisan raksasa yang bisa kita lihat dan rasakan menggunakan sarana empirik (pengalaman inderawi).

Dahulu, teknologi hanya digunakan sebagai alat untuk sensus penduduk dan kepentingan militer. Namun saat ini, teknologi seakan lebih pintar dari kita. Buktinya, di sebuah komputer yang ter-install Game Catur, manusia bisa dikalahkan dengan sistem alogaritma buatan manusia itu sendiri. Artinya, kita bisa kalah dengan game catur yang ada di dalam komputer tersebut.

Keadaan masyarakat Indonesia dalam penguasaan “Literasi Digital” masih sangat lemah. Buktinya, banyak pengguna aktif yang berselancar di media sosial membagikan konten-konten secara masif tanpa mempertimbangkan kebenaran konten tersebut. Bahkan masyarakat kita mudah tertipu oleh kedok penipuan yang disebar di media sosial ataupun menggunakan telepon dan SMS.

Selain itu, kejahatan siber (Cybercrime) di media sosial sangat banyak dijumpai. Pada 2016 saja, tercatat hampir 1.200 kasus kejahatan Cybercrime yang ditangani oleh pihak penanganan kejahatan siber yang dibentuk oleh Kepolisian Negara Indonesia. Ini menandakan rendahnya literasi digital pada masyarakat Indonesia dan perlu adanya edukasi khusus.

Secara realitas, penulis menemukan banyaknya berita hoaks yang disebar di media sosial. Bahkan, kita bisa temukan di Twitter, Whatssapp, Facebook, arus berita hoaks sangat mendominasi.

Apalagi pada perhelatan pemilu beberapa bulan yang lalu, sangat banyak berita provokasi, isu SARA, dan penghinaan secara membabibuta bisa kita temukan secara nyata. Akibatnya, banyak masyarakat yang belum menguasai “literasi digital” gampang terpengaruh konten-konten hoaks yang tersebar di media sosial dan langsung membagikannya tanpa mengecek langsung validitas konten tersebut.

Memang hoaks ini tak dapat kita tutup kerannya. Badan siber pun kewalahan menangani hal tersebut.

Ketika beberapa akun anonim di media sosial yang menyebar berita hoaks di blokir, muncul lagi akun-akun anonim lain yang lebih banyak dari itu. Dan isu hoaks menjadi pencegahan tersulit di dunia Internasional saat ini. Apalagi Indonesia menjadi negara teratas kedua pengguna yang aktif di media sosial. Hingga sangat rentan menyebarkan isu hoaks, jika tak ada bekal dalam “literasi digital”.

Perlu diketahui,literasi digital merupakan cara cerdas, bijak, kritis dalam menggunakan media digital. Media digital yang dimaksud yakni media-media vital seperti media sosial dan konten-konten dalam blog atau website yang melingkari aktivitas sosial masyarakat yang aktif di dunia virtual.

Secara garis besar, sarana virtual menjadi basis baru interaksi sosial di zaman sekarang. Bahkan, akhir-akhir ini orang-orang cenderung lebih menghabiskan waktunya di dunia virtual ketimbang di dunia nyata. Sehingga dapat berdampak pada kondisi psikis seseorang jika terlalu lama berselancar ria di dunia virtual; khususnya media sosial, situs belanja, serta web dan blog.

Dampak psikis teknologi ditimbulkan akibat terlalu lama berselancar dan mengonsumsi berita-berita hoaks. Akibatnya, seseorang cenderung memiliki sifat malas, mengabaikan orang di sekitarnya, bahkan akan memiliki sifat keras terhadap orang lain sebagai akibat mudah percaya terhadap berita hoaks. Selain itu, waktunya cenderung terbuang sia-sia (jika tidak menggunakan teknologi secara produktif, tapi konsumtif).

Masifnya penyebaran hoaks melalui media digital membuat para pemikir dan beberapa orang menyebut era ini sebagai "Post-Truth". Meminjam gagasan Fahruddin Faiz, "Post-Truth adalah era Pasca-Kebenaran. Di mana secara sederhana disebut kebohongan, namun orang-orang cenderung lebih suka menyebutnya 'Post-Truth' dibandingkan kebohongan”.

Namun perlu diketahui bahwa hoaks adalah bagian dari Post-Truth. Post-Truth adalah instrumen terbesarnya—kebohongan.

Digitalisasi juga berdampak pada pekerjaan sehari-hari manusia. Semisal, dahulu proses pengangkatan barang-barang yang terdapat dalam kapal masih menggunakan tenaga manual, yaitu otot manusia. Ketika hadirnya teknologi, tenaga manusia tersingkirkan secara perlahan-lahan, digantikan dengan teknologi crane—sebuah alat yang mampu mengangkat ribuan ton barang yang hanya dikendalikan oleh seorang manusia, cukup dengan menekan tombol-tombol dan pegas serta duduk santai di dalamnya.

Sejak 1900-an, mengirim surat masih menggunakan jasa Pos Indonesia. Saat hadirnya teknologi, orang-orang cukup menuliskan pesan yang ingin disampaikan beserta nomor tujuan yang ingin dikirimi surat menggunakan sarana ponsel. Suratnya bisa diterima sepersekian detik, tanpa menunggu berhari-hari seperti mengirim secara manual di Kantor Pos.

Penulis mengatakan, era sekarang merupakan era matinya "Otot" dan "Jarak". Karena tenaga manusia tak lebih diutamakan lagi dan jangkauan jarak bisa kita genggam dengan teknologi yang berbasis sebuah alat. Sehingga, memungkinkan kemudahan dalam beraktivitas sehari-hari tanpa ada sekat dan kendala utama yang menghalangi.

Bahkan Jepang pun saat ini lebih fokus pada pembangunan Society 5.0 yang ditandai dengan dipublikasikannya sebuah iklan sekitar setahun yang lalu di jejaring Youtube. Yang memperlihatkan kehidupan manusia masa depan dengan serba-digitalnya.

Penulis melihat dalam iklan itu sebuah Drone yang saat ini digunakan sebagai alat perekam video. Drone, pengembangannya, digunakan sebagai sarana pengantaran makanan, menggantikan kurir pengantar makanan saat ini seperti Grab, Gojek, dll.

Selain itu, kita lihat sekarang, City Scan adalah teknologi pintar yang bisa mendeteksi pelbagai macam penyakit tertentu manusia. Ini memungkinkan secara perlahan-lahan akan mematikan profesi dokter. Karena sudah secara riil tersedianya teknologi canggih tersebut.

Kita semua tahu bahwa hadirnya digitalisasi di masa kini dapat membawa harapan positif lebih banyak ketimbang hal-hal yang berbau negatif. Namun sebaliknya, kita harus menahan “pil pahit” dulu. Sebab, rendahnya penguasaan teknologi dan digitalisasi di masyarakat.

Tugas kita—generasi produktif (millenial)—harus mengedukasi literasi digital. Pentingnya edukasi literasi digital di masyarakat dapat menurunkan korban kejahatan siber di dunia maya. Sehingga penggunaan teknologi secara cerdas dapat diwujudkan dan Indonesia mampu menuju pada tahapan selanjutnya—menciptakan masyarakat yang secara mandiri bersaing dalam wujud nyata penciptaan sarana digital baru.