Jamak di antara kita sudah mafhum dengan situasi dan kondisi global saat ini. Pengaruh globalisasi sudah menjamah setiap sendi dan sudut kehidupan. 

Tak bisa dimungkiri, ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat berkembang. Pesan makan, transportasi, dan kebutuhan sandang sudah bisa dengan seonggok gawai. Bahkan masalah keuangan yang begitu urgent bisa terselesaikan dengan adanya pinjaman online. 

Maraknya e-commerce dan financial technology tersebut menjadi bukti bahwa era sekarang sudah berubah.

Dengan perubahan era yang terjadi, segala sesuatu yang awalnya di dunia nyata kini sudah bergeser ke dunia maya. Bergesernya segala aktivitas manusia menandakan bahwa kita sudah berada pada era disrupsi. Era disrupsi merupakan fenomena ketika generasi yang hidup saat ini menggeser segala aktivitas dan kegiatannya ke dunia maya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, mulai dari pasar, bimbingan belajar, konsultasi dokter, konsultasi hukum, pinjaman uang atau dana, semuanya sudah beralih ke dunia maya. Segala sesuatu sudah bisa terselesaikan dengan adanya telepon pintar (smart phone).

Ilmu pengetahuan dan teknologi menyumbangkan dampak yang paling besar di era disrupsi ini. Dampak tersebut diibaratkan pisau: kita bisa menggunakannya untuk kebaikan beserta keuntungan darinya, akan tetapi kita bisa menggunakannya untuk kejahatan. Begitu juga sebaliknya, kita sendiri juga akan mendapatkan kerugian.

Dunia pendidikan di era disrupsi

Dunia pendidikan tidak luput dari dampak masuknya era disrupsi ini. Saat ini, bimbingan belajar pun bisa melalui dunia maya. 

Sebagai salah satu contohnya, yaitu munculnya startup dengan brand Ruangguru. Startup tersebut melabelkan diri sebagai startup teknologi dan pendidikan terbesar di Indonesia. Oleh sebab itu, penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan, mau tidak mau, sudah harus mulai dikenalkan.  

Dalam menghadapi era disrupsi, dunia pendidikan, utamanya adalah sekolah, harus mengambil langkah bijak. Langkah tersebut untuk membekali siswa agar tidak tersisihkan di era yang penuh dengan tantangan ini. Bahkan langkah yang diambil haruslah yang mampu memberikan pemahaman agar siswa bisa menggunakan dan memanfaatkan teknologi yang ada untuk kebaikan masyarakat, bangsa, dan negara.

Memberikan literasi yang paripurna kepada siswa bisa menjadi langkah yang bijak untuk diambil. Literasi yang paripurna tidak hanya sebatas literasi bahasa saja atau biasa kita kenal sebagai literasi baca-tulis. Literasi yang paripurna mencakup enam macam literasi,, yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan.

Literasi di era disrupsi

Literasi baca-tulis merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi. Informasi tersebut bisa berwujud dalam berbagai bentuk: bisa dalam bentuk ilmu pengetahuan maupun informasi berita dari berbagai media massa, utamanya yang berkembang di dunia maya.

Pengetahuan dan kecapakan baca-tulis di atas akan mendukung anak untuk mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta. Hal tersebut juga untuk menghindarkan anak-anak terpapar berita bohong atau hoaks.

Dua kemampuan literasi di atas juga sangat berguna untuk anak dalam mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial agar dapat meningkatkan kesejahteraannya, baik individu maupun sosial, serta agar dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. 

Kemampuan finansial tersebut harus juga didukung dengan kemampuan mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam berpartisipasi dalam lingkungan sosial masyarakat sehari-hari, anak harus memiliki kemampuan dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa. Kemampuan tersebut merupakan kemampuan yang bisa dikembangkan dengan literasi budaya dan kewargaan.

Yang terakhir dan yang paling penting di era disrupsi ini adalah pengetahuan dan kecakapan anak untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam hidup dan kehidupannya, baik di sekolah, keluarga, masyarakat, bangsa, ataupun negara.

Praktik baik berliterasi

Jamak dari pendidik atau pakar sudah membagikan tips ataupun praktik baik dalam berliterasi. Begitu juga dengan pemerintah, sudah memprogramkan kegiatan 15 menit untuk literasi di awal pelajaran. Apalagi jika pendidik juga mengaplikasikan kegiatan literasi saat proses pembelajaran, hal tersebut akan sangat baik untuk dilakukan.

Agar anak tidak mengalami kebosanan, sebaiknya kegiatan berliterasi bisa divariasikan, tidak hanya literasi baca-tulis saja. Out door activity atau kegiatan di luar kelas bisa menjadi alternatif pilihan yang baik. 

Anak-anak bisa diajak berkunjung ke museum, bank, ataupun pasar untuk bisa lebih mengkonkretkan kegiatan literasi. Kuis menarik sebelum pembelajaran ataupun nonton bareng video tentang ilmu pengetahuan dan teknologi juga bisa menjadi pilihan.

Dengan kegiatan literasi yang menarik tersebut, rasa ingin tahu anak akan terpecahkan. Jika sudah berjalan rutin dan maksimal, tidak menutup kemungkinan, minat anak terhadap literasi apa pun juga akan meningkat, bahkan masalah minat baca yang rendah sudah tidak ada lagi.

Pendidikan yang kita berikan pada anak tidak untuk saat ini, akan tetapi untuk masa depan. Anak harus disiapkan untuk hidup di dunia yang ada di masa yang akan datang. Mungkin dunia yang lebih disrupsi dari pada saat ini. 

Yang terakhir dan lebih penting, belajar berenang sebelum banjir akan lebih baik dari pada kita belajar berenang saat banjir sudah tiba.