Kemitraan ASEAN-Korea Selatan (Republic of Korea/ROK) ternyata telah berlangsung sepanjang 30 tahun. Peringatan kemitraan ASEAN-Korsel ini menunjukkan sejauh mana kedua pihak menunjukkan arti penting dan strategis masing-masing pihak. 

Melalui tema Partnership for Peace, Prosperity for People, KTT ini diselenggarakan secara terpisah pada 25-26 November 2019 yang lalu di kota terbesar kedua Korea Selatan, Busan.

Dibandingkan dengan kemitraan semacam, ASEAN-Korsel sudah berusia cukup lama. Pada tahun-tahun sebelumnya, KTT ASEAN-Korsel diadakan sebagai salah satu rangkaian KTT pada KTT ASEAN. 

Pada awal November ini, ASEAN juga mengadakan KTT dengan RRC, India, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersamaan dengan KTT ke-35 ASEAN. Beberapa pertemuan setingkat KTT juga diadakan sebagai bagian dari rangkaian KTT ASEAN, seperti KTT ASEAN-Plus Three (APT), KTT ASEAN-Amerika Serikat, KTT ASEAN-Jepang, East Asia Summit, dan KTT Kemitraan Komprehensif Ekonomi Regional (RCEP/Regional Comprehensive Economic Partnership).

Berbagai KTT ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk konkret dari sentralisme ASEAN di antara negara-negara mitra atau organisasi internasional lain. ASEAN dianggap sebagai satu-satunya organisasi regional di kawasan Asia Tenggara, sehingga negara-negara lain (mitra) ‘merasa’ perlu memiliki kemitraan dengan ASEAN di berbagai bidang.

Pandangan umum biasanya menjelaskan arti strategis ASEAN sebagai kawasan yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi stabil dan nir-konflik/perang dibandingkan kawasan lain. Selain itu, lebih dari 600 juta penduduk mendiami 10 negara anggota ASEAN menjadi pasar strategis bagi perekonomian global.

Pandangan umum itu juga dipegang Korea Selatan melalui pembentukan kemitraan kerja sama ASEAN dan Korsel sejak November 1989. Korsel secara bertahap menjadi mitra dialog penuh pada ASEAN Ministrial Meeting (AMM) ke-24 pada Juli 1991 di Kuala Lumpur. Pada 27 November 2004, Korsel mengakui Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia di Vientinane, Vietnam.

Dalam perkembangan selanjutnya, ada beberapa deklarasi bersama antara para pemimpin ASEAN dengan Korsel dalam menjalin kemitraan ‘bilateral’. Joint Declaration on Comprehensive Cooperation Partnership menjadi landasan awal kemitraan itu dan disahkan melalui KTT ke-8 ASEAN-Korsel di Vientiane pada 30 November 2004. 

Kedua mitra menyusun Plan of Action (POA) untuk menjalankan Joint Declaration on Comprehensive Cooperation Partnhership dan ditandatangani di Pulau Jeju, Korsel pada 2 Juni 2009.

Di bidang politik dan keamanan, kemitraan antara ASEAN-Korsel telah diperkuat dengan mengadopsi pertemuan reguler di ASEAN, seperti KTT, Pertemuan Tingkat Menteri (Ministrial Meeting), dan dialog ASEAN-Korsel yang melibatkan para pengusaha. Selain itu, KTT ASEAN-Korsel juga menggunakan kerangka regional yang lebih luas, seperti ASEAN Plus Tiga (APT) proses, KTT Asia Timur (EAS), ASEAN Regional Forum (ARF), ASEAN Defense Ministers Meeting Plus (ADMM Plus).

Keseriusan Korsel dalam kemitraan dengan ASEAN ditunjukkan secara nyata pada tahun 2009, melalui pendirian ASEAN-Korea Centre. Lembaga ini berperan penting untuk meningkatkan volume perdagangan, mempercepat arus penanaman modal, menggairahkan pariwisata, dan memperkaya pertukaran budaya antara ASEAN dan ROK. 

Sementara itu, di bidang ekonomi, KTT ini juga membahas kelanjutan ASEAN-Korea Free Trade Arrangement (AKFTA). Dalam perkembangannya, kemitraaan ekonomi itu ditingkatkan menjadi ASEAN-Korea Comprehensive Economic Partnership (CEPA). 

‘Penyatuan’ kawasan ekonomi 11 negara ini selanjutnya dipadu-padankan dengan kesepakatan ASEAN dengan 5 negara mitra (Cina, Australia, Selandia Baru, Jepang) yang telah dicapai di KTT ke-35 ASEAN pada awal November 2019 lalu. Kerangka kemitraan ekonomi tanpa partisipasi Amerika Serikat itu dikenal dengan RCEP.

Berbagai pertemuan KTT tersebut, termasuk KTT ASEAN-Korsel, menunjukkan meningkatnya pandangan mengenai ‘kesatuan’ dari 10 negara-negara anggota ASEAN. Dalam hubungan ‘bilateral’ dengan negara-negara atau organisasi mitra, ASEAN tidak lagi dipandang sebagai organisasi dengan 10 negara anggota terpisah, namun sebagai 10 anggota yang bersatu. 

Walaupun masih banyak kontroversi mengenai ‘kesatuan’ itu, berbagai kemitraan ekonomi ASEAN dengan negara-negara mitra memperlihatkan penerimaan internasional atas ‘kesatuan’ ASEAN. 

Dalam usia kemitraan 30 tahun itu, ASEAN dan Korsel tampaknya perlu memperhatikan isu daya tarik dari kemitraan tersebut. Daya tarik ini sangat menonjol pada kemitraan antara ASEAN-AS dalam isu strategis mengenai Indo-Pasifik. 

Kemitraan ASEAN-Cina didorong oleh peningkatan kepentingan Cina menyebarkan inisiatif Belt and Road Initiative(BRI). Dalam konteks daya tarik ini, kemitraan ASEAN-Korsel bisa mengambil pelajaran.  

Kemitraan ASEAN-Korsel tidak dapat disangkal telah mewujudkan konektivitas kedua pihak tidak hanya di tingkat pemerintah, namun mendorong partisipasi masyarakat kedua pihak. Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo mengusulkan memperluas konektivitas yang tidak hanya terbatas pada hard connectivity di bidang infrastruktur, namun ke arah soft connectivity di antara masyarakat melalui usulan bebas visa. 

Persoalan dan tantangan tersebut menjadikan kemitraan ASEAN-Korsel masih memiliki ruang kerja sama konkret, khususnya di antara masyarakat kedua pihak.