Perubahan iklim merupakan masalah lingkungan serius dan mempunyai dampak bagi segala aspek kehidupan yang bukan hanya dihadapi oleh satu negara saja, tetapi seluruh belahan dunia. 

Sejak muncul pada awal abad kesembilan belas hingga akhir  abad kedua puluh, masalah ini menjadi topik yang dibahas secara eksklusif dalam agenda publik global di seluruh dunia.

United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mendefinisikan bahwa perubahan iklim terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan perubahan komposisi atmosfer global di atmosfer yang menyebabkan efek gas rumah kaca. 

Sebagian besar negara di dunia sudah menunjukkan kepeduliannya dengan menetapkan arah untuk stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca sejak mulai mengadopsi UNFCCC pada Mei 1992. 

Beberapa rangkaian konferensi terkait isu perubahan iklim telah dilaksanakan seperti Bali Action Plan (2007), the Copenhagen Accord (2009), the Cancún agreements (2010), dan Durban Platform for Enhanced Action (2012), dan Paris Agreement (2015). 

Belum selesai dengan permasalahan iklim, dunia dihadapi dengan virus COVID-19 pada akhir tahun  2019. International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) mengungkapkan bahwa lebih dari 139 juta penduduk dunia terdampak krisis iklim global sejak awal pandemi COVID-19 terjadi.

Walaupun pandemi COVID-19 telah menyebar luas ke seluruh dunia dan menghambat mobilitas manusia, namun penggunaan energi penduduk dunia terus semakin meningkat sehingga akan menghasilkan emisi karbon dalam bentuk kenaikan suhu. 

Efek dari krisis iklim global mungkin tidak akan kita rasakan secara langsung dan signifikan seperti dampak dari pandemi COVID-19, namun tanpa kita sadari hampir seluruh aspek kehidupan kita akan terdampak jika tidak ada langkah serius dan berkelanjutan untuk mengurangi krisis iklim global. 

Kepala Penasihat Ilmiah Inggris, Sir Patrick Vallance,  mengatakan bahwa krisis iklim global bisa memakan korban jiwa lebih banyak orang dibandingkan dengan pandemi COVID-19 karena menimbulkan dampak terhadap banyak aspek kepada seluruh populasi di dunia. 

Dampak dari pandemi diperkirakan akan terjadi pada kisaran 4-5 tahun, sementara perubahan iklim akan membawa dampak yang lebih serius yaitu hingga ratusan tahun.

Dalam bidang kesehatan, Rachel Nethery, Xiao Wu, Francesca Dominici dari Harvard Chan School of Public Health meneliti bahwa penduduk yang tinggal di tempat dengan kualitas udara yang buruk lebih mungkin meninggal karena COVID-19.

Hal tersebut dapat terjadi karena faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi risiko kematian seperti kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, status sosial ekonomi, dan akses ke perawatan kesehatan. 

Temuan ini berhubungan dengan penelitian sebelumnya yang telah menunjukkan bahwa orang yang terpapar lebih banyak polusi udara dan yang merokok memiliki infeksi saluran pernapasan yang lebih buruk daripada mereka yang menghirup udara yang lebih bersih, dan yang tidak merokok.

Penipisan lapisan ozon sebagai akibat dari perubahan iklim akan membawa dampak yang berbahaya bagi kesehatan penduduk dunia. Intensitas sinar ultra violet akan semakin meningkat dikarenakan lapisan ozon yang semakin menipis dan berpotensi menyebabkan beberapa penyakit seperti kanker kulit. 

Di tempat-tempat di mana polusi udara merupakan masalah rutin, pemerintah negara setempat bijaknya memberikan perhatian khusus kepada individu-individu yang mungkin lebih rentan dibandingkan orang lain terhadap udara yang tercemar, seperti para tunawisma, orang tua dengan penyakit bawaan.

Saat ini, urgensi krisis iklim global dan dampak yang akan ditimbulkannya bagi seluruh populasi di dunia belum ditangani dengan energi yang sama seperti penanganan pandemi COVID-19. Skenario kasus terburuk yang dapat terjadi adalah ketika krisis iklim global dan pandemi COVID-19 berkembang pada saat yang bersamaan. 

Populasi manusia dengan sumber daya dan kapasitas yang terbatas cenderung lebih rentan terhadap krisis iklim global dan pandemi COVID-19 yang akan memperburuk ketidaksetaraan yang ada. 

Kerentanan yang lebih tinggi dapat terjadi di daerah perkotaan berpotensi memicu migrasi ke daerah pedesaan dan menyebabkan tekanan yang lebih tinggi dan mempercepat dinamika perubahan penggunaan lahan yang kemungkinan besar akan semakin memperburuk krisis iklim global.

Pelajaran penting dari pandemi COVID-19 yang dapat dipetik dan diterapkan pada krisis iklim global, termasuk keterkaitan sistem sosial, lingkungan, dan ekonomi yang perlu ditangani melalui pendekatan sosial-ekologis. 

Rencana pemulihan pasca-pandemi adalah kesempatan emas untuk mendesain ulang sistem ini secara keseluruhan dan berkelanjutan sebagai upaya terkoordinasi secara global berdasarkan Sustainable Development Goals 2030 dan Paris Agreement

Negara-negara perlu segera melakukan mitigasi agar ancaman risiko dampak krisis iklim global dan pandemi COVID-19 yang terjadi bersamaan ini tidak memperburuk kondisi negara umumnya dan penduduk di dalamnya. 

Tidak ada kata terlambat untuk mengubah “harapan” menjadi “aksi” dan terus memberikan energi yang sama besarnya dalam menangani krisis iklim global maupun pandemi COVID-19.