Isu mengenai kesetaraan gender menjadi hal yang begitu penting di era reformasi ini. Begitu pula dengan kepentingan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi dalam guna kehidupan yang layak. Sejalan dengan kedua hal yang berkaitan ini, Sustainable Development Goals (SDGs) memiliki 17 fokus utama yang saat ini menjadi isu penting yang harus dibahas saat ini. Dua diantaranya adalah mengusung tentang kesetaraan gender dan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Kesetaraan gender menjadi salah satu indikator utama yang pembahasannya mengenai bagaimana gender itu bukanlah sebuah penghalang dalam melakukan sesuatu, artinya baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang setara. 

Kesetaraan gender juga menjadi sebuah gerakan yang digunakan sebagai alat dalam memerangi adanya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan, karena pembeda antara laki-laki dan perempuan hanyalah sebatas perbedaan secara genetik biologisnya.

Dengan adanya tujuan yang diusung oleh SDGs, yang di dalamnya termuat kesetaraan gender, perempuan-perempuan di seluruh dunia dapat menggunakan kesempatan ini sebagai sebuah kunci untuk mendapatkan hak-hak mereka yang sebelumnya tidak mampu mereka capai karena gender equality yang belum tercapai.

Tetapi apa yang terjadi di masyarakat saat ini adalah, bagaimana kedudukan perempuan dan laki-laki cenderung dibeda-bedakan, laki-laki selalu mendapat tempat “di atas” perempuan karena dipandang memiliki sifat yang cenderung maskulin, dapat memimpin sesuatu lebih baik daripada perempuan. 

Perempuan sendiri dipandang sebagai pribadi yang memiliki sikap feminin dan mudah terbawa perasaan dalam melakukan sesuatu, sehingga stigma di masyarakat terhadap perempuan adalah ketidakmampuan seorang perempuan di dalam memimpin sesuatu karena sifat alami yang dimiliki oleh seorang perempuan.

Padahal, banyak sekali perempuan di luar sana yang memiliki kemampuan yang setara dengan laki-laki atau bahkan para perempuan ini memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.

Sebenarnya, perempuan memiliki posisi penting dalam pembangunan ekonomi saat ini. Sesuai dengan tujuan yang diusung oleh SDGs yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, yang menjadi fokus utamanya tentu mengenai pentingnya perkerjaan yang layak di dalam mencapai keberhasilan dari pertumbuhan ekonomi. 

Tujuannya adalah guna mendorong adanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif, serta pekerjaan yang layak bagi semua orang. Tetapi realita yang ada, perempuan masih sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak jika dibandingkan dengan perempuan.

Dalam mendapatkan peran dan pekerjaan, laki-laki masih bisa dikatakan lebih beruntung jika dibandingkan perempuan, karena ada banyak sekali yang menjadi pembeda dan batasan yang didapatkan oleh laki-laki dibandingkan perempuan. 

Seperti yang dilansir pada lama web bps.go.id, pada tahun 2020, persentase tenaga kerja bagi laki-laki mencapai angkat 42,71% dan perempuan hanya berada diangka 34,65%. 

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2021, persentase tenaga kerja bagi perempuan naik sebesar 2% menjadi 36,20% dan persentase  bagi laki-laki mencapai angka 43,39%.

Persentase seperti ini tidak hanya terjadi pada dua tahun ke belakang saja, tetapi pada tahun-tahun sebelumnya bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan data yang disajikan pada dua tahun belakangan ini.

Realitas yang ada pada saat ini sangat menunjukkan bahwa tingkat partisipasi antara laki-laki dan perempuan masih memiliki perbedaan yang sangat jauh, artinya pada saat ini kesetaraan gender masih belum terealisasi dengan baik dalam hal mendapatkan pekerjaan yang layak. 

Pekerjaan layak pada saat ini masih di dominasi oleh para laki-laki, kesenjangan gender dalam berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak masih terjadi di mana-mana. 

Selain itu, adanya budaya patriarki yang selalu memposisikan laki-laki yang mendominasi serta memegang kekuasaan dalam kepemimpinan maupun dalam hal yang lainnya. 

Akibatnya, dengan adanya budaya patriarki ini, membuat perempuan-perempuan memiliki rasa selalu terbelenggu yang mengakibatkan lahirnya diskriminasi gender dan menimbulkan hambatan dalam penyamarataan akses di masyarakat. Ketidaksetaraan yang ada akan menyebabkan kekurangan pada peluang kerja yang layak secara terus menerus dari tahun ke tahun. 

Sehingga tujuan dari SDGs untuk mencapai tujuannya perihal kesetaraan gender atau mengenai pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi menjadi sebuah kunci dalam penyamarataan kedua hal tersebut, karena ketika kesetaraan gender dalam mendapatkan pekerjaan yang layak dapat berjalan dengan baik, maka kehidupan ekonomi dan kehidupan di masyarakat akan berjalan dengan baik.

Selain itu, ketidaksetaraan gender yang ada dalam lingkungan pekerjaan guna meningkatkan persentase dari pekerjaan yang layak dalam pertumbuhan ekonomi akan menimbulkan permasalahan berupa hak-hak perempuan yang tidak diperoleh sebagaimana mestinya. 

Dengan adanya tujuan dari SDGs dalam memberantas ketidaksetaraan gender diharapkan mampu untuk menghapuskan stereotip di masyarakat mengenai penilaian yang sifatnya subjektif antara laki-laki dan perempuan.

Di luar dari pada harapkan mengenai kesetaraan gender untuk menghapus stereotip mengenai penilaian yang bersifat subjektif tadi, diharapkan pula mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa memandang gender di dalam keikutsertaannya.