Awal bulan Desember 2021, dunia pendidikan kembali berduka dengan kabar meninggalnya seorang mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, yang bernama Novia Widyasari Rahayu. Novia meninggal bunuh diri di Samping makam ayahnya dengan cara meminum racun.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh tim Polda Jatim, korban diduga mengakhiri hidupnya karena depresi. Hal ini diperkuat dengan kesaksian dari ibu kandungnya bahwa korban sedang mengalami depresi dan sudah beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan potasium.

Korban depresi karena berbagai masalah yang dihadapi tak kunjung mendapat solusi. Novia menjadi korban pemerkosaan dan dipaksa aborsi oleh pacarnya, Randy Bagus Hari Sangsoko, yang merupakan anggota polisi. Belum lagi tekanan dari keluarga korban yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru malah memojokkan korban.

Sebelumnya di Bulan Oktober 2021 juga terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa semester 5 Fakultas Teknik Industri. Korban berinisial KAM berusia 20 tahun merupakan seorang mahasiswa di salah satu Universitas Swasta di Yogyakarta. Diketahui korban mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun ikan di kamar kost nya. Menurut kesaksian kakak kandung korban, korban pernah bercerita bahwa dirinya stres karena tugas kuliah dan ada beberapa mata kuliah yang terasa sulit baginya.

***

Tewasnya Novia membuat jumlah kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa karena stres ataupun depresi semakin meningkat. Saya menemukan sedikitnya ada 4 kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa karena depresi yang diunggah oleh Media, terhitung sejak Agustus 2021 sampai dengan saat ini. Jumlahnya tentu akan semakin banyak, jika kita akumulasi dengan peristiwa di tahun-tahun sebelumnya.

Keadaan ini tentu menimbulkan banyak spekulasi dari berbagai kalangan, termasuk saya pribadi. Mengapa belakangan banyak mahasiswa yang depresi? Apakah kesehatan mental generasi muda kita sudah menurun? Hal ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Pasalnya, mahasiswa yang kita anggap sebagai kaum intelektual dengan pemikiran kritisnya, justru malah banyak yang tumbang karena tugas kuliah atau problematik lainnya.

Kesehatan mental bukanlah masalah remeh karena dampaknya hampir mempengaruhi semua aspek. Mental yang sedang sakit secara tidak langsung akan membuat kesehatan fisik menurun. Jika kesehatan fisik terganggu maka tubuh akan lebih rentan terhadap penyakit. Selain itu, mental yang tidak sehat juga akan mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Seseorang menjadi lebih sulit untuk mengingat, berfikir, ataupun merespon informasi. Jika sudah demikian, seseorang akan lebih rentan terhadap stress, yang lambat laun jika tidak segera diatasi akan mengakibatkan depresi.

Kondisi ini jelas bertolak belakang dengan identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual. Jika masalah ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan banyak generasi muda yang kompeten. Bukankah mahasiswa adalah ujung tombak suatu bangsa? Lalu, bagaimana jika tombak tersebut sudah tak lagi meruncing?

Kebanyakan berpendapat bahwa mahasiswa termasuk kedalam kelompok orang dewasa. Mereka dinilai sudah mumpuni dalam berfikir dan mencari solusi untuk setiap permasalahan. Namun fakta di Lapangan menyatakan hal yang sebaliknya. Banyak mahasiswa yang tenggelam dalam masalah mereka . Dari mulai masalah ekonomi, percintaan, keluarga, dan masalah sosial lainnya.

Maka disinilah peran keluarga dan circle pertemanan menjadi sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Ibarat anak kecil, meski sudah bisa berjalan para orang tua tetap harus memperhatikan dan mengawasi untuk menghindari bahaya. Begitupun dengan mahasiswa, meskipun sudah dianggap dewasa, mereka tetap harus mendapatkan pendampingan dan bimbingan.

Minimnya dukungan moril menjadi faktor utama terganggunya mental seseorang. Belum lagi berbagai tuntutan diluar kemampuan dapat menurunkan rasa tidak percaya diri dan tidak berharga. Untuk itu, perhatian dan semangat dari orang terdekat yang mampu memberikan motivasi dan mengembalikan kepercayaan diri.

Selain itu, mungkin ada baiknya jika bimbingan konseling yang disediakan oleh Perguruan Tinggi lebih ditingkatkan. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat tidak sedikit mahasiswa yang stress karena skripsi ataupun tugas kuliah. Mungkin dunia pendidikan di negara kita semakin berkembang sehingga banyak mahasiswa merasa tugas kuliah begitu sulit untuk dikerjakan.

Selain itu, perlu juga pendampingan khusus bagi mereka yang sedang menempuh semester akhir. Tak hanya pendampingan saat penyusunan skripsi, tetapi juga pendampingan secara moril. Mengingat menyusun skripsi tak semudah menyusun puzzle, hambatan pasti sering ditemui. Dari mulai masalah pengajuan judul, revisi pembahasan hingga pengumpulan data.

Bimbingan dan pendampingan yang diberikan secara tepat, diharapkan dapat meminimalisir masalah depresi di kalangan mahasiswa. Sehingga, diharapkan tidak ada lagi kasus bunuh diri karena depresi seperti yang terjadi pada Novia dan mahasiswa sebelumnya.

Dengan demikian, marilah kita tingkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental dan rasa peduli terhadap sesama. Jika kalian memiliki keluarga ataupun teman yang mengalami gangguan psikologis, jangan ragu untuk memberikan pertolongan. Atau jika dirasa sulit, kalian bisa berkonsultasi pada pakarnya seperti Yayasan Sehat Mental Indonesia. Mereka menyediakan konsultasi psikologis secara gratis bagi siapa saja yang membutuhkan