Ada tiga ketetapan Tuhan yang tidak dapat diubah: rezeki, jodoh, dan kematian. Meskipun demikian, rezeki harus diupayakan, jodoh  harus dipinang, dan berhati-hati harus dilakukan guna mengurangi resiko kematian. Ikhtiar adalah sebuah kewajiban sebelum kita menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Sebuah falsafah Jawa mengatakan, “Urip mung saderma nglakoni.” Sebuah bentuk ketawakalan yang seringkali dijadikan alibi dari ketidaktaatan. Manusia memang hanya menjalani garis yang telah ditulis, namun menjadikannya pembenaran atas keingkaran yang dilakukan merupakan sebuah tindakan “menghina” Tuhan.

Kesombongan dan keegoisan manusia menjadikannya lalai bahwa semua yang terjadi adalah sebuah kausalitas. Keputusan apapun, sekecil apapun yang diambil saat ini merupakan dampak dari keputusan terdahulu. Pun akan berdampak pada segala sesuatu  di masa mendatang, baik langsung maupun tidak langsung.

Penyakit merupakan salah satu komponen kausal kematian makhluk hidup, termasuk manusia. Secara rasional, melakukan pencegahan dan penanganan terhadap penyakit yang menyerang adalah upaya untuk “menunda kematian”. Dengan kata lain, hal tersebut merupakan ikhtiar sebelum tawakal.

Banyak pasien yang meninggal dunia meskipun telah menjalani perawatan medis yang cukup lama. Termasuk pasien COVID-19 yang angka kematiannya terus meningkat dalam kurun waktu tiga bulan ini.

Peningkatan jumlah pasien positif dan pasien meninggal dunia akibat COVID-19 di Indonesia tentu tidak lepas dari cara masyarakat menyikapi pandemi ini. Faktanya, COVID-19 tidak hanya menguji  ketahanan tubuh manusia yang diserangnya, namun juga ketahanan mental umat manusia di sekitarnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberi anjuran mengenai tindakan preventif maupun kuratif dalam menghadapi COVID-19. Pemerintah pun sudah mengeluarkan berbagai regulasi guna memutus rantai penyebarannya. Anjuran dan regulasi tersebut antara lain psysical distancing dan work from home.

Yang menjadi pokok permasalahan dalam kasus ini adalah audiens, dalam hal ini masyarakat. Secara garis besar berdasarkan sikap dalam menanggapi anjuran dan regulasi pemerintah, masyarakat Indonesia dapat dibagi menjadi dua golongan: menurut dan membangkang.

Dua sikap tersebut memiliki alasan dan risikonya masing-masing. Misalnya mereka yang menurut, karena adanya tanggung jawab terhadap hidup orang lain, sifat bawaan pribadi yang suka berdiam diri di dalam rumah, maupun paranoid. Latar belakang yang berbeda tentu akan membawa dampak yang berbeda pula.

Mereka yang menurut karena kesadarannya untuk melindungi hidup orang banyak adalah upaya yang sangat baik. Namun, jika orang tersebut bukan orang yang sanggup berdiam diri di rumah dalam waktu yang terbilang lama, ia akan merasa bosan bahkan dapat mengakibatkan penurunan tingkat produktivitasnya.

Belum lagi bagi mereka yang memiliki pekerjaan yang menuntut untuk keluar rumah seperti kurir, ojek, petugas kebersihan, dan sebagainya. Patuhnya mereka untuk tidak keluar rumah akan berdampak terputusnya penghasilan mereka. Padahal, tentu keluarga mereka tetap harus makan untuk bertahan hidup.

Bagi pribadi intorvert, yang menyukai suasana sunyi, sendiri, dan menikmati ketika diminta untuk tetap di rumah saja, anjuran ini nampaknya tidak terlalu membebani. Pribadi seperti ini justru berpeluang mengalami peningkatan produktivitas kerja karena merasa nyaman dengan tidak perlu keluar rumah.

Akan tetapi, terlalu nyaman dengan bertahan di dalam rumah terkadang juga dapat membuat seseorang lupa untuk menjaga kebersihan dan mengonsumsi makanan sehat karena cenderung merasa aman. Merasa aman seperti ini juga dapat membahayakan karena bisa mengurangi kewaspadaan.

Tipe ketiga adalah mereka yang tetap di rumah karena paranoid. Banyak dialog mengenai hal ini. Salah satunya pernyataan Prof. Mahmud MD dikutip dari Detiknews (4/5/20) bahwa ketika seseorang mengalami stres, imunitas tubuhnya menurun dan justru dapat membuat tubuh mudah terserang penyakit.

Sedangkan golongan yang dianggap membangkang juga setidaknya disebabkan oleh oposisi dari faktor-faktor di atas. Hal tersebut berupa kurangnya kesadaran akan tanggung jawab terhadap hidup orang banyak sehingga terlalu santai dan pribadi yang tidak betah berada di rumah dalam waktu yang relatif lama.

Kurangnya tanggung jawab untuk saling menjaga sesama dengan sikap yang terlalu santai benar-benar dapat membantu meningkatkan jumlah orang yang terpapar dan terinfeksi virus. Santai memang diperlukan untuk menjaga mental tetap sehat. Namun bukan berarti diperbolehkan untuk tidak berhati-hati.

Kemudian, orang-orang ekstrovert, yang tidak betah berada di rumah, tentu akan merasa sangat jenuh. Jika mereka keluar rumah sesekali dengan mematuhi protokol kesehatan, risiko tertular virus masih bisa dikatakan aman. Namun jika berkelanjutan dan melanggar batas aman, ia berpotensi “membunuh” siapapun.

Pada intinya, dalam menghadapi pandemi ini, tidak ada solusi yang benar-benar bersih tanpa kendala dan risiko. Namun, selalu ada jalan bagi orang-orang yang berusaha dan Tuhan adalah pelindung orang-orang yang beriman.

Maka, hendaknya kita meningkatkan kualitas keimanan terhadap Yang Mahakuasa. Dengan percaya, berusaha, berdoa, dan menyerahkan segala hasil upaya kita kepada-Nya, tidak ada alasan Tuhan untuk tidak menyelamatkan kita.

Setidaknya dengan selalu dekat dengan-Nya, jiwa kita menjadi lebih tenang. Dengan selalu percaya pada kuasa-Nya, kita akan lebih siap menghadapi kemungkinan apa pun bahkan yang tidak kita sangka-sangka.