Dewasa ini marak perbincangan tentang era disrupsi. Hal ini seiring dengan berkembang pesatnya internet dan digitalisasi. 

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, disrupsi bermakna hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan, disrupsi merupakan era di mana terjadinya perubahan yang mendasar atau fundamental. Era disrupsi merupakan era beralihnya dunia nyata ke dunia maya.

Era disrupsi disebut juga sebagai era digitalisasi, di mana seluruh aktivitas menggunakan daring atau media internet. Masyarakat cenderung menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya terutama media sosial. Kemunculan transportasi gadget/daring adalah salah satu dampak yang paling populer di Indonesia.

Era disrupsi sedang melanda dunia. Hampir segala lini tidak lepas dari pengaruhnya mulai dari dunia sosial, budaya, ekonomi, politik termasuk juga dunia pendidikan. Era disrupsi menginisiasi lahirnya model baru dan strategi inovatif dan disruptif. Era ini menuntut kita untuk berubah atau punah.

Tidak bisa dipungkiri disrupsi akan mengilhami terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti Gojek atau Grab akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang pendidikan.

Meskipun demikian peran guru tidak akan pernah tergantikan oleh mesin buatan. Secanggih-canggihnya suatu sistem tetap tidak akan menghasilkan luaran secara maksimal. Mengingat kasus pendidikan masa kini tidak hanya pada kompetensi semata melainkan juga pendidikan karakter yang unggul dan berakhlak mulia.

Melihat hal tersebut, kemampuan guru harus ditingkatkan agar mampu mengimbangi perkembangan dunia pendidikan yang terus bergerak cepat. Jika guru tidak mampu memberikan apa yang dibutuhkan siswa saat ini, maka bukan tidak mungkin siswa tersebut akan kalah dengan persaingan global. 

Era disrupsi sangat memungkinkan siswa bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Tidak hanya berada di ruang kelas karena perkembangan teknologi memungkinkan hal itu. Sehingga diperlukan guru professional yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang tepat.

Peningkatan profesionalisme menyangkut sikap mental dan komitmen para guru untuk selalu meningkatkan kualitas agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Fungsi guru di era disrupsi akan berbeda dengan guru di masa lalu. Guru memiliki peran penting dalam melakukan bimbingan terhadap siswa dalam penggunaan praktis diskusi daring.

Selain itu, fungsi guru juga mengajarkan nilai-nilai etika, adab, budaya, kebijaksanaan, kedisiplinan hinggan empati sosial. Karena kecanggihan suatu sistem, tetap tidak akan mampu mengajarkan nilai-nilai kepada siswa.

Eksistensi guru di era disrupsi tidak semata dilihat dari kepandaian ataupun kharismanya semata. Lebih dari itu, bagaimana seorang guru mampu berkomunikasi dan beradaptasi dengan tantangan zaman. Guru dituntut mampu berinovasi dan berkreasi, karena sistem pembelajaran zaman dahulu sudah tidak diterima oleh anak didik di zaman sekarang.

Seorang guru diharapkan selalu meningkatkan kompetensinya di samping peran membumikan ilmu. Ilmu bertujuan untuk memajukan harkat dan martabat manusia dan bukan sebaliknya. Untuk itu, guru mesti menguasai, bukan dikuasai oleh kemajuan.

Menjadi guru abad 21 berbeda dengan abad 20-an. Di era digital ini guru dituntut mampu berinovasi dan berkreasi, karena sistem pembelajaran tahun 80-an sudah tidak diterima oleh anak didik zaman sekarang. Akibat perkembangan teknologi internet dan kemajuan teknologi digital yang telah terakselerasi, informasi, dan pengetahuan menjadi bersifat sementara, dan singkat.

Pengetahuan yang bersifat sementara membutuhkan pembaharuan secara konstan, perkembangan dan peningkatakan kemampuan pribadi. Kemajuan ini mempengaruhi dunia pendidikan secara mendasar, dari cara pandang terhadap pengetahuan, sampai bagaimana pengetahuan itu diajarkan di depan kelas.

Hal ini juga tentu berpengaruh terhadap dunia pendidikan guru dan tenaga kependidikan, terutama bagaimana kompetensi guru harus diorientasikan terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan masyarakat digital dewasa ini.

Pembelajaran di era disrupsi telah bertransisi dari era analog ke era digital. Di era digital, lingkungan belajar harus diselaraskan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya internet dan cybernet, yang memungkinkan pemelajar secara mandiri, dinamis, dan tidak terikat oleh hanya satu tempat dan satu sumber belajar, bahkan tidak tergantung pada guru pengajarnya saja, tetapi siswa dapat belajar dari banyak guru, berbagai sumber di dunia maya.

Era digital mengharuskan guru untuk menerapkan konsep multy chanel learning yang memperlakukan siswa sebagai pembelajar dinamis yang dapat belajar di mana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dari berbagai sumber.

Dalam hal ini guru hendaknya berperan sebagai fasilitator yang menunjukkan kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa, dan membuka kesempatan pada siswa untuk dapat belajar dari berbagai sumber pembelajaran digitak di dunia global.

Orientasi baru ini akan memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan kreativitas dan daya imajinasi pemelajar. Selain itu, kemampuan berpikir kritis dan analitis pemelajar diharapkan dapat ditingkatkan, misalnya dengan mengasah kemampuan mereka untuk menemukan dan mengidentifikasi berbagai hal secara cepat di dunia maya.