Semenjak Alex menjalani kehidupan di bangku perkuliahan. Hampir sepanjang hari selaput otaknya selalu dibalut cercaan yang membuat dirinya gelisah. Ia merasa tidak tenang. Ia merasa ada yang salah pada dirinya, kenapa sampai teman-temannya menganggap dirinya masih seperti anak kecil.

Ketika Alex masih duduk di bangku SMA. Kehidupannya tidak pernah terjangkit masalah pertemanan. Alex adalah anak tunggal dari latar belakang keluarga Guru. Sehingga tak satu pun pola hidupnya yang tidak tertata dan teratur. Mulai dari tidur, makan, mandi. Dari posisi tidur, cara makan, sampai durasi mandi, semua tertata dan terjadwal sedemikian rupa. Namun kebiasaan itu, bagi lingkungan barunya, terkesan seperti anak kecil yang tidak bisa bebas dan harus melakukan perbuatan-perbuatan sesuai jadwal yang sudah diatur.

Hampir setiap malam, Alex selalu termenung hebat memikirkan perkataan-perkataan sampah yang berserakan di dalam otaknya. Ia berfikir keras agar bisa membersikan ucapan-ucapan temannya yang selalu membuat dirinya resah. Hingga di suatu pagi. Ia berangkat menuju toko buku guna mencari buku yang ia harapkan bisa merubah kehidupannya. Sesampai di sana, Alex langsung mencari buku yang ia butuhkan. Ia baca satu persatu judul sekaligus ringkasan pada cover belakang setiap buku yang ia pegang.

Membutuhkan waktu dua puluh menit untuk bisa mendapatkan judul buku yang cocok dengan permasalahan hidupnya. Buku berjudul Upaya Menjadi Lelaki Dewasa dengan cover berwarna coklat kardus, serta desain jadul yang tidak terlalu banyak gaya, membuat perasaannya terpikat lalat. Tidak berpikir panjang, ia langsung mencabut uang sepuluh ribu dua lembar di dalam dompetnya untuk mengganti sebuah buku yang ia harapkan dapat merubah kehidupannya.

Sesampai di kamar kosnya, Alex langsung mengunci rapat-rapat pintu kamarnya, agar tidak seorang pun dapat mengganggunya dalam mempelajari buku yang ia dapatkan itu. Setelah situasi sekitar dirasa aman, ia mulai mengupas plastik buku itu dengan sangat antusias. Seantusias pemulung yang sedang membuka bungkus makanan setelah beberapa minggu tidak makan. 

Seperti pembaca pada umumnya. Alex membaca terlebih dahulu kata pengantar buku tersebut. Dalam pengantarnya, sang penulis menganjurkan agar pembaca membaca bab secara berurutan. “Jika kamu belum memahami dan melakukan langkah-langkah bab pertama, maka jangan melanjutkan untuk membaca bab kedua. Begitu juga dengan bab kedua. Jika kamu belum faham betul dengan bab itu, kamu jangan coba-coba untuk memasuki bab yang ketiga. Sebab buku ini hanya memilki tiga bab. Dan saya harap, pembaca mematuhi aturan mainnya, agar pembaca bisa mendapatkan hasil yang maksimal dari tulisan saya ini.” Begitulah penggalan kalimat pengantar dari penulis di lembar ketiga buku tersebut.

Alex tersenyum licik sambil melirik ke arah pintu kamarnya setelah membaca kata pengantar dari buku itu. Dalam hati ia bergumam, tidak lama lagi akan kubuktikan kepada para begejil itu bahwa aku juga bisa bersikap dewasa. Sebelum ia beranjak dari kamarnya untuk mengikuti perkuliahan, ia sempat membalut cover bukunya dengan kertas putih polos dan digantinya judul itu dengan tulisan buku diary, agar ia dapat mencegah kemungkinan-kemungkinan yang tidak ia inginkan.

Pada malam hari seusai perkuliahan. Ia mulai membaca bab pertama. Ia perhatikan betul setiap kalimat yang tertangkap oleh lensa matanya. Jika kurang jelas, ia akan mengulangi kalimat tersebut. Jika jelas, kepalanya akan mengangguk ringan. 

Setelah sepuluh menit ia memahami bab pertama. Ternyata bab itu hanya memiliki lima halaman. Halaman berikutnya hanya berisikan garis-garis yang harus diisi oleh Alex sebagai pembaca tentang pengalaman yang telah ia dapatkan setelah mempraktekan isi dari bab pertama.

Pada bab pertama penulis berbicara tentang penampilan. “Langkah pertama jika kamu ingin dipandang sebagai lelaki dewasa, maka rubahlah penampilanmu. Engkau bisa memilih antara mewarnai rambut, memanjangkan rambut, mentato sebagian tubuhmu, menindik telinga, hidung, atau lidah.” Ucap sang penulis pada bab pertama. 

Alex merasa keberatan untuk melaksanakan anjuran dari sang penulis. Namun setelah berdiam sejenak untuk menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk memilih memanjangkan rambut. Sebab tak kurang dari Mahasiswa lain yang juga panjang rambutnya.  

*   *   *

Seiring menjalani proses pertamanya. Banyak hambatan yang berusaha menghalanginya, terutama dari dosen dan orang tuanya. Sempat ketika Alex pulang kampung, ibunya menyuruh agar ia merapikan rambutnya. Tapi ia hanya menjawab “Saya sudah dewasa Bu. Pingin bebas berekspresi.” Begitu juga dengan dosen, ia selalu mendebat setiap dosen yang menyuruhnya untuk potong rambut. 

Namun hambatan-hambatan itu mampu ia lewati hingga rambutnya benar-benar terlihat panjang lebat. Yang terpenting bagi dirinya adalah bisa membuktikan kepada teman-temannya, bahwa sekarang ia benar-benar bersikap dan berpenampilan layaknya lelaki dewasa.

Setelah ia rampung menjalankan langkah pertama, dan menuliskan pengalamannya pada lembar catatan. Alex baru bisa melanjutkan bab kedua setelah delapan bulan melalui proses panjang melaksanakan bab pertama. Pada bab kedua. Penulis mulai menyentuh waktu-waktu istirahat pembacanya. “Pada bagian kedua. Kamu harus kuat untuk begadang hingga larut malam di suatu tempat yang banyak orang dewasa di sana. Bisa kafe, warkop, ataupun diskotik.” Ujar penulis dalam bab dua. 

Bagi Alex, kegiatan begadang adalah kegiatan yang sangat tidak ia sukai. Sebab jika ia begadang, pagi harinya pasti ia terjangkit masuk angin. Jika tidak, kepalanya merasa berat. Namun ia tetap berusaha melaksanakan perintah dari buku itu sekuat jiwa dan raga.

Setelah satu bulan menunaikan perintah dari bab dua. Kini telinganya mulai akrab dengan bunyi tiang listrik yang dipukul oleh para hansip. Ia memilih warkop sebagai tempat menelanjangi setiap malam bersama teman-temannya yang dulu selalu mencibirnya. Alex merasa terbantu dengan keberadaan buku itu. 

Sayangnya, semenjak ia sering menghabiskan malam di warkop bersama teman-temannya, sikapnya berubah drastis. Yang semula hanya bermain game, kartu, ngobrol sana sini. Kini ia mulai berani menghisap kretek yang ditawarkan oleh teman-temannya. Alex merasa gengsi jika menolak ajakan itu. Dengan dalih hanya coba-coba, atau mungkin kembali ke teori awal, lelaki dewasa harus bebas. Dan akhirnya si Alex sungguh tidak seperti dirinya yang dulu. Ia menjadi egois dan tidak mau diatur.

*   *   *

Seiring berjalannya waktu. Alex mulai melupakan buku yang sempat menuntunnya menuju kedewasaan. Ia merasa sudah bersikap dewasa seperti teman-temannya. Bagi Alex, bersikap dewasa sekarang cukup meneladani perilaku teman-temannya, kemudian mengamalkannya. 

Tapi sayangnya, keputusan itu tidak memberi dampak yang baik bagi kehidupannya. Alex malah sering bolos kuliah, uang ia habiskan untuk beli rokok, penampilannya semakin terlihat seperti gembel. Bagi dirinya, semua perbuatan itu adalah sesuatu perkara yang lumrah. Sebab tidak hanya ia yang melakukan hal-hal semacam itu, tapi banyak dari temannya juga melakukannya.

Hingga pada suatu hari di malam tahun baru. Alex beserta teman-teman yang paling ia banggakan dunia akhirat, mengadakan pesta terlaknat di salah satu kontrakan milik temannya. Di pertengahan permainan, ia sempat rehat sejenak. Ia lihat di dalam tasnya terdapat buku yang dulu pernah ia puja-puja. Ia baru ingat bahwa ada satu bab yang belum ia selesaikan dari buku tersebut. 

Dibacalah saat itu juga oleh si Alex bab yang belum sempat ia baca. Dalam bab itu, sang penulis mengucapkan terima kasih kepada pembaca karena sudah rela membaca tulisannya hingga bab akhir. Selain itu, ada secuil kalimat yang membuat Alex tercengang. “Bebaskan pikiranmu. Kamu harus bisa dan berani mengambil keputusan sendiri, jangan mudah terpengaruh oleh orang lain.” Sorot matanya kini hanya sanggup mengamati kalimat yang ada pada kertas buku itu yang kian menguning. 

Blakk…tiba-tiba pintu kontrakan itu didobrak oleh sekelompok pria yang mengaku sebagai Satpol PP yang sedang razia di malam tahun baru. Alex tersentak kaget. Tak banyak yang bisa ia perbuat. Begitu juga dengan temannya, tak satu pun dari mereka yang bisa melarikan diri. Pada malam itu, Alex benar-benar telah menjadi lelaki dewasa, setelah ia membaca bab terakhir dari buku yang ia beli di toko buku beberapa bulan lalu.