Pesantren pada kurun masa sebelumnya merupakan lembaga pendidikan yang mampu menawarkan universalitas dalam ilmu pengetahuan. Selain pendidikan agama yang komprehensif, pesantren juga mengajarkan ilmu-ilmu lain seperti Astronomi, Matematika, Ekonomi, Kedokteran, bahkan Beladiri dan Strategi Perang.

Posisi pesantren menjadi sangat penting di dalam masyarakat. Terlebih dengan universalitas ilmu pengetahuan yang ditawarkan. Melalui pesantren, petani dapat mempelajari kapan musim tanam berlangsung dan nelayan dapat mempelajari arah mata angin melalui kenampakan alam. 

Tidak hanya pendidikan bagi para petani dan nelayan, bahkan pesantren pada masanya adalah menjadi kawah candradimuka bagi para calon raja yang akan naik takhta di Nusantara.

Integrasi antara kebutuhan duniawi berupa sistem ekonomi dan sosial, seperti cara bertani, berdagang dan memimpin, ditopang secara kuat dengan kapasitas bathiniyah para santri melalui pendidikan agama yang tidak hanya sebatas teori namun juga aplikasi dalam laku setiap hari.

Melalui itulah pesantren mampu mencetuskan generasi unggul, bahkan mencetak para raja yang intelektual dan arif bijaksana, seperti Raden Fattah, Sultan Agung, Pengeran Diponegoro, dan lain lain.

Universalitas tersebut selalu teruji dalam setiap konteks zaman dan pesantren terbukti mampu menapaki setiap ujian tersebut sehingga entitas pesantren masih eksis hingga saat ini, meskipun telah berulang kali melalui tambal sulam peradaban.

Pesantren dalam setiap zaman selalu berhasil menjadi institusi yang mampu memberikan penawar bagi racun peradaban seperti konflik, perang, kediktatoran, penjajahan bahkan krisis ekonomi dan kebudayaan. 

Dalam konteks penjajahan misalnya, kita tidak akan pernah lupa perjuangan Adipati Unus sebagai salah satu santri langsung dari Sunan Kalijaga yang melakukan sebuah perlawanan besar di Selat Malaka dalam mengusir bangsa Portugis.

Kemudian, lekat juga sejarah perlawanan sengit Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang melibatkan para Kiai, Ulama dan Santri yang tersebar di hampir seluruh tanah Jawa.

Keterlibatan pesantren tersebut pada akhirnya menjadi cambukan yang keras bagi penguasa kolonial sehingga pada kurun masa selanjutnya pesantren dibatasi ruang geraknya dalam melakukan proses belajar-mengajar. Pesantren oleh penguasa kolonial hanya boleh mengajarkan Ilmu Agama saja.

Lalu apakah keilmuan lain yang diajarkan pesantren menjadi mati?

Ternyata tidak, pesantren tetap mengajarkan ilmu strategi perang dan juga cara bertarung. Hal tersebut masih tersebar hingga saat ini di masyarakat luas. Pesantren memiliki strategi baru dalam mengajarkan masyarakat cara berperang, yaitu dengan menghaluskan gerakan-gerakan beladiri melalui tarian-tarian.

Terlepas dari itu, tantangan pesantren tidak surut hingga saat ini. Jika sebelumnya tantangan pesantren adalah berupa konflik, perang, penjajahan dan lain lain, namun saat ini tantangan terbesar pesantren adalah perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dan tidak dapat terbendung. 

Tidak dapat dimungkiri bahwa perkembangan teknologi informasi di suatu sisi memberikan dampak yang sangat positif, namun di sisi lain dampak negatif tetap ada dan tidak sedikit jumlahnya, seperti konsumerisme, kerusakan moral, hoaks dan kemalasan yang mendarah daging.

Sekali lagi pesantren perlu membumi dengan mengakomodasi perkembangan teknologi tersebut, yaitu sebagai pembuat ramuan obat yang mampu menjadi penawar racun modernitas tersebut. Terutama dalam memperbaiki kerusakan moral akibat disrupsi teknologi ini.

Meramu obat bagi modernitas yang pesakitan tentu tidak mudah. Bahkan mungkin akan sesulit perjuangan melawan kolonialisme. Namun dalam situasi zaman yang demikian tetap perlu dilakukan. 

Sudah saatnya pesantren menyelam dalam arus teknologi informasi sebagai upaya untuk menemukan ramuan yang pas bagi penyakit modernitas yang akan timbul dari perkembangan teknologi informasi tersebut. Terlebih saat ini pengelolaan di internal pesantren hampir kebanyakan masih bersifat tradisional.

Meskipun sudah terdapat pesantren yang relatif mampu mengakomodasi perkembangan teknologi informasi, namun tidak dapat dimungkiri masih banyak pesantren yang bahkan belum terpapar sedikit pun dengan perkembangan tersebut. 

Sebagai sebuah upaya untuk membumikan pesantren sekali lagi di zaman perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini. Beberapa alumni pesantren membentuk sebuah tim untuk membuat sebuah aplikasi yang mampu menunjang bagi pengelolaan pesantren.

Tim yang terdiri dari pegiat teknologi informasi tersebut diinisiasi oleh Ulul Albab (alumni Pesantren Zainul Hasan, Genggong), dan dari sisi pengembangan aplikasi dibantu oleh Rio yang juga alumni dari pesantren yang sama. Kemudian dari sisi manajemen dan analisis kebutuhan pesantren dan orang tua santri dibantu oleh Najih (alumni Pesantren Raudlatul Ulum, Guyangan).

Tim tersebut meluncurkan aplikasi web base dengan sistem terpadu menggunakan SaaS (Software as a Service) yang dinamakan pesantri.com. Aplikasi ini sangat mudah digunakan karena tidak perlu melakukan instalasi dan memikirkan terkait server.

Meskipun aplikasi ini merupakan aplikasi dengan sistem online, namun dalam penggunaan aplikasi ini masih mendukung pencatatan data manual, baik untuk pembayaran, administrasi data santri, dan pencatatan lainnya.

Sebagai sebuah dedikasi nyata bagi perkembangan pesantren di era digital, aplikasi ini akan diberikan secara gratis lengkap dengan training dan pendampingannya kepada setiap pesantren yang berminat. 

Tetapi untuk milestone pertama aplikasi ini hanya akan memuat fitur pendaftaran, pembayaran (SPP, uang pendaftaran, uang gedung), pencatatan keuangan, pencatatan pendaftaran, alumni santri dan analisis daerah asal santri.