Peristiwa langit memang selalu menarik perhatian. Gerhana Matahari, Gerhana Bulan, Hujan Meteor, komet yang melintas, senantiasa membuat masyarakat ingin tahu apa yang sedang terjadi. Rasa ingin tahu ini sering kali tidak diikuti oleh kemampuan untuk mencari tahu yang benar. Akibatnya, isu dan hoax astronomi yang beredar dengan mudah dilahap.

Keingintahuan merupakan hal mendasar yang dimiliki manusia. Ketika kita melihat taburan ribuan bintang di langit atau peristiwa gerhana, tentu muncul pertanyaan: Apa yang sedang terjadi? Apakah kejadian itu akan mempengaruhi kehidupan kita? Atau apakah di natara bintang-bintang ada kehidupan lain? Apakah kita punya teman yang serupa di antara bintang-bintang di langit?

Rasa ingin tahu inilah yang mengantar manusia pada berbagai kemajuan sains masa kini. Semua tidak dimulai dengan penemuan yang memberi terobosan. Keingintahuan itu justru muncul pada abad ke-4 SM dalam tataran ide dan konsep yang dikemukakan Epicurus bahwa di luar angkasa ada dunia yang mirip maupun yang tidak mirip dengan dunia kita.

Ide ini mengemuka dan terus berkembang sampai saat ini. Tapi bukan tanpa kendala. Perkembangan sains memperlihatkan ada masa kegelapan ketika sains dianggap bertentangan dengan gereja.

Bumi dan manusia dianggap istimewa dan satu-satunya. Pada akhirnya, pemikiran-pemikiran ilmiah yang dianggap tidak selaras dengan gereja seperti memperoleh akhir mengenaskan di alam eksekusi yang mati dibakar. Tapi, semua itu tidak pernah menghentikan para pencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Mencari Kehidupan Lain 

Nicolaus Copernicus dan teori Heliosentris jelas mendobrak pemikiran masa itu kalau Bumi itu spesial dan pusat Tata Surya. Dalam gagasan Copernicus, Matahari yang jadi pusat alam semesta dan semua planet bergerak mengelilingi Matahari, termasuk Bumi.

Pada akhirnya, kita pun memahami kalau Matahari itu berada pada pusat massa Tata Surya, bukan pusat alam semesta. Hasil pengamatan Tycho Brahe dan Kepler menjadi dasar lahirnya 3 Hukum Kepler yang menjadi dasar pemahaman pergerakan planet-planet sampai dengan hari ini.

Kehadiran Galileo Galilei yang mengarahkan teleskop untuk pertama kalinya ke langit pada tahun 1609 justru membuktikan teori Heliosentris yang dikemukakan Copernicus. Bisa kita lihat kalau semua pengamatan yang dilakukan itu harus saling mengonfirmasi hasil yang ada sebelumnya. Jika ternyata tidak sesuai, maka ada teori yang memang tidak berlaku lagi, seperti ide Geosentris yang dikemukakan Ptolemy.

Untuk menemukan kehidupan lain pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Keterbatasan instrumentasi dan metode jadi tantangan tersendiri. Bintang yang kita lihat di langit hanya berupa obyek titik. Planet itu jauh lebih kecil dari bintang. Artinya, butuh teknik yang tepat untuk bisa menemukan planet seperti itu.

Selama berabad-abad sejak Galileo mengarahkan teleskop ke langit, ada klaim penemuan planet di bintang lain yang ternyata sinyal yang salah atau bukan planet. Baru di tahun 1992, planet pertama di bintang lain ditemukan. Dan baru di tahun 1995, era exoplanet dimulai ketika para astronom menemukan planet di bintang serupa Matahari.

Ini penting. Ketika kita berbicara tentang planet lain yang punya kehidupan, tentunya ide tentang kehidupan itu akan mirip dengan Bumi. Kehidupan lain itu bisa seperti di Bumi atau bahkan sangat berbeda dari Bumi. Tapi, kalau kehidupan itu jauh berbeda dari yang ada di Bumi, bagaimana kita mengenalinya? Ini akan seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami.

Tidak percaya? Alam semesta memiliki 2 triliun galaksi. Satu galaksi isinya bisa miliaran bintang. Dan setiap bintang, jika punya planet, tentunya memiliki minimal 1 buah planet.

Nah, bagaimana kita bisa menemukan kehidupan yang berbeda dari Bumi? Untuk menemukan yang mirip saja tidak mudah. Maka, para astronom mempersempit ruang pencarian. Kehidupan yang kita kenal itu seperti di Bumi dan Bumi mengelilingi Matahari. Maka yang dicari planet-planet yang mengelilingi bintang serupa Matahari. Dan karena definisi kehidupan yang dicari adalah kehidupan yang dikenal, yakni kehidupan yang ada di Bumi.

Anggap ini adalah aturan dasar ketika mencari planet yang punya kehidupan lain. Selain itu, kehidupan yang dicari juga tidak persis seperti Bumi yang sudah berevolusi dan memiliki kehidupan cerdas. Planet dengan kehidupan itu, artinya, ada mikroorganisme yang bisa muncul dan berkembang. Permasalahan berikut, bagaimana mengenali planet yang punya kehidupan seperti di Bumi dari jarak yang luar biasa jauh?

Planet itu jauh lebih kecil dari bintang. Dari Bumi, Bintang hanya tampak seperti titik cahaya di langit. Jadi, bagaimana mengenali planet yang punya kehidupan seperti di Bumi?

Perlu syarat lain lagi. Kali ini, para astronom mencari komponen utama pendukung kehidupan seperti halnya di Bumi. Ada banyak, tapi apa yang paling utama?Air! Dalam wujud cair!

Untuk itu, tidak mudah bagi kita untuk melihat langsung planet-planet tersebut. Maka dikembangkanlah metode pencarian tidak langsung dengan perubahan pada gerak dan cahaya bintang, akibat interaksi dengan planet. Hasilnya, kita sudah menemukan 3671 exoplanet dan 13, di antaranya berpotensi laik huni a.k.a punya potensi memiliki air dalam wujud cair. 

Dan ternyata, planet seukuran Bumi atau yang berpotensi laik huni bukan hanya mengorbit pada Bintang yang serupa Matahari. Paling banyak justru ditemukan pada Bintang yang lebih dingin dari Matahari yang dikenal sebagai katai merah.

Selain itu, tipe planet yang ditemukan tidak semuanya mirip dengan yang kita kenal di Tata Surya. Ada tipe planet baru, seperti planet Jupiter panas, Bumi super, dan Neptunus mini yang membuat para astronom harus mengkaji lagi bagaimana planet-planet ini bisa terbentuk.

Perjalanan ini belum berakhir karena kita masih akan terus mencari tahu komposisi planet yang ditemukan dengan mencari tahu senyawa kimia di atmosfer planet-planet tersebut dan berusaha memecahkan misteri bagaimana kehidupan bisa dimulai di sebuah planet. Ini sekaligus juga menjawab pertanyaan kita sendiri.

Bagaimana kehidupan di Bumi dimulai. Perjalanan selama ribuan tahun ini memang belum menghasilkan ada makhluk luar angkasa seperti dalam film sains fiksi. Bahkan, penjelajahan berawak yang kita lakukan baru sampai di Bulan dan akan mengarah ke Mars. Ada banyak misteri yang belum terungkap dan semua itu butuh waktu dan ketekunan untuk melakukan penelitian yang selalu setia pada kaidah ilmiah.

Tapi, pertanyaan menarik yang bisa kita angkat, seandainya kita menemukan kehidupan cerdas lain di planet lain di Bintang lain, bagaimana tanggapan kita?Secara ilmiah, ini tentu kemajuan yang luar biasa dan kita bisa melakukan kontak. Tapi, dari sisi budaya dan keyakinan, apakah ini akan menjadi polemik lama yang diangkat kembali? Akan menarik untuk mengetahui jawabannya.

Indonesia, Sains, dan Hoax 

Berkaca pada kesuksesan berbagai negara, pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia? Perkembangan astronomi Indonesia sudah dimulai sejak berabad-abad lampau ketika masyarakat Indonesia menggunakan rasi bintang sebagai acuan untuk bercocok tanam dan melaut. Untuk fasilitas dan penelitian, sudah ada sejak Observatorium Bosscha didirikan tahun 1923 dan pendidikan formal astronomi dimulai tahun 1951 di Astronomi ITB.

Sejak itu, sudah banyak makalah dalam jurnal ilmiah skala nasional dan internasional yang diterbitkan. Dan untuk pengembangan Indonesia timur, Observatorium Nasional akan didirikan di Gunung Timau, Desa Amfoang, NTT. Itu dari sisi penelitian. Di masyarakat, ketertarikan astronomi juga sangat tinggi, dibarengi rasa ingin tahu yang luar biasa besar.

Peristiwa astronomi selalu menarik perhatian publik. Di antaranya Gerhana Matahari Total di tahun 2016 yang diamati dari seluruh Indonesia. Perbedaan besar terasa ketika GMT 2016 semua orang bisa mengamati Gerhana dengan bebas. Sementara tahun 1983 dan 1988, ada larangan melihat gerhana oleh pemerintah.

Rupanya, ketakutan-ketakutan berbalut cerita hoax itu masih terus ada dan kami temui jelang GMT 2016. Dan sejak 10 tahun lalu, hoax astronomi selalu jadi santapan publik. 

Kiamat yang terus ditunda setiap tahun maupun ide bahwa Mars akan tampak sebesar Bulan. Sekilas memang menarik, tapi di sini juga memperlihatkan ketidakmampuan pembaca dalam menelaah dan mengkaji sebuah berita.

Salah satu yang paling dikenal sekarang adalah merebaknya ide bahwa Bumi berbentuk datar sejak pertengahan tahun 2016. Menariknya lagi, sebagian masyarakat dengan mudah percaya pada info tersebut. Termasuk di dalamnya mereka yang berpendidikan.

Bentuk Bumi yang seharusnya sudah tidak menjadi masalah sejak abad ke-6 SM rupanya masih menjadi masalah di masa kini. Dan publik tidak mampu untuk melakukan proses riset mandiri untuk bisa memahami seperti apa bentuk Bumi tersebut. Kita seperti kembali ke masa lalu.

Dulu, ribuan tahun yang lampau, secara umum masyarakat di Bumi memang belum mengetahui seperti apa bentuk Bumi. Keterbatasan alat dan pengetahuan mungkin bisa kita jadikan kendala. Tapi, para pengamat langit yang dengan rutin melihat pergerakan benda-benda langit tentunya sudah mengetahui seperti apa bentuk Bumi kita.

Artinya, seperti apa bentuk Bumi sudah bukan pertanyaan lagi. Mengapa publik masa kini dengan mudah percaya? Lagi-lagi ada pada ketidakmampuan dalam memahami dan menganalisis bukti yang ada sesuai dengan metode ilmiah. Dalam melakukan riset, kita memulainya dengan hipotesa, setelah itu percobaan dilakukan repetitif untuk memperoleh hasil yang presisi.

Untuk berbagai kasus, tampaknya masyarakat kita tidak memulai dengan hipotesa melainkan dengan sebuah kesimpulan. Jika dimulai dengan kesimpulan, itu artinya apa pun data pengamatan yang kita miliki tidak akan memberi pengaruh apa pun pada hasil. Ini jelas bukan kaidah ilmiah.

Hipotesa awal bisa saja salah dan diperbaiki setelah kita memperoleh simpulan dari hasil pengamatan atau percobaan. Dan sains selalu terbuka dengan perubahan. Untuk kasus yang ramai diperbincangkan, semua bukti mengarah pada bukti kalau bentuk Bumi itu bulat.

Dan ini bisa dijelaskan dengan sangat baik dalam bahasa matematika. Jika kita bersikeras bahwa bumi itu datar, maka harus bisa dijelaskan pula hukum-hukum fisika yang mengatur semua itu. Ketidakmampuan masyarakat kita dalam menganalisis inilah yang dengan mudah dimanfaatkan oleh para penyebar hoax selama bertahun-tahun.

Pertanyaannya, apa yang salah sehingga masyarakat yang terdidik pun tidak mampu berpikir logis?

Masalah ini memang tidak eksklusif milik Indonesia. DI berbagai negara, ada kelompok-kelompok serupa yang mempertahankan ide tersebut dan menyebarkan berbagai hoax lainnya yang sering kali merupakan cocoklogi sains dan agama.

Dua entitas yang seharusnya berjalan beriringan dan terpisah, justru dicampuradukkan untuk memperoleh pembuktian dan pembenaran. Salah satu upaya yang kami lakukan untuk mereduksi hoax adalah lewat tulisan dan pengajaran sains di masyarakat.

Mengapa ini bisa terjadi? Apakah karena kita tidak terbiasa dan tidak dibiasakan untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu dan mencari jawabannya sendiri? Ataukah karena kita dibiasakan untuk menghafal bukan menganalisis?

Yang pasti, ini masih merupakan PR bagi kita semua. Dan di sini juga peran penting untuk mengkomunikasikan sains pada publik. Bukan sekadar membangun kepedulian pada sains, tapi juga mendidik masyarakat untuk memahami sains dan melatih pola pikir.