Kamu,
sejak kapan bisa membuat rindu
menjadi sebrengsek ini
sejak kapan namamu berarti
jarak yang tidak akan mungkin aku capai

Kamu,
satu hal yang dulunya mustahil
kini sudah berubah menjadi sangat mungkin
satu hal yang selalu dipertanyakan orang
kini sudah kita temukan jawabnya

Kamu,
menjadi sebuah sumber tawaku
sebuah senyum pengampun yang
aku bahkan tak tahu ternyata sebegitu indahnya

Kamu,
membuat rangkaian kata dalam doa
menjadi penuh makna
menjadi sebuah ajakan untuk
bertumbuh berdua bersama dengan Tuhan

Kamu,
sebuah janji dari masa lalu
yang aku pegang teguh
sebuah rasa yang abadi
di sudut hati
menjelma nyata hingga menutupi semua logika
menyamarkan luka
menderaskan semringah

Kamu,
aku cinta

~

• I N G A T (AN) •

sebab tak punya ruang banyak di ingatan
aku memilih melupakan beberapa kenangan
bukan karena tak eman
hanya agar pikiranku ringan

aku butuh diingatkan
sebut saja dua atau tiga hal
tentang kita di waktu lampau

sebut hal lucu yang kita tertawakan
ingatkan tentang air mata yang pernah jatuh
atau justru pelukan dan ciuman rahasia
yang pernah kita lakukan

tak akan sulit bagiku untuk ingat
layaknya gudang yang sesak
bilamana satu laci terbuka
yang hadir adalah butiran kenang
menderas bagai aliran ombak

dan bila ingatan-ingatan itu sudah kembali
maka akan muncul lima kata pada kenangan
yang terpaksa kutumbalkan:
'selamat jalan, sampai bertemu kembali'

~

• Janji Temu⁣ •

⁣temui aku pukul tujuh⁣
katamu⁣⁣

suara mesin motor berusaha⁣
mengalahkan teriakan klakson⁣
para manusia yang merasa dikejar ⁣
oleh waktu⁣

⁣aku duduk tak sabar⁣
resah⁣
sepuluh menit menjelang⁣
jam tujuh⁣

⁣temui aku pukul tujuh⁣
katamu⁣

⁣kereta telah berangkat⁣
para pengantar berjalan pelan⁣
meninggalkan peron⁣
beberapa orang tampak lega⁣
sisanya menghapus jejak air mata⁣

⁣aku duduk diam⁣
dadaku sesak⁣
sebelas menit selepas⁣
jam tujuh⁣

⁣temui aku pukul tujuh⁣
katamu⁣

⁣suara masinis terdengar⁣
kereta akan segera berhenti⁣
pemandangan telah berganti⁣

⁣aku duduk tak tenang⁣
apa yang akan terjadi⁣
tak terbayang⁣
dua menit lagi aku sampai⁣
di kotamu⁣

⁣temui aku pukul tujuh⁣
katamu⁣

⁣tak ada suara apa pun⁣
sunyi ⁣
senyap⁣

⁣aku duduk menangis⁣
aku bisa mendengar suara tawamu⁣
di kepalaku⁣
aku bisa melihat wajahmu ⁣
yang berkata 'temui aku pukul tujuh'⁣

⁣aku datang sayang⁣
di sini⁣
pusaramu⁣
tepat pukul tujuh⁣

~

• Itu Cinta •

Saat kau meminta maaf, entah siapapun yang salah; itu cinta.⁣

Saat kau bisa mengalahkan emosimu hanya dengan kata-kata yang menenangkan darinya; itu cinta.⁣

Saat kau menganggap bahwa hujan berarti dia sedang merindumu; itu cinta.⁣

Saat senyumnya bagimu adalah senyum pengampun; itu cinta.⁣

Saat kau memilih berkomitmen dalam pilihan yang telah kau tetapkan apapun resikonya nanti; itu cinta.⁣

Saat kau tidak berjanji untuk setia, tapi berjanji untuk tidak saling menyakiti; itu cinta.⁣

Saat kau tidak berjanji untuk sehidup- semati, tapi berjanji untuk tetap saling memiliki; itu cinta.⁣

~

• Budak Angin •

hampir sepanjang umurku kuabdikan menjadi seorang budak angin.

diterbangkannya bagai dedaunan kering yang lepas dari tangkai.

terbang kencang bahkan perlahan menuruti kemana arah yang dia tuju.

tak ada perlawanan.

melawan sama dengan menentang alam.


lalu aku penat. 

jenuh. 

muak.

angin terlalu semena-mena padaku.

di satu titik dia membiarkanku terombang-ambing di udara tanpa tahu arah.

lain waktu dia meninggalkanku di satu tempat yang sangat tidak kusukai.


aku bermimpi.

di mimpiku aku melihat bahwa aku bukan lagi seorang budak angin.

aku adalah pohon besar dengan akar yang kokoh menancap ke tanah.

angin tak lagi bisa membawaku pergi.

akulah yang tahu pasti kapan daunku akan gugur.

aku mampu bertahan dari kencangnya terpaan angin.

bahkan angin yang datang terkadang berhenti sebentar di rindangnya daun-daunku menikmati keteduhan.


aku terbangun dengan bahagia.

aku tak lagi menjadi budak angin.

kuceritakan mimpiku pada seorang pujangga.

dan dia bertanya : "bukankah hakikat hidup ini adalah selalu bergerak? Bila kau menjadi sebuah pohon yang kokoh dan kaku, bagaimana kau akan bergerak? Bagaimana kau menjalani hidup?"


aku terdiam.