Diketahui bersama bahwa  setiap anak terlahir sebagai buah cinta sepasang manusia, diasuh entah lewat sosial media, teknologi canggih atau lembut jari ibu disempurnakan dengan tegas suara ayah. 

Namun, setiap anak yang sadar akan hal tersebut menjadikan kepalanya sebagai kehormatan keluarga, sementara di hatinya segala rindu dan kasih sayang disemayamkan.

Sebagai anak yang terpisah dari orangtua sejak kecil, hanya karena menuntut ilmu di kejauhan selama berlipat-lipat tahun, tentu memiliki hubungan yang berbeda. Namun, tetap akan merasakan bagaimana dirinya lahir dan tumbuh besar.

Menjalani waktu dengan harus, sebab dilatih untuk tabah dan kuat menentang kerasnya hidup bahkan sejak kita masih dalam kandungan.

Tak ada pertaruhan nyawa yang melebihi kehendak seorang ibu merelakan tubuhnya terkoyak-koyak hanya untuk melahirkan setiap anak. Berakibat pada perenungan sang anak yang senantiasa bercita-cita untuk membanggakan kedua orangtuanya, sebab mustahil membalas jasa-jasanya.

Sering aku  berpikir serupa dengan anak kebanyakan yang selalu bekerja keras untuk kembali mencoba menghibur orangtuanya dengan kemewahan, namun ternyata salah.

Tidak semua orangtua ingin anaknya kaya dan hidup bergelimang harta. Beberapa orangtua hanya ingin melihat anaknya berguna dan sukses atas pilihan hidupnya sendiri, demikianlah orangtuaku berpesan.

“Kau tak perlu kaya, cukup begitu saja” lugasnya dengan isyarat seperti manusia pada hakikatnya, jujur dan rendah hati.

Sebuah pesan-pesan sarat makna masih mendiami kepalaku, saat kutulis narasi ini membuatku membayangkan kepengecutan. Tentang anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan tetapi tidak mampu melakukan apa-apa untuk orangtua. Sebaliknya, hanya membuat orangtua semakin menderita.

Seandainya kematian anak dapat membayar hutang budi pada kedua orangtua, mungkin sudah ada yang mati lebih dulu dan memaksaku menyusul. Sayangnya, kematian justru mengakhiri segala, dan hanya menambah penderitaan yang ditinggal, terutama orang tua dan keluarga lainnya.

Bukan tanpa alasan, sebab tak ada yang bisa disodorkan oleh seorang anak kepada orangtuanya sebagai pembalasan, semisal derita. Bahkan jauh sebelum anak mengenal derita, orangtua sudah merasakannya nyaris setiap hari.

Kadang tak henti-hentinya aku memaki diri sendiri yang terkutuk oleh lingkungan hanya karena terlahir dari keluarga miskin, tapi inilah hidup.

Kaya atau miskin tetap akan jadi bahan cerita, itulah mengapa bagi beberapa pendiam percakapan menjadi hal yang kian berbahaya dan harus dihindari.

Tentunya, sebanyak apapun yang dilakukan seorang anak kepada orangtua. Tak akan pernah seimbang. Lalu apa yang bisa? Aku pikir tidak. Nyawa pun tidak, di sinilah aku kembali melihat diriku di cermin, layaknya sampah.

Walau sampah bisa didaur ulang, sementara aku tak mungkin dilahirkan kembali. Seperti lagu Jason Ranti, “Ingin kembali ke rahim ibunya”. Hanya ingin, sebatas itu.

Dalam perantauan menimba ilmu, tak ada kesenangan yang singkat, hanya ada derita yang berkelanjutan dan rindu yang berkepanjangan. Sesulit itu, kadang aku berkabar pada orangtua, berharap ditanggapi dengan santai, ternyata tidak.

Sehebat-hebatnya aku dalam bidang kepura-puraan, tetap saja seorang ibu mengetahui dan merasakan derita anaknya walau dipisahkan jarak sejauh apapun.

“Aku baik-baik saja bu, aku sehat dan selalu tenang” kataku. Namun, percuma. “Kau berasal dari perutku, saat aku gelisah tak bisa tidur, berarti kau sedang tidak baik-baik saja” kata ibu.

Walau aku terus menampik, ia terus mendesak. “Tak ada kebohongan yang paling menyakitkan selain dibohongi oleh anak sendiri. Istirahat, atau pulanglah nak” pintanya memanja.

Walau jarang tidur dan sakit-sakitan, lantaran kontrakan berakhir dan aku tidak memiliki gaji tetap. Kebiasaanku di perantauan ini sungguh asik di mata orang, di mana setiap waktu ke kedai kopi agar tak terlihat terlantar, aku bisa melakukan banyak hal, salah satunya seolah-olah menyibukkan diri agar waktu berlalu tanpa terasa menyesakkan karena sia-sia.

Sesekali teman datang menyapa, entah empati yang membawanya atau sekedar basa-basi perihal ingin mempromosikan kenaikan pangkat dan banyaknya gaji diterima. Aku tidak terobsesi, aku muak dengan pangkat.

Aku hanya ingin merasa bebas, dan itu cukup. Meskipun kebebasanku tak memberikan apa-apa, hanya beban keluarga. Namun, yang pasti aku tak memakan hak orang lain, dan aku puas.

Kalaupun zaman semakin maju sehingga teknologi semakin canggih dan aku bisa dilahirkan kembali, kelak. Aku hanya ingin menjadi pengabdi pada orangtua seutuhnya.

Meskipun orangtua akan menyayangi anaknya, seburuk apapun dia. Tetapi aku merasa tidak pantas untuk itu, sayangnya Chairil sudah meninggal. Sebelum sempat aku memintanya memasukkan keluhanku pada puisinya, Binatang Jalang.

Hidup semacam ini menuai kontroversi, bila terlalu cepat diakhiri hanya akan menyisakan sedikit cerita.

Tapi bila dibiarkan, tentu menuai keluh-kesah keluarga yang tiada habisnya. Di mana seorang anak yang lemah gagal mengabdi pada kedua orangtua namun, enggan bunuh diri.

Aku tidak punya pekerjaan, tidak pula punya impian yang istimewa, tidak juga kekasih, apalagi uang.

Aku hanya memiliki diri sendiri yang masih menjadi pertimbangan malaikat untuk segera dijemput. Sebab aku tak memiliki apa-apa, sehingga aku tak perlu khawatir kehilangan.