Hidup mungkin semacam melempar dadu, dan kita tak akan pernah tahu angka berapa yang akan terbuka. Menarik? Mungkin. Tetapi, mungkin tidak untuk sebagian orang yang malas menunggu dengan rasa penasaran. Segala bisa saja terjadi, hanya perkara sebenarnya: kapan?

Ketika suatu kepastian membawa kita pada sebuah kenyataan, jalani saja. Mungkin tak selalu menyenangkan atau menyedihkan, sebab hidup memang dirancang untuk melewati berbagai anomali musim.

Sudah seberapa jauh kau pergi? Atau sebenarnya kau tak pernah ke mana-mana? Biar kutebak. Kau sering tergelincir ketakutanmu sendiri. Beberapa rindu yang sejatinya siap melesat menerobos sekat, kerap kau patahkan sendiri.

Aku bukan yang paling memahamimu, bukan. Setiap jengkal dari dirimu hanya dirimu sendiri yang mengerti. Tapi kau sering mengabaikannya. Menganggap semuanya akan selalu baik-baik saja. Hingga suatu waktu, diam-diam kau susut tangis yang turun tanpa dapat kau bendung.

Tahukah kau, saat itu terjadi aku ingin bersamamu dengan sebuah pelukan, melepaskan semua.
Sore tadi sebelum hujan mengguyur kotaku, kau datang lewat sebuah pesan, “I will wait when the right time comes. Anything Is Possible.” Senyumku mengembang lagi, dan kali ini aku paham mengapa.

Sudah kuduga, setiap percakapan-percakapan kita sebenarnya hanyalah sebuah harap yang diterbangkan diam-diam setelah terpendam dalam-dalam di dalam kepala, di antara debar dada, di antara rapuhnya rongga-rongga hati, di antara denyut nadi.

Ini malam-malam panjang kita yang ke sekian. Setangkup roti, lemon dingin dan wangi tembakau ikut melengkapi. Dan rindu-rindu yang belum juga tergenapi temu akan kita bawa dalam pekat ingatan, hening bersama.
Kita akan saling menemukan. Menghela cemas. Menghapus kemungkinan demi kemungkinan yang menyuburkan kesedihan.

Kita akan menggenggamnya. Menggenapkan hari-hari yang ganjil. Menyusunnya dalam sebuah puzzle cerita yang paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kita inginkan.

Anything Is Possible.