Penikmat kopi
1 bulan lalu · 285 view · 4 min baca · Budaya 65363_52728.jpg
Foto: Washingtontimes

Untuk Pengkhianat Liberalisme, Kaum Setengah Liberal

Diksi "khianat" akhir-akhir ini makin populer sejak pertemuan dua tokoh nasional (Jokowi-Prabowo). Oleh pendukungnya, Prabowo dianggap berkhianat atas amanat rakyat, atas apa yang diinginkan mereka. 

Tapi sudahlah. Mari kita tinggalkan mereka yang masih belum paham bahwa politik itu adalah seni.

Mereka lupa bahwa politik menyajikan menu yang kerap tidak sesuai dengan keinginan. Itulah mengapa politik enak dibahas, dijalani, bahkan diperbincangkan berhari-hari. Politik merupakan bagian dari diri manusia yang selalu terkait dengan segala hal. Imbas politik itu integratif bagi kehidupan manusia.

Kisah heroik maupun romantik di masa lalu tidak bisa lepas dari urusan politik. Perang atas nama agama sekalipun tidak bisa dilepaskan dari politik. Karenanya, berpolitik sama seperti menjalani hidup itu sendiri. Politik pula yang memengaruhi sebuah ideologi saling sikut, berebut pengaruh di tengah-tengah masyarakat.

Nah, jangan heran bila karena politik hubungan darah bisa berakhir. Meski dengan argumen yang sama-sama mulia, "demi kemaslahatan umat". 

Sebagai penganut demokrasi yang dilandasi Pancasila, Indonesia berusaha menampilkan demokrasi yang terbaik. Melepas seragam demi keberagaman sebagai anugerah negeri ini. Melalui pemahaman itu, hak individu makin terjamin. 

Pada sisi inilah saya temukan paradoks yang jarang kita cermati. Kaum liberal yang mengusung tema kebebasan individu serta pemenuhan hak individu kelihatan galau. Tema indah itu mereka 'rusak' ketika berhadapan dengan HTI atau Wahabi. 


Semangat liberalisme hanya nyaring ketika yang 'tertindas' kaum liberal. Sementara ketika yang terusik HTI maupun Wahabi, mereka malah ikut 'menghasut'. Contoh kasus ketika HTI melalui regulasi dibubarkan, mereka diam bahkan mendukung 'agresi' itu. Bagi saya, sikap mendua itu merupakan benih 'pembunuhan' atas liberalisme.

John Locke barangkali kecewa berat dengan kaum liberal yang ada di Indonesia. Mereka gagal menyelamatkan HTI dari keegoisan negara. Meski tidak setuju dengan ide HTI, bukan berarti pembubaran menjadi solusi.

Anak-anak liberal itu memandang perbedaan sebagai keharusan. Kebebasan berpikir melahirkan tamadun, dan tamadun memiliki 3 ciri. Pertama, mencari kebenaran yang menghasilkan ilmu; kedua, kebaikan yang menghasilkan moral; dan ketiga, keindahan yang menghasilkan seni (Quraish Shihab).

HTI, Ahmadiyah, JIL, Wahabi, maupun aliran-aliran lain di Indonesia harusnya sama di hadapan hukum dan liberalisme. Aneh ketika mengaku liberal, namun antipati pada ide HTI. Mengapa tidak berani adu gagasan saja tanpa ikut-ikutan sepakat dengan regulasi berbau politis?

Katakanlah HTI dianggap merongrong kedaulatan negara, lah mengapa mereka malah bersikap beda pada PKI? Mereka lebih toleran pada DNA PKI ketimbang HTI. Mereka juga terlalu sibuk mengurusi pakaian personal, semisal cadar maupun pakaian Arab.

Sikap tidak elegan itu, menurut saya, telah mencederai liberalisme. Seseorang yang menganut liberalisme harusnya seimbang melihat fenomena bangkitnya Islam dan komunis di Indonesia. Kecuali memang liberalisme tidak bisa menjadi solusi bagi bangsa ini.

Silakan protes, toh libertarian memang kurang senang jika pemerintah terlalu mengatur kehidupan pribadi. Meski di saat lain ada libertarian yang begitu semangat menjadi pelayan kekuasaan; menjadikan kekuasaan sebagai alat menghabisi lawan-lawannya.

Menurut saya, libertarian atau sebutan lainnya bagi penganut liberalisme harus keluar dari identitasnya. Jangan terjebak pada politik identitas, menghargai perbedaan. Jangan sampai libertarian malah menjadi kelompok fanatik baru. Apalagi bila mendua dalam bersikap maupun merespons sebuah pemahaman.

Jangan sampai penganut liberalisme ternyata tidak toleran terhadap kelompok yang tidak senang pada mereka. Libertarian menyenangi diskusi bukan persekusi, entah itu persekusi dalam bentuk verbal maupun lisan.

Seorang penganut liberalisme selalu melihat sisi positif dari sebuah fenomena. Tidak reaksioner berlebihan, bukan pula seorang provokator yang melahirkan kebencian. Itulah mengapa saya protes keras ketika mereka yang mengaku liberal namun benci HTI.

Saya juga protes kepada mereka yang selalu menyindir perempuan bercadar. Bukan karena yang diserang Islam, namun nilai-nilai itu tidak menunjukkan Anda seorang libertarian. Ah, apa urusan mereka bercadar atau tidak? Bukankah itu hak mereka memahami agama yang dianut?


Saya heran pula ketika para penganut liberalisme tidak bicara lantang saat hak individu menggunakan media sosial dibatasi. Padahal libertarian sejati harusnya anti-pengekangan hak individu. Apalagi sebuah keputusan yang tidak didasari riset lebih pada ketakutan penguasa.

Para libertarian juga diam ketika pemerintah mendominasi tafsiran Pancasila melalui BPIP. Diam pula ketika pemerintah dengan semena-mena menafsirkan makar menurut definisi penguasa.

Kegamangan-kegamangan itu yang memberanikan diri menyatakan para penganut liberalisme telah berkhianat pada nilai liberalisme. Bisa begitu, bisa jadi saya yang salah memahami atau mereka yang salah paham tentang liberalisme.

Sama halnya dengan mereka yang menganut sebuah agama hanya syariat belaka. Saya kira masih banyak libertarian di Indonesia yang hanya paham 'syariat' liberalisme tanpa memahami liberalisme lebih dalam. Hakikat liberalisme telah mereka tinggalkan.

Pilar demokrasi (media) yang dimiliki para penganut liberalisme juga tak berimbang. Ada pemilahan berita maupun informasi yang disajikan. Sepanjang penelusuran saya, hanya Qureta yang benar-benar menerapkan liberalisme.

Media lain, jika ditanya, para pemilik media itu mengaku penganut liberalisme. Tapi media mereka tidak terbuka. Nulis soal khilafah maupun isu-isu yang tidak disenangi penguasa dilarang. Salah satu media terkenal di Indonesia pernah menghapus artikel saya hanya karena isinya dianggap terlalu sensitif.

Katanya bertentangan dengan nilai Pancasila, katanya bisa menghasut para pembaca. Ketika itulah saya menemukan Qureta, saya coba tulis dan ternyata no problem. Qureta ibarat meja makan; ada banyak artikel yang disajikan.

Penganut liberalisme harusnya seperti Qureta. Biarkan publik berdialektika, nanti pada akhirnya setiap individu akan menemukan makanan sehat dan enak menurut selera masing-masing.

Penganut liberalisme yang memaksakan pemahamannya berarti ia belum liberal. Penganut liberalisme tidak peduli mayoritas dan minoritas; selama hak individu dilanggar, mereka akan berdiri di depan. Jika tidak, ia pengkhianat liberalisme.

Artikel Terkait