Sebuah pesan WA masuk dari seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang radikalisme, “mengapa pemuda NU sangat paranoid terhadap radikalisme?” 

Pertanyaan yang gampang-gampang sulit untuk dijawab. Bisa jadi jawabannya karena alasan “hypernasionalisme” yang kini melanda pemuda NU, dan radikalisme dianggap sebagai bahaya laten yang sewaktu-waktu mengancam kedaulatan NKRI.

Namun, sepertinya diskusinya lebih panjang daripada itu. Mengapa fobia radikalisme begitu menggema di kalangan pemuda NU? Semoga dugaan ini salah. 

Saya malah berpikir bahwa fobia ini merupakan keberlanjutan dari sikap fundamentalisme yang telah merebak di sebagian pemuda NU. Fundamentalisme di sini karena kesan peneguhan sifat moderat berlebihan yang berimplikasi pada justifikasi sepihak yang berujung mudah menuduh orang lain radikal, intoleran, dan seterusnya.

Pengertian fundamental ini sejalan dengan penjelasan Thomas Meyer dalam bukunya berjudul “Politik Identitas: Tantangan terhadap Fundamentalisme Modern”. 

Meyer menjelaskan bahwa fundamentalisme tidak bisa serta-merta menunjuk kebudayaan atau kepercayaan tertentu, namun lebih pada “gaya” dari suatu kebudayaan mengekspresikan kebenarannya. Karakter ini disebut impuls ideal typical, merasa memiliki privilege atas kebudayaannya dan merasa memiliki hak untuk menegakkan kebudayaannya secara umum.

Kini kita perlu melangkah lebih jauh untuk mengidentifikasi suatu labeling semacam moderat dan fundamentalis bukan merujuk pada substansi ajaran tertentu (misalnya Kristen fundamental, Islam fundamental), namun lebih mengarah kepada manifestasi terhadap upaya menegakkan keyakinannya atas keyakinan orang lain. 

Jika kebudayaan lain tidak sejalan, maka penyematan radikalisme (sama dengan terhadap Wahabi) adalah suatu mekanisme eksklusivitas bagi pematrian identitas kebudayaan pemuda NU atas liyan (the others).  

Sikap fundamentalisme ini yang mengantarkan pemuda NU, paling tidak yang juga saya jumpai di media sosial, mudah menganggap pemuda Islam atau ustaz lain menjadi radikal. 

Bukan karena memang mengetahui sikap radikal dari pemuda atau ustaz-ustaz tersebut, tapi karena para pemuda  Islam lain dan para ustaz tersebut tidak memiliki kedekatan, baik secara personal maupun budaya pemahaman dengan NU. Dengan kata lain, radikalisme bisa jadi hantu yang ditakuti dan juga ciptaan mereka sendiri.

NU berwatak moderat yang memegang teguh prinsip tawazun, i’tidal, dan tasamuh. Tidak perlu ragu soal itu! 

Sayangnya, salah satu cara menampakkannya dengan pongah berdalih paling moderat sendiri. Ejekan, makian, hingga kutukan dari pemuda NU terhadap kelompok Islam yang mereka anggap anti-Pancasila, radikalisme, Islam Medsos, dan seterusnya menjadikan mereka secara tidak sadar melebur menjadi bagian dari kelompok yang tidak moderat lagi.

Gaya fundamentalisme sebagian pemuda NU yang mudah menuduh orang lain radikali berimplikasi terhadap penyempitan diri dalam dua hal, yakni dari segi afektif, terutama soal empati, dan segi koginitif, pembacaan dinamika sosial-politik Islam belakangan ini.

Momok radikalisme terhadap anak muda yang belajar agama membuat kita kehilangan empati terhadap upaya radikalisme pemuda Islam non-NU dalam mempelajari agama. Radikalisme di sini berarti mengakar atau bersungguh-sungguh belajar agama. 

Bukankah beragama itu harus radikal dalam arti mengakar? Sesekali kita perlu untuk tidak selalu mengaitkan radikalisme dengan wujud tindakan teror, tapi bagaimana saudara sesama Islam kita itu sedang bersusah payah menempuh belajar Islam secara benar.

Meskipun, katakanlah, di tengah jalan mereka menempuh jalur yang keliru, entah karena otodidaknya belajar agama atau salah memilih panutan. Hal lain yang perlu dicatat, terbukanya pemikiran yang menyebabkan pencarian agama sebagai solusi bisa dipicu karena pengalaman-pengalaman buruk seperti diskriminasi, krisis sosial, ekonomi dan seterusnya. 

Proses ini diperlukan sebelum mencapai pembingkaian dan sosialisasi dalam rangka mengadopsi identitas kolektif kelompok radikal (lebih lanjut, silakan baca buku Osman tentang HTI, 2018). Sikap bullying pemuda NU dengan menuduh mereka radikal akan semakin membuat mereka enggan lebih dekat dengan NU.    

Dari segi kognitif, sifat mudah menuduh orang lain yang menampakkan keislamaan mereka sebagai radikal menjadikan kita masih terjebak dalam tempurung literatur-literatur politik Islam pada masa lalu di Indonesia. Fenomena-fenomena seperti menguatnya anak muda yang bangga dengan hijrah, atau ikut pengajian, tidak selalu sama dengan gerakan Islamisasi pada era 1980-an. Atau lebih lama lagi soal DI/TII.

Sudah terlalu kompleks dinamika yang berjalan untuk hanya menyederhanakan kebangkitan Islam anak muda perkotaan, dan kebetulan bukan jemaah kiai-kiai NU, sama dengan kecenderungan sikap radikalisme. Kita juga perlu mengakui, di kalangan anak muda yang hidup perkotaan, NU tidak setenar dan seakrab secara budaya seperti di kampung saya di Jawa Timur.  

Beberapa penelitian yang belakangan hadir mengonfirmasi temuan lain dalam membaca gelagat pemuda Islam di Indonesia, di luar pemahaman mainstream radikalisme. 

Misalnya pendekatan post-Islamisme yang melihat bahwa anak-anak muda perkotaan sedang melakukan akrobat identitas dengan mengikuti perkembangan zaman modern, namun tidak mau kehilangan identitas keagamaan mereka. Ustaz-ustaz sosial media, yang memang sebagian perlu diragukan kapasitas keagamannya, telah menfasilitasi kebutuhan psikologis mereka.

Ada yang melihat hal ini sebagai hybrid identity (persilangan identitas) yang dialami anak muda Islam hingga ada yang melihatnya tidak lebih dari soal komodifikasi agama. Di sini pemuda NU dituntut untuk memperkaya khazanah literasinya di luar pemikiran yang telah mapan.

Meski tidak bijak untuk sama sekali melupakan soal radikalisme dan terorisme yang bisa jadi senantiasa mengancam, namun generalisasi untuk mudah menganggap orang lain radikal dalam konotasi yang negatif menjadi kita alpa pada pemahaman-pemahaman alternatif.

Khawatirnya, terlalu banyak energi yang harus dikeluarkan karena urusan radikalisme, padahal bisa jadi urusannya hanya soal ekonomi dan gaya hidup. Ibarat ingin menangkap burung merpati, namun senjata yang digunakan adalah bom molotof atau membombardir sarangnya, bukan panah atau senapan. Hasilnya, semuanya jadi hancur berantakan!