3 minggu lalu · 6386 view · 3 min baca menit baca · Politik 13961_63599.jpg
Foto: Twitter

Untuk Najwa Shihab: Adu Kembali Ahok-Anies

Najwa Shihab yang saya hormati. Perkenalkan, saya warga negara Indonesia biasa yang begitu terberkati dengan acara yang Najwa bawakan di dalam acara Mata Najwa dan Narasi TV. Identitas saya sebagai warga negara Indonesia diperkuat setiap kali menonton acara Anda.

Saya jatuh hati dengan Najwa, bukan karena penampilan belaka, juga karena pemikiran yang Anda sajikan sebagai jurnalis senior yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik sejak muda. Dalam surat terbuka ini, saya ingin meminta kepada Anda Najwa satu hal: pertemukan lagi Ahok dan Anies. 

Mengapa? Begini alasannya:

Dalam pandangan saya, kedua orang itu, Ahok dan Anies, adalah rival sejati. Mereka terus bertarung, dari sebelum Pilkada di masa kampanye, saat terpilih, dan bahkan sampai saat ini.

Perbedaan dan perselisihan pendapat ini menjadi begitu tajam dan makin mengisi relung-relung dunia politik. Perselisihan pendapat dan pandangan antara Ahok dan Anies ini menjadi begitu dinikmati oleh publik.

Mereka berdua ini memiliki karakter kepemimpinan yang bisa dikatakan sangat berbeda satu sama lain. Cara memimpin mereka, dilihat oleh warga, adalah cara memimpin yang benar-benar terkutub dan terdikotomi satu sama lain.

Ketika Ahok bicara ketegasan, Anies berbicara keberpihakan

Ketegasan yang dijalankan Ahok dalam menjalankan roda pemerintahan di DKI Jakarta ini menuai banyak reaksi. Ada yang setuju dan ada yang marah.


Biasanya, yang setuju dan menikmati kebijakan dan ketegasan Ahok ini adalah para warga Jakarta. Secara mayoritas, kebijakan Ahok adalah prorakyat dan pro terhadap orang-orang kecil.

Ahok menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Bahkan ia berani “menantang” warga yang sudah ada di zona nyaman untuk berpindah ke tempat yang sama sekali baru buat mereka. Mereka adalah warga bantaran kali.

Mereka “dipaksa” untuk pindah. Alasannya sudah sangat jelas. Pertama adalah mereka tinggal di tempat yang ilegal. Kedua, mereka tinggal di tempat yang kumuh. Dua alasan itu menjadi masuk akal, dan menjadi sangat mendasar bagi kebijakan Ahok memindahkan mereka ke tempat yang lain.

Mungkin ini mengusik zona nyaman para warga. Dan ternyata, memang harus diakui bahwa banyak politisi menggunakan “ketegasan” Ahok untuk menumbangkan dirinya. Ini adalah fakta yang terjadi di lapangan. Faktanya, Ahok membangun bangsa ini melalui kota Jakarta.

Ahok ini bahkan berani tidak menggunakan APBD untuk mendirikan Simpang Susun Semanggi yang saat ini menjadi ikon kota Jakarta. Selebihnya, kita lihat bagaimana kemajuan Jakarta di era Ahok benar-benar terasa.

Keberpihakan yang disebut-sebut Anies ini sebenarnya juga baik, pada awalnya. Ya, pada awalnya. Perlu saya tekankan hal ini. Mengapa? Karena saat Anies mulai menjalankan roda pemerintahan di bawah pergantian Ahok, ia pun menuai banyak reaksi.

Jika kebijakan Ahok dinikmati oleh orang-orang kecil di Jakarta, sepertinya kebijakan Anies ini dinikmati justru oleh segelintir politisi dan orang-orang besar. Secara umum, kebijakan Anies ini adalah pro terhadap dirinya sendiri.

Tidak bisa dimungkiri bahwa Anies ini melalaikan tugasnya sebagai pejabat publik. Ia seolah malah menjadi pejabat politisi. 

Pada akhirnya, ia pun diam-diam dan tidak berani keras-keras bersuara untuk menerbitkan ribuan IMB. Ya, ribuan. 900-an itu terus naik angkanya sampai saat ini.

Janji manis tinggal janji. Kacau balau semua janjinya terhadap rakyat, khususnya para nelayan Jakarta. Bahkan orang ini mempertontonkan keberaniannya dalam mengundang pembicara yang dilahirkan dari ormas terlarang untuk mengisi di Balai Kota.

Mungkin ini menjadi sebuah tindakannya yang begitu pro terhadap radikalisme, yang mau tidak mau harus diakui sebagai bagian integral dari keterpilihannya.


Dari alasan-alasan di atas ini, saya cukup yakin, Ahok dan Anies, sekali lagi, layak dipertemukan di sebuah acara. Tidak ada acara yang bisa mempertemukan kedua orang ini dan berbicara mengenai perdebatan yang berbobot. Saya yakin bahwa Ahok dan Anies ini hanya bisa dipertemukan dengan pemikiran tertajamnya di acara Mata Najwa.

Saya percaya bahwa Najwa Shihab tentu bisa memoderatori kedua orang ini. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Anda, di dalam tatapan yang tajam, bisa menyihir dan membawa suasana ini. Kita tahu bahwa Najwa memiliki sebuah karisma tersendiri.

Maka pertemuan antara Ahok dan Anies ini layak dilakukan lagi, pasca pemilihan. Kedua orang ini sama-sama merasakan hidup di penjara. Ahok sudah dipenjara dua tahun di Mako Brimob. Anies ini sudah “dipenjara” oleh kata-katanya sendiri, sampai saat ini.

Rasanya cocok untuk mempertemukan mereka kembali di atas satu panggung, memperlihatkan apa yang menjadi perdebatan mereka, khususnya dalam kasus Pulau Reklamasi. Pulau, ya, bukan Pantai Reklamasi. 

Ini adalah sebuah tontonan yang akan menaikkan rating acara tersebut. Lagi pula, memang mereka harus dipertemukan. Beranikah, Najwa Shihab? 

Semoga surat ini tersampaikan ke Anda. Salam dari warga yang merindukan perdebatan Ahok-Anies.

Artikel Terkait