Megahnya wilayah perkotaan dewasa ini menunjukkan begitu cepatnya perubahan nilai kehidupan dan pembangunan infrastruktur yang terjadi. Transformasi yang tergolong pesat membuat  pola kerja antar individu di perkotaan menjadi sangat kompetitif. Hal ini akhirnya menjadikan interaksi yang terjalin dalam masyarakat hanya berdasarkan kepentingan material saja. 

Secara tidak langsung, fenomena ini menciptakan kesempatan untuk membatasi hubungan dengan orang lain atau di luar lingkungannya. Selain itu rawan terjadinya konflik kepentingan antar kelompok atau individu yang berujung pada pemaksaan kehendak atas pihak lain.(Sumardjito, 1999)

Pemaksaan kehendak atas individu atau kelompok dapat berimbas dengan tingginya tingkat depresi. Seperti yang dilansir health.detik.com, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia dr Eka Viora, SpKJ, mengatakan untuk di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi. Pola hubungan perkotaan yang cenderung  mementingkan diri sendiri,berdampak mulai hilangnya kepedulian antar individu untuk sekedar mendengarkan ataupun berbagi cerita. 

Hal ini diperparah dengan tuntutan pekerjaan serta ekonomi yang membuat makna kerja bukan lagi sebagai upaya untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri ataupun memberikan kebermafaatan untuk lingkungannya. Melainkan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan ekonomi yang tidak bersifat pokok namun hanya simbol prestise saja.

Dalam menghindari pemaknaan tersebut ,ada baiknya untuk dapat membangun aspek mengenai makna kerja sebagai panggilan serta keterikatan dalam hidup . Terdapat tiga aspek yang dapat dicermati saat membahas ini yaitu;

Pertama adalah vigor (Kekuatan) yaitu dimana seorang individu dapat memberikan yang maksimal terhadap pekerjaannya serta memiliki penyelesaian yang baik dalam menghadapi  permasalahan.

Kedua adalah dedication(pengabdian) saat pekerja dapat memiliki keterlibatan yang mendalam pada pekerjaannya ,dan dengan melakukan hal tersebut pekerja dapat mengambil hikmah baik untuk dirinya sendiri ataupun lingkungan. 

Terakhir terdapat absorption(penghayatan) meliputi fokus dan kerelaan hati yang mendalam dalam melakukan pekerjaan sehingga dapat konsisten pada pekerjaan tersebut dan menikmati setiap waktu yang digunakan untuk bekerja (Schaufeli dalam Puspita,2012). 

Dalam ranah penerapannya Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sangatlah mewakili dengan aspek yang sudah dipaparkan sebelumnya.Nuraini Siti Anshori dalam jurnalnya menggambarkan bahwa para abdi dalem bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan materialnya saja.

Kekayaan batin dianggap lebih penting dibandingkan material karena tidak hanya berdasarkan uang dan harta. Kekayaan dimaksudkan sebagai sesuatu yang dapat memberikan kepuasan serta keberkahan dalam hidup.  Keberkahan ini dipercaya berasal dari Tuhan dan didapatkan melalui pengabdian di keraton. 

Berkah yang didapat juga diyakini dapat memberikan kemudahan jalan mendapatkan rezeki yang lain karena Tuhan adalah Maha Adil dan akan memberikan keadilan bagi ciptaannya. Pemahaman  yang tercipta pada sistem kognitif para abdi dalem tentu saja tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai spiritual Jawa.

Dalam buku  Mistik Kejawen karya  Suwardi  Endaraswara menjelaskan bagaimana manusia bekerja dengan menggunakan pemahaman Sangkan Paraning Dumadi. Dimana manusia harus mengerti tujuan penciptaannya dan kemana perjalanannya setelah kehidupannya berakhir. 

Diharapkan ketika manusia  mengerti dapat menghindarkan diri dari sifat angkuh dan mementingkan diri sendiri karena semua manusia sama dihadapan Tuhan dan kelak akan kembali kepada-Nya. Selanjutnya terdapat paham Hamemayu Hayuning Bawana,Hamemangun Karinak Tiyasing Sesama, 

Hal ini yang menjadi dasar pandangan abdi dalem bahwa manusia harus dapat mewujudkan perdamaian dan memelihara lingkungan sekitar dari kerusakan untuk mencapai keseimbangan. Dalam penerapannya hal ini dapat diartikan bahwa manusia dalam bekerja seharusnya berdasarkan dengan kepentingan bersama bukan semata-mata untuk kepentingan individu. 

Seperti pada pengabdian Abdi Dalem yang berbakti pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam rangka menjaga,memelihara,melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Jawa di Yogyakarta (Nurani Siti Anshori, 2013).

Dengan menempatkan dirinya sebagai pelaku budaya. Abdi Dalem merupakan saksi hidup sebagai pewaris nilai-nilai falsafah Jawa. Iman Budi Santoso dalam bukunya Profesi Wong Cilik; Spiritualisme Pekerja Tradisional di Jawa menyebutkan bahwa Abdi Dalem masih sangat pekat dalam melakukan tapa ngerame  pada saat melakukan pekerjaannya di Keraton.

Baca Juga: Menjadi Manusia?

 Bagaimana Abdi Dalem dapat bertapa di tengah keramaian duniawi. Bertapa disini diartikan sebagai upaya mengekang nafsu yang bersifat duniawi agar dapat mawas diri. Dengan mensyukuri gaji yang seadanya Abdi Dalem dapat terhindar dari shock culture atau culture lag dan dapat dikategorikan sebagai perilaku asketisme. 

Namun dalam hal ini dapat juga dikatakan bahwa Abdi Dalem mempertahankan ketetapan status yang diperolehnya. Laku tersebut memang tergolong berat dan bukan tanpa masalah, ketika pengeluaran harus lebih sedikit dari pada pendapatan utamanya jika dilakukan pada saat ini.

Mungkin dalam beberapa hal materi memanglah penting tetapi bukanlah itu yang utama. Kembali pada ajaran leluhur dan merayakan apa yang ada merupakan salah satu opsi dalam menjalani hidup. 

Ditengah ekosistem perkotaan yang semakin lama melaju ke arah kepalsuan ada baiknya untuk menepi sebentar. Untuk tahu apa yang sebenarnya  diinginkan dan terlepas dari segala kepura-puraan. Agar tidak menua dengan segala upaya untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya tidak tahu apa gunanya.

Daftar Pustaka:

  • Anshori, Nurani Siti, Fakultas Psikologi, and Universitas Airlangga. 2013. “MAKNA KERJA ( Meaning of Work ) Suatu Studi Etnografi Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Daerah Istimewa Yogyakarta.” 2
  •  “THE ASPECT OF NOBLE CHARACTERS AND MEMAYU HAYUNING BAWANA IN MYSTICAL LITERATURES OF BELIEVER OF ONE SUPREME GOD.” : 225–38.
  • Perilaku, Kecenderungan, and Individualis Penduduknya. 1999. “Permasalahanperkotaan Kecenderungan Perilaku Individualis Penduduknya.” (3).
  • Puspita, Monica Devina. 2012. “Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012).” 1(1).
  • Suwardi Endraswara.2003. Mistik kejawen: sinkretisme, simbolisme, dan sufisme dalam budaya spiritual Jawa.Yogyakarta.Narasi
  • Iman Budhi Santosa. 1999. Profesi Wong Cilik: Spiritualisme Pekerja Tradisional di Jawa.Jakarta. Yayasan Untuk Indonesia