Kalau kalian aktif berselancar di Twitter, pasti beberapa hari belakangan melihat 'huru-hara' keributan soal mbak-mbak (yang ngakunya) aktivis soal rasisme dan sedang mengaungkan tagar yang sedang ramai di tengah internasional, tagar #BlackLivesMatter yang terjadi mulanya di Amerika Serikat sana. 

Sungguh itu adalah gerakan yang mulia, apalagi masalah rasialis adalah hal yang paling hina di mana pun dan tidak pernah diajarkan oleh agama apa pun. Dalam agama saya, Tuhan tidak melihat rupa dan bentuk hambanya melainkan takwa serta iman. Masalahnya, si mbak-mbak (yang ngakunya) aktivis dengan nama akun @peceleve ini bikin eneg, dan ada beberapa yang mengikuti jejaknya.

Ini bermula dari cuitan Anya Geraldine, selebgram yang mulai main Twitter itu mencuit fotonya di akunnya sendiri. Lalu tanpa angin, tanpa badai, tanpa ada permisi tiba-tiba si mbak-mbak aktivis ini datang quoted cuitan mbak Anya seperti ini;

"Platform lu gede amat why don’t you use that to speak up for once instead of breaking your back for twitter." Aneh banget.

https://twitter.com/peceleve/status/1267118849679335425?s=19

Tidak hanya Anya saja, masalahnya beberapa publik figur lain yang bahkan mencuit hal yang bersangkutan soal ini diserang! Contohnya si Jerome Polin, dalam akunnya ia mencuit sebelum #BlackLivesMatter harusnya kita jangan lupakan #AllLiveMatter. Astaga, dia diserang juga oleh para SJW paling edgy luar biasa keren banget unch.

Apa salahnya, sih? Itu isi cuitan dia maksudnya semua kehidupan, termasuk kehidupan orang kulit hitam juga penting. Makanya dia mencuit tagar #AllLiveMatter, bukan berarti dia malah bermaksud untuk mendiskreditkan tagar #BlackLivesMatter!

Karena diserang, dia sampai hapus dan malah minta maaf. Melakukan minta maaf untuk beberapa orang yang bahkan NGGAK SOPAN DAN BERAKHLAK, ya umpan meni gitu SJW.

https://twitter.com/JeromePolin/status/1267450107173060608?s=19

Saya sangat tahu, tagar #BlackLivesMatter dan masalah isu rasialis itu sangat parah dan perlu diperhatikan dunia. Tetapi cara mbak pecel (saya panggil gitu, karena malas amat manggil mbak aktivis. Ewh) juga salah.

Ibaratnya, anda mau mengajak orang pergi ibadah tapi anda hina. Apa itu cara menebar kebaikan? Apa itu cara mengajak dalam kemaslahatan? Apa nggak bisa menggunakan cara yang lebih halus dan sopan, helloooowwww!? 

Nggak usah pakai alasan "Kita ini manusia merdeka, demokrasi mengajarkan orang-orang untuk membela hak-hak kaum lain!" kalau ngajak orang lain saja memaksa dan menghina. Asas demokrasi nggak begitu mbak pecel dan kawan-kawan SJW lainnya, hak masing-masing orang untuk diam pun itu juga kita perlu hargai, instead (mau sok Inggris biar dikira pintar) platform mereka besar dan bisa menarik atensi.

Lagian apa mbak pecel tahu, dan apakah teman-teman SJW tahu apa yang sudah diperbuat mereka para influencer di luar sana? Bisa jadi, mereka bergerak diam-diam supaya orang tidak tahu, dengan dalih menghindari pencitraan. Bisa jadi, mereka sudah menyumbang untuk gerakan massa di luar sana secara diam-diam. Bisa jadi, walaupun mereka tahu tapi diam karena merasa bukan kapasitasnya. Bisa nggak berpikir baik seperti itu?

Lagian untuk mbak pecel, saya yakin anda cuma mabuk Amerika. Anda bukan membela hak kaum kulit hitam, bukan membela isu rasialis atau membela hak-hak kaum tertindas. Anda saja baru 'menyebut' isu Papua saat ada yang menyindir, kalau nggak ada yang menyindir anda pasti diam saja kan?

Saya lihat-lihat cuitan anda setahun belakangan, tidak ada tuh cuitan yang membahas dunia aktivisme di tanah air maupun di luar. Anda cuma cuit-cuit tidak jelas, yang menjurus ke hal-hal dewasa.

Kalau memang aktivis dari umur 15 tahun, mana buktinya dan mana cuitan anda soal ketidakadilan di Kendeng, aksi September saat mahasiswa demonstrasi soal RUU KUHP, atau aksi soal kemanusiaan lainnya yang melibatkan nama lokal!

Anda ini cuma mabuk Amerika, biar terlihat keren dan paham permasalahan internasional tapi tutup mata saat ada ketidakadilan di Indonesia sendiri, bangsat. Tolong muhasabah diri anda, tolong jangan sok paling benar karena membela-bela kasus di luar sana. Semua orang punya kapasitas masing-masing, dan kebaikan yang disalurkan lewat jalan lain.

Semoga anda mbak pecel, dan para SJW lainnya muhasabah agar tidak merasa dirinya paling baik. Saya juga, terima kasih untuk mbak pecel karena anda saya sadar ada yang lebih ngaco dibandingkan saya.