1/ Untuk kekasihku yang berkepala batu.

Hey, sedang apa kau di sana?

Aku tak perlu menanyakan kabarmu ya, toh tadi kita sempat berbicara di telepon. Hehe.

Aku sedang ingin saja menulis surat untukmu, pasti akan seru menurutku.

Aku yakin sudah memancing emosimu hanya dengan satu kalimat paling atas di surat ini, hahaha. Iya, kau tak pernah mau disebut berkepala batu padahal kepalamu itu karang! Susah mengikisnya!

Untuk hal-hal sepele pun kita bisa ribut dan berdebat panjang hanya karena kau yang inginnya selalu menang, kau tak mau terkalahkan dalam hal apapun. Kau lelaki yang menganggap pemikiranmu selalu benar, kau lelaki yang menyembah egomu sendiri.

Kemarin kau mengirimkan foto senja untukku, diiringi kalimat: 'Aku tahu kau suka senja, Dik. Ini aku carikan'. Aku dengan kepercayaan diri tingkat tinggi menganggap bahwa aku ini sangatlah spesial bagimu, aku bahagia berlebihan sampai saat aku tahu ternyata bukan cuma untukku kau kirimkan foto itu. Kau berdalih tentu saja banyak orang yang suka melihat foto senja di pinggir pantai, bukan cuma aku. Lalu kita mulai berdebat, aku yang merasa kau meremehkanku, kau yang merasa tindakanmu benar. Sampai akhirnya kita lelah dan berdiam diri. Beberapa menit kemudian kita terlibat percakapan dengan topik yang lain lagi. Semudah itu? Ya.

Tapi justru karena itulah aku mencintaimu. Banyak hal yang sebenarnya membuat aku betah menjalani hidup bersamamu tapi yang paling utama adalah karena kepala batumu itu. Dengan sikap seperti itu kau gigih memperjuangkan hubungan kita, kau membela egomu habis-habisan untuk terus bersamaku. Dan aku berterima kasih untuk itu.

Terima kasih karena telah menjadikan hubungan kita semakin solid dalam kondisi yang sedang sulit. Terima kasih atas sikap kepala batumu untuk terus bertahan bersamaku di sini. Saat merayakan hari jadi hubungan kita, aku pernah berkata: 'Aku mencintaimu pasanganku yang berkepala batu' dan kau membalasnya: 'Tentu aku juga mencintaimu kekasihku yang sangat keras kepala'.

Kita tertawa saat itu, sambil berjanji akan selalu merayakan setiap perasaan yang hadir dalam hubungan kita.

~Dini~

***

2/ Teruntuk Kekasihku Yang Keras Kepala.

My Dear..

Aku tak tahu apakah dengan menuliskan surat ini akan membuatmu gembira, sedih, jengkel, marah atau mungkin kau senyum-senyum sendiri. Yang kutahu, aku menulis surat ini karena aku mengikuti naluriku saja. Naluri yang (mungkin) terlalu berlebihan untuk dikatakan sebagai surat cinta.

Kau masih ingat percakapan terakhir kita minggu lalu? Tentu saja aku tidak lupa. Kita sama-sama berargumen atau bisa dikatakan sedang berdebat. Ya, berdebat, sayang. Anehnya, yang kita perdebatkan adalah hal sepele. Aku masih ingat kau berikan satu pertanyaan untukku waktu itu. Mengapa kau mencintaiku, katamu. Aku sedikit kaget dengan pertanyaanmu itu. Bukankah terdengar aneh jika kau menanyakan hal ini kepadaku setelah kita menjalani banyak hal bersama-sama. Suka, duka, senang, sedih, dll. Lagi pula kau sendiri yang pernah bilang, mencintai bukan hanya melalui kata-kata, tapi juga dengan perbuatan. Dan akhirnya jawaban atas pertanyaanmu tak ada yang memuaskan. Kau menyebalkan, aku sedikit emosi. Bukan karena pertanyaanmu, tapi keras kepalamu yang menuntut lebih dari tak biasanya atas jawabanku. Lalu kita bertengkar.

My Dear,

Sesampainya aku di rumah, pertanyaanmu itu terus berputar di dalam kepalaku. Padahal hanya terdiri dari 3 kalimat. Tapi kau benar, ada jebakan di dalamnya. Apakah kau sedang mengujiku, sayang? Tentu saja aku harap kau tidak melakukan itu. Selama beberapa hari ini aku renungkan pertanyaanmu itu. Apa maksudnya? Kau tak membutuhkan jawaban dengan kata-kata indah. Terlalu klise katamu. Kau juga tak membutuhkan kata-kata pujian atau rayuan. Gombal, katamu.

My Dear,

Tiba-tiba aku mengingat kembali pada awal-awal pertemuan kita, juga serentetan kejadian yang tentunya lebih banyak perdebatan dari pada sisi romantis seperti layaknya sepasang kekasih. Aku terhenyak. Sampai sekarang mengapa hubungan kita bisa semulus ini. Aha! Akhirnya aku menemukan jawaban atas pertanyaanmu.

Kau tahu, sayang? Benar katamu, pasti ada hal yang unik yang membuatku mencintaimu. Dan kau menginginkan aku mencari hal apa itu, lalu memberikan jawaban yang jujur padamu.

Sayang, aku mencintaimu sebab kau keras kepala. Ternyata, justru itu yang membuatku semakin tidak bisa lepas darimu. Semakin kau keras kepala, semakin aku penasaran. Tentu saja tidak selamanya kau keras kepala. Tapi semua itu kau lakukan demi kita. Dan bukan hanya untuk kepentingan sesaat. Aku saja yang kadang terlalu naif, tapi aku mencintaimu. Kadang keras kepalamu seperti teka-teki, aku harus mencari solusinya. Aku tahu, kau bukan tipe perempuan manja.

Teruslah keras kepala, sayang. Demi kebaikan. Sebab aku menemukan ada sesuatu yang layak dipertahankan buat kita. Bukan hanya cinta, tapi komitmen dan kesetiaan bagi kita berdua.

From me, kekasihmu yang sering menjengkelkanmu.

~Harry~