29699_92304.jpg
www.pxhere.com
Puisi · 1 menit baca

Untuk Kekasih di Seberang Pulau

Untuk Kekasih di Seberang Pulau

Kala rindu semakin menggebu

Kemanalagi kukan mengadu?

Segala tentangmu kian membuatku semakin sesak

Dari rambutmu yang panjang sebahu

Atau saat kau mengikatnnya dan menghasilkan poni yang lucu

Tapi terkadang kau memilih berkerudung sambil meniup-niupnya ke atas

Untuk kau rapikan letaknya

Seringkali jam dinding kusuruh berhenti di angka 15.44

Jam biasa kau datang padaku

Tapi tak pernah Ia hiraukan mauku

Entah pada purnama yang keberapa kutuliskan surat, kutitipkan pada mendung

Ia dengan enggan mengambilnya dari tanganku

Entah Ia sampaikan atau tidak

Kali ini kutitipkan pada hujan,

Ia kembali dengan rasa bersalah dan berkata:

“sayang sekali di tempatnya selalu cerah

Gerimis pun tak pernah turun disana”

 

Akhirnya kuminta resah menyampaikan pesanku

Karena kupikir Ia bisa ada dimanapun

Tak banyak yang kutulis, tampaknya aku telah kehilangan kata

kasih harus sampai berapa purnama aku menahankan rindu?”



Ketika Hujan Turun

Ketika hujan turun ada kenangan yang menggenang

Ada pula rintik ingatan yang tak mau hilang

Seringkali ada rindu bersama air yang terus berjatuhan

Sementara itu berkilo-kilo meter jauhnnya

Ada seorang ayah menunggu di gerbang sekolah

Menggunakan jas hujan yang tak sampai lima ribu

Tak jauh darinya seorang tukang becak menunggu penumpang

Guratan keriput pada wajah dan tangannya tak mengendurkan semangatnya

Ketika hujan turun ada yang bermunajat dalam doa

Sambil memejamkan mata tangannya menengadah, entah apa yang diucapkannya

Adapula sepasang kekasih yang saling bercanda mesra

Ketika hujan turun ada petani yang bersyukur melihat sawahnya

Ada juga pegawai kantor yang tak bisa pulang tepat waktu

Ketika hujan turun, ada nestapa juga asa



Lintas Imaji

Aku menjelma malam

Sedangkan kau malah terlahir menjadi siang

Kita berdua dalam penantian yang menjemukan

12 kali siklus kehidupan pun telah berlalu

Kau terlahir jadi gadis kecil yang manis

Ayahmu adalah petani yang sederhana namun bahagia

Sedangkan aku menjadi sepatu bututmu yang kau gunakan tiap hari pergi ke ladang

Tapi beribu sayang umurmu tak sampai lima belas

Ayahmu menangis sepanjang waktu, Ia membuang segala barang peninggalanmu termasuk aku

Entah telah berapa siklus kehidupan telah berlalu 3,4, atau5?

Kita menjadi sepasang suami istri, namun kau seolah tak lagi ingat denganku

Entah kau tidak mengingat atau malas membicarakannya

Mungin saja karena kita menjadi pasangan tua dan hanya hidup berdua

Keesokannya aku terbangun

Kudapati diri duduk di pojok bangku kelas

Kau tepat di depanku  terkekeh melihatku sammbil menawari permen

Kuambil 2 buah permen dari tanganmu

Lalu kutarik tanganmu untuk pulang bersama karena bel sudah berbunyi. Aku tak perlu menunggu siklus kehidupan yang rumit gumamku