Buah hati selalu menjadi dambaan bagi para orang tua. Memiliki seorang anak adalah kebahagiaan yang tiada tara.

Tentu tidak cukup dengan 'ingin' memiliki saja, karena peran orang tua amatlah penting. Orang tua menjadi 'sekolah' pertama bagi anak-anaknya. Tetapi, tidak selalu orang tua bisa menjadi tempat belajar anak-anaknya. Salah-salah malah menjadi sumber masalah.

Seorang anak tidak hanya membutuhkan makanan untuk pertumbuhan jasmaninya. Mereka juga membutuhkan asupan mental agar jiwanya pun 'sehat'. Ironinya, para orang tua sebatas memperhatikan perut anaknya saja.

Sehingga, yang terjadi adalah orang tua terlalu khawatir ketika anaknya belum makan. Namun, tidak peduli sama sekali apakah jiwa anaknya 'sehat' atau tidak. Wajar seorang anak berfisik sehat karena makanannya terpenuhi.

Bagaimana dengan perkembangan jiwanya? Belum tentu seirama dengan fisiknya. Banyak anak tetap memiliki jiwa 'anak-anak' meskipun fisiknya makin bertumbuh dewasa.

Salah siapa? Ya salah orang tuanya. Mengapa demikian? Karena orang tua bisa dikatakan 'dunia'-nya seorang anak. Mereka memegang segala kendali terhadap buah hatinya.

Namun pada kenyataannya, orang tua tidak pernah mau disalahkan. Mereka selalu berkilah. Mereka antikritik dan menuduh anak yang mengkritiknya sebagai 'anak yang tak tahu diri' atau 'anak durhaka'. Juga, mengaitkan dengan cerita Malin Kundang.

Keadaan ini juga diperparah dengan bentuk kelaziman 'orang tua selalu benar'. Jikapun salah, mereka mau tetap benar. Lah, bukankah ini otoriter? Wajar saja generasi kita penuh dengan keotoriteran.

Wahai para orang tua, seorang anak bukan robot-robotan yang bisa diapakan saja sesuka hatimu. Mereka punya hak-hak yang harus terpenuhi juga. Yang makin parah, pola seperti ini akan turun-temurun bak harta warisan.

Salah satu indikator ketidaksiapan menjadi orang tua ditandai dengan selalu berpikir 'kerja' adalah segalanya untuk kebahagiaan anak. Dengan bekerja, maka si anak nantinya tidak akan kekurangan materi. Jika memang materinya tercukupi, apakah bisa dikatakan bahagia?

Betapa banyak anak-anak yang materinya tercukupi dan tidak bahagia. Mereka mencuri perhatian orang tuanya dengan hal-hal negatif, seperti menjadi pecandu narkoba. Salah siapa? Para orang tua itu menjawab: "Salah pergaulan atau pengaruh lingkungan."

Tidak ada yang dengan rendah hati mau mengakui, "Ya, ini salahku." Tidak ada! Mereka dengan angkuh menyalahkan aspek lain. Anak-anak itu dalam hati berteriak, "INI SALAHMU, PAK, BU!"

Tentu saja sebatas dalam hati, sebab jika sampai terlontar ke mulut akan berbahaya. Mereka akan di-"cap" sebagai anak kurang ajar, anak durhaka, atau anak tidak tahu diri.

Budaya antikritik dan keotoriteran agaknya sudah terdeteksi sejak masa kanak-kanak. Misalnya, "Jangan coret-coret dinding, nanti kotor!"; "Jangan pegang vas bunga itu, nanti jatuh pecah!"; dan bentuk "jangan" yang lain-lain.

Kata jangan diartikan oleh seorang anak sebagai bentuk "hina". Sehingga di otaknya akan penuh dengan kehati-hatian dan takut menjadi 'terhina'. Si anak akan tumbuh insecure, atau penuh dengan ketidaknyamanan.

Terciptalah kelucuan baru, tembok dan vas lebih berharga dari perkembangan mental anak. Pola yang salah ini juga lanjutan dari pola kedua orang tuanya dalam mendidik dia dahulu. Kesalahan orang tua (lagi), menurunkan pola didik yang salah kepada anaknya.

Kenapa saya bisa mengatakan ini? Saya mengatakan berdasarkan apa yang saya rasakan dan yang sempat terlihat. Apakah tidak takut 'kualat'? Kenapa saya harus takut kualat dan ikut melanggengkan budaya antikritik itu? Bukankah seorang anak juga punya hak menyuarakan apa yang dirasakannya?

Kesalahan Pola Asuh Anak

Kita sering kali terkungkung oleh kelaziman yang salah. Takut membenahi karena dianggap keluar dari norma. Padahal, niatnya ingin menyelamatkan generasi selanjutnya.

Apalagi membincangkan soal pola asuh anak (parenting). Itu sangat sensitif dan tak selalu diterima bahkan dianggap 'merasa lebih tahu'. Adapun, beberapa kesalahan dasar parenting (yang pernah saya alami) di antaranya sebagai berikut:

Kekhawatiran perihal makan.

Orang tua sering memikirkan 'perut' anaknya secara berlebihan. Tak jarang mereka memanjakan anaknya dengan memberi makanan yang diminta asal si anak senang. Mereka beranggapan, kesuksesan sebagai orang tua adalah memiliki anak yang badannya berisi.

Mereka tidak mengajarkan kepada anaknya bahwa "makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan". Tidak heran jika banyak orang rela menyingkirkan orang lain demi 'perutnya'.

Apakah orang tua bertanya perihal kebahagiaan sesering bertanya perihal makan? Bahkan tidak pernah. Sehingga yang terjadi si anak berfisik sempurna dengan jiwa 'kerdil'.

Si anak yang mulai sadar ketidakberesan pola pengasuhannya, terpaksa harus mengisi kekosongan jiwanya dengan berbagai cara. Misalnya, membaca banyak literatur pemotong rantai kesalahan parenting tersebut.

Bertengkar di depan anak.

Jiwa si anak harus penuh dengan kasih sayang dan kenyamanan. Jika bukan orang tua yang menyediakan, lalu siapa lagi? Makanya, orang tua wajib mengendalikan emosinya.

Tetapi, ada orang tua yang kerjaannya bertengkar terus. Entah apa masalahnya, mereka tidak segan bertengkar di depan anak-anak mereka. Seolah anak-anak itu hanya 'patung' yang tidak mungkin terkena efek dari kata-kata kasar mereka.

Lebih jauh dari kata-kata kasar, ada yang sampai melempar barang-barang. Itu sangat berbahaya loh, wahai orang tua, bisa melukai lahir dan batinnya.

Berpikir uang adalah segalanya.

Orang tua rela bekerja mati-matian dengan alasan "demi anak". Sehingga tak jarang mereka melupakan kebutuhan jiwa anak akan kasih sayangnya.

Boleh saya berasumsi "Uang adalah segalanya dan anak hanya seperlunya?" Keharusannya: Uang dan kasih sayang harus seimbang. Keduanya bukanlah pilihan.

Anak adalah "alat" untuk membuat orang tua bahagia.

Ego orang tua terindikasi dari keinginan mereka menjadikan anaknya seperti yang mereka inginkan. "Kamu harus jadi 'ini' biar hidupmu enak." Belum tentu si anak suka dengan 'ini' yang diinginkan orang tuanya itu.

Bakat anak berbeda-beda. Tidak boleh dipaksa sesuai kehendak orang tua. Seorang anak bukan tools (alat) untuk menuruti keinginan-keinginan mereka.

Seharusnya ada diskusi-diskusi "Kamu sukanya apa? Mau jadi apa?" Biar anak-anak merasa dihargai juga.

• Menyerahkan anak sepenuhnya kepada guru di sekolah.

Orang tua merasa tenang ketika anaknya sudah duduk di sekolahan. Mereka berharap segala aspek dapat memenuhi anaknya melalui sekolah. Mereka pikir, "Anakku baik, karena mereka sekolah."

Seorang anak tidak 24 jam di sekolah. Juga, kasih sayang orang tua tidak bisa digantikan oleh guru-guru yang notabene orang tua di sekolah. Sehingga orang tua bisa lepas tangan begitu saja.

Perbaikan yang Seharusnya di lakukan

Segala kesalahan tidak melulu untuk dipersalahkan. Justru karena salah, maka membutuhkan solusi. Saya berharap supaya anak-anak dilahirkan ke dunia ini penuh kebahagiaan lahir dan batin.

Untuk itu, tidak mudah menjadi (calon) orang tua. Jika sudah pernah mengalami kesalahan parenting dari orang tuanya, ini merupakan PR ekstra. Memutus rantai kesalahan parenting wajib hukumnya sebelum punya anak.

Segala perasaan dan ketidakenakan menjadi bekal berharga. Si anak harus tercukupi kebutuhan jasmani dan kejiwaannya. Tidak ada pilihan, keduanya harus seimbang.

Sebagai langkah awal, para calon orang tua bisa membaca banyak literatur tentang parenting yang baik, atau mencari ilmu tersebut di mana pun dan dengan siapa pun. Karena masalah ini harus clear terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk punya anak.

Jika mengemudikan kendaraan saja ada surat izinnya (Surat Izin Mengemudi), alangkah bijaknya jika pemerintah memberikan program pendidikan kepada calon orang tua. Yang diharapkan wajib menguasai ilmu parenting dan layak memiliki anak (ditandai dengan surat izin kelayakan menjadi orang tua sebagaimana kelayakan mengemudi).

Sebagaimana program KB (Keluarga Berencana) dalam membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran (Wikipedia), diharapkan ada program yang peduli terhadap pola asuh anak.

Jika ada yang komentar, "Repot, ya, mau punya anak aja harus begini-begitu!" Maka saya ingin menjawab, "Kalau tidak mau repot, ya tidak usah punya anak!"