Sebagian feminis, mengabaikan bahwa musuh feminisme adalah patriarki dan bukan laki-laki, membenci laki-laki. Sebagian lagi tidak membenci, tetapi juga tidak yakin bahwa laki-laki-yang bukan perempuan- dapat menjadi feminis. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi masing-masing, yang sangat dapat dimaklumi. 

Saya pribadi, yang mengadopsi Jungian (paham psikonalisis, salah satu pandangannya adalah tiap individu punya sisi feminin dan maskulin), menyukai teori Judith Butler mengenai genderisasi, dan sok merasa sebagai Cartesian hehehe, mencoba mengumpulkan beberapa fakta ini.

Bila feminis sebagai “hanya” label 

“Feminis” merupakan bentuk kata sifat dari “feminisme”. Sejarah mencatat bahwa istilah feminisme awalnya menunjuk pada laki-laki feminin. Baru belakangan, maknanya berubah menjadi perempuan yang menuntut kesetaraan. 

Sebelum istilah feminis muncul, sudah ada orang-orang yang memperjuangkan kesetaraan gender. Di antara mereka, setidaknya yang tercatat dalam sejarah feminisme di Prancis, justru laki-laki yang terlebih dahulu berani angkat suara membela ketidakadilan yang dialami kaum perempuan. 

Ini bukan persoalan jenis kelamin, tetapi laki-laki saat itu adalah satu-satunya yang punya akses untuk pendidikan dan punya hak untuk bicara. 

Yang ingin saya tekankan di sini adalah feminis atau bukan, kata ini akhirnya menjadi hanya sebuah label. Label menjadi kurang penting, jika kita bandingkan dengan perjuangan orang-orang ini, terlepas dari jenis kelaminnya.

Tokoh laki-laki dalam sejarah perjuangan kesetaraan gender

Berikut ini adalah beberapa tokoh laki-laki yang zaman sekarang ini mendapat “label” laki-laki feminis (sebagian feminis lebih suka menggunakan istilah pro feminis, karena meyakini hanya perempuan yang bisa jadi feminis) . 

1) François Poullain de la Barre, filsuf cartesian yang menentang ketidakadilan yang dialami perempuan pada masa pemerintahan Louis XV (abad 17). 

2) Charles Fourier,  figur sosialisme utopik yang berkontribusi dalam kemunculan gerakan feminis di Prancis dan memperjuangkan kebebasan perempuan semasa hidupnya (1772-1837). 

3) Léon Richer, jurnalis progresif yang menerbitkan Le droit de femmes (1869-1891), koran mingguan yang bertujuan mereformasi hak-hak perempuan. Di antaranya membantu korban KDRT dan menciptakan pendidikan yang lebih baik untuk perempuan. 

4) John Stuart Mill, menulis The subjection of Women (1869), bersama istrinya, Harriet Taylor Mill, tanpa melupakan kontribusi putri mereka, Helen Taylor.  Karya ini sangat penting karena menekankan perlunya hukum yang menjamin kesetaraan perempuan dan laki-laki.

5) Jeremy Bentham (1748-1832), filsuf dan ahli hukum dari Inggris. Mengusung kebebasan individu, ia membela hak-hak perempuan dan kelompok LGBT. 

Daftar ini akan lebih panjang lagi jika kita mengumpulkan tokoh-tokoh lain dari seluruh dunia. 

Ayah yang menganggap penting pendidikan dan aspirasi putrinya

Dalam masyarakat konservatif, ibu tidak memiliki peran dalam pendidikan putri-putrinya. Selain bukan di situ tugasnya menurut masyarakat, mereka sendiri melestarikan nilai-nilai tradisional yang sudah berakar tentang peran-peran perempuan dan laki-laki. Di sinilah masa depan anak perempuan sedikit banyak bergantung pada kemajuan cara pikir ayahnya.  

Tokoh-tokoh perempuan yang mengukir sejarah kebanyakan memiliki ayah yang berwawasan luas dan berpikiran terbuka. Bukan berarti ayah-ayah ini militan dalam gerakan perempuan. Ide kesetaraan gender mungkin tidak mereka kenal atau perjuangkan. 

Tetapi mereka menganggap penting untuk putri mereka mendapat akses pendidikan. Mereka memperkenalkan putri-putri mereka pada literatur, mendorong mereka sejak dini untuk punya aspirasi, dan mendukung aspirasi ini. 

Jane Austen, Lou Andreas-Salomé, Christine de Pizan, Simone de Beauvoir, adalah di antara mereka yang “beruntung” punya ayah seperti ini. (Saya beri tanda kutip, karena hubungan Beauvoir dengan ayahnya sebenarnya cukup rumit). 

Sebuah prosa untuk ayahku

Tulisan ini ada karena saya teringat pada ayah saya ketika mengunjungi gereja-gereja indah beberapa minggu lalu saat berlibur. 

Ada satu pernyataan Beauvoir tentang perempuan : ketika masih gadis cilik, ia adalah milik ayahnya, dan ketika sudah dewasa akan menjadi milik suami. Dalam ritual perkawinan di gereja, penyerahan kepemilikan ini tampak pada saat ayah mengantarkan anak perempuannya ke altar dan calon suami menyambutnya. 

Dalam tradisi melamar di Prancis, si pria harus terlebih dahulu mendatangi ayah kekasihnya dengan mengatakan, “Saya meminta tangan putri Anda”. Izin ini harus didapatkan sebelum ia boleh menyematkan cincin tunangan pada kekasihnya.  

Suami saya sendiri tidak melakukan tradisi ini. Menurut ayah saya, saya sudah cukup dewasa untuk bisa menilai siapa yang terbaik untuk saya. Saya jadi ingat ketika saya masih kecil, ia membacakan saya kutipan puisi Kahlil Gibran : anakmu bukanlah milikmu. 

Ayah saya memang gemar membaca. Ia melalap semua teks, dari yang ringan hingga berat, fiksi ataupun ilmu pengetahuan. Ia bukan feminis, sama sekali tidak pernah menuturkan wacana-wacana feminis. Tetapi ia telah mengantarkan saya hingga menjadi saya yang saat ini :  menjadi perempuan yang merdeka dari belenggu norma, ikatan adat dan tradisi, yang feminis, tanpa membenci laki-laki. 

Untaian kata ini saya persembahkan untuk ayah saya.

Untukmu ayahku, yang tak pernah mengantarkanku ke depan altar
Dan menantumu tak pernah meminta putrimu darimu
Tidak, kau tidak pernah menyerahkan putrimu padanya
Masih kudengar jelas Gibran yang kau kutip : aku anakmu bukan milikmu, aku milik diriku sendiri

Untukmu ayahku, yang mengajariku melafal A sampai Z sambil menghitung rumus Pythagoras
Kau yang menyanyikan Koes Plus sambil membaca Hugo dan Pramoedya
Menikmati Marx, menyimak Engels,
Kau, ayahku, yang mengenalkanku pada nikmatnya eureka, sama lezatnya dengan kepuasan yang tertunda
Aku pun pergi menemui Poullain dan Beauvoir, menyapa Nyonya Butler, dan menyampaikan salammu kepadanya

Untukmu ayahku
Yang membiarkan putrimu terjatuh dan menangis, untuk ia bisa bangkit
Dia kira kau membiarkannya tenggelam dalam kenaifan
Tapi ia mengasah intuisi objektif sebelum meninggalkan si Janggut Biru

Engkau, ayahku, darimu kupaham Anna Karenina tidak bicara perzinahan
Tuhan tidak butuh dipuja-puja, dan eksistensi harus dilampaui
Stereotip harus ditentang dan dipatahkan
Adat dibentuk, dan karenanya dapat diubah

Hari ini ayahku, putrimu bebas dari Kompleks Elektra
Ia mengucap janji setia pada pria dari Segi Enam
Di gereja-gereja tua beragam batu
Di kapel-kapel indah di antah berantah
Di bawah tanah atau di bumi, Ibu Kami Yang Di Bumi memberkati 

Dan kau, ayahku, tak berada di sana
Aku mengantarkan diriku ke altar, dengan ia di sisiku
Kau tak menyerahkanku padanya, tidak pula aku
Ku mencintai kau dan kau, dan aku milikku

Beberapa catatan : 

Efek eureka, kepuasan ketika kita tiba-tiba mendapatkan insight, memahami hal yang tadinya tidak kita pahami

Kepuasan tertunda (delayed gratification), kemampuan untuk bertahan terhadap godaan akan reward yang kecil tapi sudah di depan mata, untuk memperoleh reward yang lebih besar. Kemampuan ini berasosiasi dengan kesuksesan. 

Nyonya Butler, mengacu kepada Judith Butler. Saya sengaja memberi panggilan nyonya, untuk bermain-main dengan idenya yang saya suka : gender trouble

Anna Karenina, karya Leo Tolstoy, yang bicara tentang eksistensi melampaui kisah perzinahan yang mewarnai isi buku. 

Kompleks Elektra, kompleks “Oedipus” pada anak perempuan, menurut Carl Jung. Saya beri tanda kutip pada kata Oedipus, karena Sigmund Freud si penggagas konsep meyakini bahwa anak perempuan tidak mengalami kompleks Oedipus. Untuk selengkapnya mengenai hal ini dapat dibaca pada “Apakah Perempuan Ingin Penis? Membincangkan Freud”, dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan : Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki. 

Segi enam, nama lain untuk Prancis karena bentuknya menyerupai heksagon. 

Ibu Kami Yang Di Bumi. Feminis teologis mengkritik representasi Tuhan sebagai laki-laki.  Sementara itu, kelompok ekofeminis melihat keterhubungan bumi dengan perempuan. Saya sengaja mengganti “Bapa kami yang di surga” dengan “Ibu kami yang di bumi”. 

Selamat menyambut Hari Ayah (12 November)