2 tahun lalu · 531 view · 2 min baca · Politik 87126.jpg

Untuk Apa Menjegal Ahok?

Pertanyaan ini relevan, setidaknya jika kita menilik beberapa fakta bagaimana Ahok terus disudutkan melalui beragam isu (tuduhan) yang sama sekali tidak ia lakukan.

Untuk apa coba menjegal Ahok? Kalau hanya untuk memenangkan pertarungan Pilkada DKI Jakarta 2017, saya kira medianya tidak dengan tuduhan atau fitnah.

Sebagai bangsa yang dikenal beradab, yang kita butuhkan adalah fair play. Apa yang kita butuhkan adalah menjunjung tinggi nilai-nilai intelektualitas, bukan dengan memperalatnya untuk sekadar dijadikan sebagai alat pembohongan belaka.

Disadari atau tidak, upaya menjegal Ahok begitu terlihat. Bahkan jauh sebelum bergulirnya tuduhan penistaan atas dirinya.

Tidak lupa kan bagaimana kasus Sumber Waras yang melibatkan Ahok dengan tuduhan melakukan tindak pidana korupsi? Tentu kita juga tak lupa bagaimana proyek reklamasi pulau di pantai utara Jakarta disinyalir ada aliran dana suap, termasuk ke diri Ahok.

Tentang ini Ahok pernah tegaskan: kalau pada tidak bolehin jadi gubernur, ya maka aja itu kursi gubernur. Dari fitnah Sumber Waras, Luar Batang, fitnah reklamasi, apalagi yang kurang?

Tapi semua itu tak masalah. Toh Ahok bisa memberi bukti kuat hingga dirinya mampu lepas dari jerat tuduhan atau fitnah tercelah semacam itu. Ia bisa membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin yang bersih, sosok pemimpin yang sangat sedikit bisa kita jumpai di seluruh penjuru tanah negeri ini.

Setelah tuduhan korupsi dan aliran dana suap tak mempang, kembali Ahok dijegal secara nakal dengan isu penistaan agama.

Melalui hasil rekayasa video yang dilakukan oleh Buni Yani terhadap salah satu isi rekaman pernyataan Ahok di depan warga, nama Ahok terus-menerus lekat dengan “penistaan agama”. Bahkan sudah ada sejumlah aksi yang mencoba “membela Islam” sembari mengumandangkan pernyataan bahwa Ahok adalah si “penista agama”.

Alamak. Mengkritik politisasi agama kok dibilang menista? Menghalau para politisi busuk yang gemar menjual ayat-ayat Tuhan kok dibilang menghina?

Kita tak usah lagi kembali ke isi redaksi pernyatan Ahok. Kita tak perlu mengulas lebih jauh apakah dalam kalimat atau pernyataan tersebut benar-benar mengandung unsur penistaan atau tidak.

Sebab, selain sudah banyak upaya klarifikasi dari beragam kalangan, baik dari pada alim-ulama, cendekiawan, akademisi juga mahasiswa, toh Ahok sendiri sudah menyatakan permintaan maafnya. Bahwa dirinya tak melakukan, apalagi berniat, sebagaimana dituduhkan oleh kelompok-kelompok Islam radikal garis keras.

Meski isi hati tiap orang penuh misteri, tapi kebenaran di pihak Ahok setidaknya bisa kita amati dari perjalanannya sebagai pejabat publik. Jika hal ini saja tidak bisa kita jadikan pertimbangan, maka kesalahannya ada pada diri kita sendiri: menilai Ahok salah, “menista agama”, hanya karena ketidaksukaan, kecemburuan, keiri-dengkian, dan hasrat asal bukan Ahok.

Lebih lanjut, cukup kiranya kita mempertanyakan secara apa maksud dari upaya pencekalan Ahok. Untuk apa menjegal Ahok kalau hanya untuk memenangkan pertarungan kekuasaan? Untuk apa menjegalnya kalau yang diinginkan hanya kemenangan tanpa pertarungan?

Bertarunglah secara sehat. Toh yang benar juga yang akan menang. Dan yang benar tentu juga harus diperjuangkan secara benar pula.

#SaveAhok

Artikel Terkait