Dalam sekejap Whatsapp (WA) grup alumni angkatan kami ramai. Dalam hitungan menit bunyi notifikasi di Hp-ku berdering bersahut-sahutan. Biasanya berbunyi juga tapi tidak seramai hari itu.

Maklum, kebanyakan penghuni-nya adalah orang dewasa yang sudah berumah-tangga – banyak juga sih yang belum – di mana kebanyakan mereka bertugas sebagai Pendeta dan Guru di Pedesaan tanpa jaringan internet yang memungkinkan mereka untuk secara intens berkomunikasi melalui WA.

Kalaupun ada yang tinggal di tempat dengan akses internet, tentu kesibukan pelayanan dan rumah tangga menyita seluruh waktu, sehingga bagi mereka suatu kesibukan nostalgia, penuh basa-basi dalam grup alumni angkatan itu adalah aktivitas buang-buang waktu. Mungkin loh mungkin!

Namun hari itu berbeda, sebuah berita mengalihkan banyak perhatian seketika, sebuah berita dukacita! Kabar tentang seorang kawan yang hampir-hampir tak pernah terdengar kabar beritanya, lalu ketika kali ini kami dengar sesuatu tentang dia, itu tentang kabar kematiannya. Menyedihkan!

Ironisnya kehidupan, ruang-ruang kenangan yang paling ampuh menyita perhatian ada di sekitar perayaan, pesta, dan kematian. Berita apa yang dapat mengumpulkan simpati yang begitu besar kalau bukan berita duka.

Waktu menjadi batas-batas bagi kehidupan. Ia mengubah keintiman menjadi keterasingan, atau bahkan keterasingan menjadi intim. Mengubah ramai menjadi sunyi, pun sebaliknya sang sunyi seketika menjadi viral di mana-mana. Seperti itulah kami kehilangan seorang sahabat yang pergi dalam kesunyian.

Meski terkejut, sedih, dan tidak percaya, hari itu kami duduk  di depan layar handphone kami masing-masing menyatukan keping demi keping penyesalan. Persahabatan memang seharusnya dirawat, supaya rasa kehilangan tidak meninggalkan rasa bersalah sedalam ini.

Lalu sebuah statement tentang ini muncul, entah itu sebuah kritik yang ditujukan kepada kami, atau sekadar sebuah seruan reflektif. Namun kritik itu dishare di media sosial dengan satire dan secara gamblang menyentil pentingnya suatu komunikasi antaralumni angkatan, terang saja menimbulkan warna-warni perdebatan.

Sekali lagi grup WA kami yang senyap menjadi ribut seketika. Saya jadi paham cara meramaikan grup ini, beri saja berita duka atau sebuah kritik. Elegi kesedihan adalah sebuah daya tarik. Itu mengapa lagu-lagu pop kita dipenuhi ratapan, tangisan, dan air mata.

Ratap tangis dan air mata makin teruraikan. Salahkah kami jika seorang sahabat kami meninggal dalam kesunyian? “Salah gue? Salah teman-teman gue?” kata Cinta AADC. Lalu salah siapa?

Grup WA ada, jauh sebelumnya ada Grup sms, itu loh short message service! Yang terakhir bahkan masih kami pertahankan dalam rangka memfasilitasi komunikasi di antara mereka yang hidup di daerah tanpa jaringan internet. Intinya segala usaha menjakau satu sama lain yang berjauh-jauhan sudah ditempuh!

Kalau kemudian masih ada yang belum terjangkau, karena tidak pakai WA, tidak ada signal, atau bahkan tidak punya Hp, itu adalah suatu keterbatasan teknis yang konsekuen. Pekerjaan ini membawa kami hidup bermil-mil jauhnya dari pusat-pusat ketersediaan. Mereka bilang kerja yang “sendiri dalam kebersamaan.”

Maksudnya begini, kalau suatu sore saya menikmati senja sambil minum kopi, menatap laut, merenung, dan mendulang kesepian kampung tempat tugas dalam sunyi, percayalah bahwa seorang teman saya yang lain juga mengalami itu. Kita sama-sama menjalani kesendirian itu. Itu yang mereka bilang sendiri dalam kebersamaan. Kesunyian yang komunal.

Persoalannya adalah alih-alih mencari-cari kesalahan, menyalahkan atau bahkan merasa disalahkan, suatu perkara baiknya perlu dijadikan suatu refleksi. Apalagi jika itu adalah tentang dukacita akibat kematian. Sesuatu yang pasti akan kita lalui di dalam hidup.

Itu mengapa berduka itu harus ada etikanya. Misalnya memposting foto jasad orang yang sudah meninggal sebagai penegas ungkapan belasungkawa, itu tidak etis. Wujud empati yang salah kaprah. Situ mau jadi wartawan?! Bahkan wartawan harus minta izin.

Yang ingin saya katakan adalah apa yang orang alami di dalam hidupnya, kita tidak berhak menjadi hakim atas kehidupan orang lain. Bahkan ketika seorang sahabat karib saya meng-private akun Instagram-nya, saya tidak punya hak untuk mengatakan dia sok penting.

Saya kan tidak tahu bagaimana hubungannya dengan sang suami, kesepakatan-kesepakatan apa yang mereka buat dalam rangka bersosialisasi dengan orang-orang di luar sana melalui media sosial, dan lain sebagainya. Life is easier when people mind their own business.

Menurutku, dari perkara ini kami belajar, komunikasi sesederhana apa pun itu penting. Kita bersyukur untuk kemudahan demi kemudahan teknologi komunikasi jaman now. Tapi kita juga jangan meragukan betapa mujarabnya komunikasi melalui doa. Jangkau para sahabat tak terjangkau itu di dalam doa!

Bahkan Yesus di detik-detik kematiannya, menjangkau para muridnya melalui doa, suatu perikop yang cukup panjang dalam Injil Yohanes 17 merinci betapa dalamnya kepeduliaan Yesus akan murid-murid. Betapa pedulinya Yesus terhadap sahabat-sahabatnya.

Di ayat 7 Ia katakan: “..dan aku tidak ada lagi dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepadaMu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu.” Doa adalah komunikasi yang menjangkau persahabatan, menembus hutan, gunung, lembah, ngarau, sungai, pesisir, pun batas-batas kehidupan bahkan kematian.

Tapi, jangan lupa Ora et labora. Prayer and action. Berdoa dan bertindak. Berdoa adalah jalan kita merawat persahabatan yang mustahil di dalam jarak dan waktu. Tapi kehidupan selalu butuh sentuhan. Sejauh mana seorang sahabat dapat kita sentuh di sepanjang perjalananmu. Upayakanlah!

Saya mengunjungi seorang sahabat, guru di Biak Barat dalam suatu kesempatan ke Biak. Duduk di depan kios yang ia bangun dengan tangannya sendiri, mendengar mimpi-mimpinya untuk berdaya secara ekonomi, dan kesulitan-kesulitan yang ia hadapi sebagai seorang anak kampung yang pulang mengabdi di antara kaum keluarga dan saudara.

Saya juga tinggal berhari-hari di rumah seorang sahabat lainnya, mengamati betapa tangguhnya ia menjadi seorang istri dan ibu, padahal dulu di kampus bakat semacam ini nyaris tidak kelihatan. Dari bangun pagi sampai tidur, kerjaan kami hanya ngobrol ini itu. Cerita-cerita nostalgia masa kuliah adalah butir-butir cokelat yang manis. Obat bagi kalut.

Karena itu hidup itu butuh nostalgia. Saya di penghujung umur 20an memasuki kepala tiga dan masih single. Ada waktu di mana saya duduk dan saya merisaukan kalau saya tak dapat menemukan laki-laki yang pas untuk diajak hidup bersama. Kalau-kalau mungkin saya akan single selamanya.

Kerisauan macam ini sirna seketika kalau saya membuka-buka sedikit album kenangan di kampus, suatu masa golden memory dalam hidupku. Muda, berbakat, penuh semangat dan punya banyak penggemar. What a wonderfull life! Kenangan manis ini akan memberi saya suatu perspektif yang manis dan lebih positif untuk menjalani hidup.

Sekali lagi, nostalgia itu memaniskan ingatan. Hidup hari ini mungkin berat. Suami yang kita puja-puji mulai berubah, istri yang pendiam sudah punya lebih banyak kosakata, anak-anak makin bertambah berat badan dan berat ongkos. Pekerjaan menjadi begitu sangat menjenuhkan. Kita mungkin butuh sesuatu yang manis-manis dari masa lalu.

Asal jangat kebablasan! Jangan terjebak dalam nostalgia! Itu hanya suatu intermezzo supaya kita ingat betapa kita sebenarnya kuat untuk melampaui tantangan demi tantang kehidupan ini. Enjoy it! Kadang-kadang kita lupa kalau kita ini hebat! Bahasa Ibrani dan Yunani yang sukar saja kita takklukan, kita ini Cantate bukan kaleng-kaleng.

Akhirnya, kita merawat persahabatan bukan supaya orang bilang persahabatan kita solid. Kita memperjuangkan persahabatan karena kita sendiri membutuhkannya. Kita hidup dari dalam dan untuk persahabatan. Lalu di suatu penghujung hari, ketika senja mulai turun, dengan segelas kopi kita akan bercerita kepada anak-cucu kita betapa menyenangkannya masa muda.

Masa muda yang kita habiskan di sepanjang Padang Bulan Abepura, lima tahun yang berarti. Lima tahun yang kita susuri bersama banyak kesalahan, tapi siapa sih yang tidak?! Dari kesalahan-kesalahan itulah kita belajar untuk menjadi makin hati-hati di dalam hidup.

Ah! Selamat Hari persahabatan Cantate Domino. Jangan terlalu nyaman dalam kesuksesan atau bahkan tenggelam dalam kemalanganmu sendiri. Berdiri dan temukan pelukan sahabat.

Selamat Ulang Tahun. Cantate Domino benedicite nomini eius adnuntiate diem de die salutare eius. (Mazmur 95:2).