“Kalau rezeki sudah ditakar dan takkan tertukar.

Kalau setiap orang sudah punya jatah rezekinya.

Kenapa kita harus bekerja atau berjualan?”


Kalimat di atas mungkin pernah Anda baca atau dengar. Sebagian dari kita mungkin banyak juga yang setuju dengan kalimat tersebut, dalam arti mempertanyakan hal yang sama.

Rezeki dan bekerja, atau ikhtiar, dua kata yang menjadi inti dari pertanyaan kita. Dua hal yang akan saya jelaskan juga melalui tulisan ini.

Pertama saya akan menukil sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud. Hadis tentang proses terjadinya janin di dalam rahim seorang ibu. Di ujung hadis ada kalimat begini, “kemudian diutus kepadanya (janin) seorang malaikat, lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.”

Hadis di atas ada di kitab Sahih Bukhari nomor 6594 dan di Sahih Muslim nomor 2643.

Jelas ya, 4 hal sudah default dalam hidup kita.

Rezeki, hal yang kita bicarakan, termasuk dalam keempat hal yang ditetapkan itu. ini menjelaskan pula bahwa saat rezeki kita sudah habis jatahnya, saat itulah hidup kita di dunia ini berakhir. Jatah hidup kita berakhir.

Masalahnya adalah rezeki itu seperti halnya kematian, sesuatu yang pasti tetapi misterius. Mati itu pasti, tapi misteri bagi kita; kapan, di mana, sedang apa, atau sedang bagaimana.

Begitupun rezeki. Rezeki sudah pasti, karena sudah ditetapkan (hadis di atas), tetapi masih misteri; sebesar apa, sebanyak apa, turun lewat cara apa, dan kapan turunnya.

Lalu kenapa kita harus berkerja?

Atau, bagaimana hubungannya dengan bekerja atau berikhtiar?

Untuk menjawabnya, mari kita lihat firman Allah Swt di surat Adz-Dzariyat ayat ke-56,

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.

Jadi, Allah Swt menciptakan kita, di dunia ini, hanya untuk beribadah, tidak untuk yang lain.

Atau dengan kata lain, hidup kita di dunia ini hanya untuk beribadah. 24 jam hidup kita untuk ibadah.

Lalu, apa hubungannya bekerja dengan ibadah?

Tidak ada hubungannya.

Apa?

Iyya. Tidak da hubungan! Karena bekerja itu ya ibadah itu sendiri.

Maksudnya?

Jadi begini, kalau ibadah itu kita artikan hanya pelaksanaan rukun Islam; salat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Apakah semua itu sudah mencakup seluruh hidup?

Tentu tidak, kan?

Coba lihat ibadah salat. Berapa lama waktu yang digunakan untuk melaksanakan salat? Paling lama 10 menit tiap salat. Dikali 5 kali salat wajib, total sehari semalam kita menghabiskan waktu 50 menit dari 24 jam waktu hidup kita. Salat hanya menghabiskan waktu 3,5%.

Puasa apalagi, kalau kita lihat yang wajib saja, puasa bulan Ramadan, itu cuma sebulan dalam 12 bulan, artinya cuma 8,33% dari hidup kita.

Apalagi ibadah haji, yang hanya diwajibkan kepada yang mampu saja. Kalau dihitung, akan lebih banyak yang tidak melaksanakan ibadah haji daripada yang melaksanakan.

Padahal hidup kita seluruhnya harus dalam rangka ibadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzariat: 56).

Dengan demikian ibadah itu tidak cukup ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat atau haji. Aktivitas hidup yang lain pun harus menjadi ibadah, termasuk bekerja atau berikhtiar. Jadi bekerja adalah ibadah.

Kalau bekerja, dan ikhtiar lain, itu ibadah, berarti sama dengan kita melaksanakan salat, puasa, atau ibadah haji?

Iya, itu maksudnya.

Ibadah itu harus diawali niat, bertujuan mencari ridho Allah Swt, dan pelaksanaannya mengikuti contoh Rasulullah Saw.

Jadi, saat Anda keluar rumah di pagi hari menuju tempat kerja, tempat usaha, sampai kemudian pulang kembali ke rumah, itu semuanya adalah ibadah. Demikian pula Anda yang berjualan atau berbisnis. Anda berangkat ke tempat jualan, sampai kembali pulang, itu adalah ibadah. Dan, itu tidak melihat apakah hasil jualan Anda, untung atau rugi.

 

Selama Anda mengawali dengan ‘bismillah’ (dengan nama Allah), diakhiri dengan tawakal, dan selama pelaksanaannya tidak ‘batal’.

Kita melaksanakan salat, diawali dengan takbir, diakhiri salam, tetapi kalau di tengah pelaksanaan salat itu kita batal, buang angina, maka salat kita tidak sah, atau ibadah kita batal.

Begitupun dengan saat kita bekerja atau berjualan atau berbisnis, jangan batal di tengah-tengah kita bekerja atau berbisnis itu. Karena kalau batal saat bekerja atau berbisnis kita itu, maka tidak  bisa disebut sebagai ibadah.

Dalam ibadah salat, yang membatalkannya itu buang angin atau gerakan di luar gerakan salat yang berlebihan. Sedangkan dalam bekerja, berjualan, atau berbisnis, yang akan membatalkannya itu adalah perbuatan bathil, seperti mencuri (korupsi), indisipliner, menipu, berbuat licik, berbuat zalim, dan sebagainya.

Kalau selama bekerja, berjualan, atau berbisnis kita melakukan itu semua, maka sama saja dengan kita buang angin saat melaksanakan salat. Aktivitas kita tidak menjadi ibadah.

Kalau setiap hari kita melakukan hal tersebut terus-menerus, berarti kita terus menerus tidak beribadah. Dan, berarti kita melaksanakan perintah Allah Swt di surat Adz-Dzariyat di atas. Audzubillaahimin dzalik.