Penulis buku ini adalah Fauzan Mukrim, ayah dari dua anak yang bernama River dan Rain. Sama halnya dengan kedua buku yang telah diterbitkan sebelumnya, yakni #dearRiver dan Berjalan Jauh, yang ditulisnya sebagai tanda cinta untuk putra pertamanya River, pun demikian dengan buku ini. Buku #dearRain ini berisi cerita-cerita yang ia kumpulkan untuk putri tercintanya, Rain.

Menurutnya, seiring ia tumbuh besar, seorang anak perempuan akan membangun kehidupan sendiri, mengembangkan pemikiran sendiri yang tidak selalu bisa dipahami oleh ayahnya, sekalipun ia berkali-kali menyebut ayahnya sebagai cinta pertamanya. Anggaplah ini upaya seorang ayah untuk menjaga anak perempuannya, karena ia tau tidak akan selalu bisa berada di dekatnya.

Ada berjuta cara untuk mengungkapkan rasa cinta. Namun dengan merajut kalimat indah menjadi untaian cerita, kemudian mengemasnya menjadi sebuah sajian berupa buku istimewa, itu sungguh manis. Karena tak semua orang mampu dan memiliki cukup waktu untuk mewujudkannya.

Di buku ini ada 39 kisah penyejuk jiwa yang sebagian memuat pesan moral dan tips-tips ringan mengatasi persoalan sehari-hari, yang mungkin masih akan dihadapi anak-anak di masa depan. Sebagai perempuan, sebagai umat manusia.

Dari buku ini pula saya menyadari bahwa banyak hal yang meskipun acap kali saya jumpai dalam keseharian, namun terkadang ada saja yang lepas dari pengamatan saya. Seperti tentang adanya perbedaan letak kancing kemeja laki-laki dan perempuan, yang pada akhirnya membuat saya berusaha mencari tau apa alasan yang mendasarinya.

Penjual Tahu Bulat Pertama di Luar Angkasa adalah judul kisah pembuka yang ditulis sebagai hadiah ulang tahun pertama Rain Lathifa Alma. Seperti namamu, jadilah hujan yang melembutkan kerasnya hati kami. Begitulah harapannya.

Cerita yang berjudul Dua Tahun, ditulis di tahun kedua kelahiran Rain. Kisah ini menggambarkan betapa bersyukur dan bahagianya penulis dikaruniai Rain, yang dianggapnya sebagai suatu keajaiban.

Namun tak seperti ajaibnya udara menjadi embun, adanya pelangi kembar, danau garam berubah jadi merah dan sungai menjadi kuning, juga kenapa bunga kolecer jatuh seperti baling-baling, semua itu adalah hal ajaib, tapi bisa dijelaskan. Sedangkan Rain, dia adalah hal ajaib yang tak bisa ia jelaskan.

"When given the choice between being right or being kind, choose kind," adalah kata mutiara yang dikutipnya dari film Wonder, untuk Rain. Tentu itu pesan yang berat, makanya disebut kata mutiara. Karena seperti namanya, kata mutiara adalah produk kepedihan sebongkah kerang yang menemukan sebutir pasir terjebak dalam tubuhnya.

Membaca kisah Jarak Terjauh di Bumi, sungguh membuat hati saya meleleh. Kalimat-kalimat di dalamnya, begitu kental dengan luapan cinta dan rasa hormat terhadap sosok perempuan. Dari relasi marital suami istri, hingga tentang jauhnya jarak kita dengan Rasulullah. Sehingga jika sampai ada yang merasa telah begitu sempurna meneladani akhlak beliau yang mulia, bisa jadi itu karena ia salah mengukur dirinya sendiri.

Seorang istri pada suatu waktu adalah anak perempuan dari seorang ayah, yang mana sang ayah mungkin akan lebih memilih hal buruk menimpa dirinya ketimbang harus menyaksikan orang lain menyakiti putrinya. Dan harapan semua ayah pastilah sama, ketika kelak anak perempuannya menjadi istri seseorang. Tak ada yang lebih diinginkannya selain agar ia diperlakukan dengan baik oleh pasangannya.

Syarat Kegantengan, menceritakan tentang kejadian saat penulis menyaksikan seorang pemuda pengendara motor yang ngebut di jalanan sehingga membahayakan pemotor lain. Padahal saat itu ia sedang bersama perempuan di boncengannya, tanpa helm pula.

Namun si perempuan terlihat tak masalah dengan itu, malah pelukannya semakin erat. Duh, padahal mau seganteng apapun, seorang lelaki yang membahayakan jiwa kekasihnya demi hal-hal konyol begitu, sama sekali nggak ada keren-kerennya.

Di kisah Susu Penuh dan Ayat-Ayat Konservasi, pada satu kalimatnya, penulis menuturkan bahwa dirinya orang bebal. Kendati demikian, ia tak kuasa menahan tangisnya tatkala seorang alim ulama menceritakan riwayat tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Menyadari betapa jauh jarak kita dengan kebijaksanaan beliau.

Rasulullah pernah meminta kepada seorang pemburu untuk melepaskan rusa yang ia tangkap. Rasul melihat rusa yang terjerat tali pemburu itu penuh kantong susunya. Ia rusa betina yang masih menyusui anak-anaknya.

"Biarkan ia pulang memenuhi hak anak-anaknya. Ia akan kembali lagi ke sini jika memang rezekimu," kata Rasul kepada si pemburu. Dan kalimat-kalimat selanjutnya, sungguh sangat menggetarkan jiwa.

Lalu di cerita yang berjudul Lebih Bahagia, kepada Rain, penulis menuturkan bahwa ia senang melihat ibunya senang. Sebisa mungkin, sesering mungkin, ia akan selalu berusaha mendekatkannya dengan ruang rahim di mana dia pernah dibesarkan. Toh ia hanyalah orang yang datang kemudian, begitu menurutnya. Ia pun berharap, mudah-mudahan nanti Rain juga bertemu lelaki yang berpikiran sama sepertinya.

By the way, sering kali kita memahami sebuah nilai dasar sebagai kebenaran, yang sebenarnya hanya cocok untuk kita atau lingkungan kecil kita. Nilai dasar kita adalah bentukan pengalaman unik yang berbeda-beda antar tiap orang, sehingga harus selalu berusaha kita cocokkan dengan nilai universal. Begitulah kaidah kehidupan normal yang dituliskan pada kisah berjudul Kosmik Kecil.

Ia menyebut Rain sebagai kosmik kecil, dan di luarnya ada helai-helai bawang. Mengupas satu demi satu untuk menemukan inti, yang bisa jadi tak ada juga.

Dan masih banyak lagi kisah dalam buku ini, yang begitu sarat makna. Rasanya tak ada yang lebih diinginkan oleh seorang ayah selain melihat anak-anaknya tumbuh besar dan bahagia, apalagi bila itu anak perempuan.

Ayah dan anak perempuan adalah hubungan yang unik. Seorang ayah akan selalu berupaya hadir dalam bentuk terbaiknya. Karena ia akan menjadi standar bagaimana seorang anak perempuan akan menerima laki-laki lain di kehidupannya kelak.

Ohya, meski mungkin ada yang beranggapan bahwa sebagian isi buku ini sangat receh dan hampir tidak ada faedahnya sama sekali, namun saya sungguh beruntung memilikinya. Dengan membacanya, membuat saya turut merasakan curahan cinta yang diguyurkan di lembaran-lembaran bukunya.

Yang otomatis mengingatkan saya pada anak-anak saya, terlebih anak perempuan saya. Dan ajaibnya, makin bertambah kadar cinta saya untuk mereka, lagi dan lagi dari hari ke hari.

Dan karena gaya bahasa yang digunakan seperti gaya seorang ayah yang sedang bercerita pada anak perempuannya, tak ayal, mengingatkan pula akan bapak saya, Allahu Yarham. Buku ini telah sukses mengungkit-ungkit kenangan masa kecil saya bersama Bapak.

Saat membacanya, saya merasa seolah sedang mengobrol dengan Bapak, di serambi depan rumah. Duhai Bapak, walau hari-hari bersamamu makin jauh berlalu, namun rinduku padamu selalu baru.

_____

● Judul: #dearRain

● Penulis: Fauzan Mukrim

● Penerbit: DIVA Press, 2019

● Tebal: 152 halaman