6 bulan lalu · 953 view · 4 min baca · Politik 98288_89080.jpg
Gambar gratis dari https://www.pexels.com

Apa yang Harus Diinstal dan Diuninstal

Bukan Aplikasi maupun Sosok Presiden

Politik praktis hari ini semakin kelam. Kabut tebal fanatisme sudah menutup logika politik gagasan. Perdebatan publik makin hari makin jauh dari harapan adanya bangsa ini. Contoh paling riil dan memang viral di media sosial adalah kasus cuitan bos besar Bukalapak, Ahmad Zaky. 

Dia mengkritik soal dana riset dan pengembangan ilmu. Revolusi industri 4.0 tak akan dicapai di Indonesia dengan angka dana negara yang dialokasikan untuk itu, begitu simpulan Zaky. Dengan catatan dia sudah meminta maaf dan mengakui kekeliruan atas data dan beberapa alasan lain, harusnya semua harus selesai.

Tapi itulah, masyarakat internet kita ternyata belum siap untuk melakukan apa yang disebut keberagaman pendapat. Tagar #UninstalBukalapak terlanjur sudah menjadi hiasan di mana-mana. 

Lalu, pihak yang mendukung Zaky pun ternyata tak kalah kencang. Tagar #UninstalJokowi bahkan sempat menjadi tren top di dunia Twitter. Kita harus akui bahwa  jejari masyarakat kita sangat sibuk mengurusi hal begituan. Ada yang menyebut bahwa wajah masyarakat dan politikus kini terlihat brutal karena kasus ini.

Apa yang Kurang dari Masyarakat Politik Kita?

Puluhan tahun dibayang-bayangi kondisi tanpa belajar politik atas nama kestabilan pembangunan negara membuat kita tidak pernah bisa jernih melihat realita gemerlap demokrasi. 

Bangsa ini silau dengan kebebasan dan perbedaan. Kita tidak ingin dibatasi dalam menyampaikan pendapat seperti yang dijanjikan oleh reformasi, namun ternyata masih sulit untuk belajar berbeda. Perdebatan ramai tapi esensinya tidak ada.

Buku masih disita dan pemikiran masih ditakuti. Ide dibalas tindakan dan buku dibalas dengan razia. Kita secara kolektif belum mampu membedakan yang absurd dan abstrak semacam pemikiran dan yang realita dan konkret seperti tindakan sehari-hari. Lebih parah, kita tidak bisa bedakan mana yang privat dan mana yang publik.

Sesat-sesat pikir selalu muncul di perdebatan sehari-hari. Yang jujur dan melawan akan dikalahkan oleh yang kuasa dan tamak (namun kelihatan suci). Kenaifan masyarakat masih selalu muncul dengan segala sesat logika. 

Argumentum ad Hominem banyak digunakan untuk kampanye politik identitas buta, Argumentum ad Baculum bisa jadi masih muncul di kekuasaan-kekuasaan tertentu, Argumentum ad Misericordiam juga selalu jadi bahan mencari simpati. Yang tak lupa, Argumentum ad Populum yang menghambat pembaruan pikiran. 

Siapa pelakunya? Jika kita telaah, ada di semua kubu. Dan sayangnya,  menyambung apa yang saya bilang di awal subjudul ini, kita belum bisa jernih dalam menangkap isi dari perdebatan era ini. Terjebak dalam ketidaktahuan namun menyatakan sikap secara impulsif adalah karena kenaifan belaka.

Politik Masa Mengambang adalah suatu hal yang membuat masyarakat tidak terdidik secara politik. Orde Baru memang menggunakan ini dengan pendekatan militeristik dan indoktrinasi yang sangat ketat. 


Segala nilai diterjemahkan menjadi "saya". Mengkritik presiden adalah mengkritik Pancasila dan yang mengkritik Pancasila adalah suatu dosa. Orang berdosa adalah yang layak disingkirkan. Mungkin begitu kondisi waktu itu.

Reformasi meruntuhkan dominasi tafsir Pancasila oleh Presiden dan kroninya. Namun, pendidikan politik tidak datang sesuai kebutuhan. Namun, usaha untuk menciptakan definisi yang sejati kini baru muncul di forum-forum normatif. Reformasi ke dalam mental dan struktural tidak terjadi.

Fanatisme Buta Merajalela

Semoga tulisan semacam ini dibagikan di relung-relung obrolan grup-grup komunitas wilayah. Kita memang sudah merasakan betapa sosial media kita diisi oleh hal-hal yang tak logis lagi. Sebagai contoh, saya sering mendapati grup Facebook wilayah saya tinggal, Kebumen.

Isinya hoaks, komentasnya banyak, isinya perdeban sengit. Yang membantah hoaks pun ternyata menggunakan hoaks. Ada yang secara naif mengatakan bahwa perdebatan di sosial media itu tidak baik. Plus, yang saya sukai, ada yang secara tak terduka memberikan komentar sarkas yang menyindir bahwa perdebatan sudah tak logis.


Nihil akal sehat dan situasi diskusi yang kondusif di sosial media. Meski, kita tahu, sosial media adalah lahan di mana kita bisa berujar secara anonimus. Tentu, jika kita datangi seseorang yang gahar di sosial media, nyatanya mereka melempem di dunia nyata. Pol-polnya ngeyel saja ketika diajak diskusi.

Sosial media adalah wujud nyata fanatisme buta kepada pilihan politik. Seburuk apapun idolanya, tak akan dikritik. Atau, jika ada yang mengkritik, langsung dianggap musuh. Debat kusir jadi sampah digital yang tiap hari kita temui. Bau busuk kata-kata bohong dan ancaman pertikaian sesama kawan mengintai.

Instal dan Uninstal yang Seharusnya


Jadi, simpulan sederhana dari tulisan ini adalah apa yang harus diinstal dan diuninstal di dalam sistem operasi politik kita. Yang harus diinstal sekarang adalah pendidikan politik secara menyeluruh dan literasi yang kukuh. Disisi lain, kita harus uninstal adalah konsep fanatisme buta. 

Politik massa mengambang sudah cukup. Politisi harus memberikan contoh gerakan politik yang isinya beradu gagasan. Gunakan sentimen-sentimen logis untuk membangun elektabilitas. Isi kepala tiap calon wakil rakyat dan calon pemimpin politik harus dijabarkan secara logis.

Berhentilah untuk terus menginstal virus kebencian dan ketakutan akan perbedaan. Jika memang orang-orang di lembaga negara kita gagal menciptakan apa yang disebut dengan proses mencerdaskan kehidupan bangsa, mari kita belajar untuk melakukan pembaruan sistem politik kita dari ruang yang paling kecil kita. Stop jari untuk melakukan hal yang tidak cerdas.

Artikel Terkait