Beberapa waktu belakangan ini, saya mulai menyortir daftar pertemanan di akun-akun media sosial saya. Tidak hanya meng-unfollow beberapa orang teman lama, saya bahkan melakukannya juga ke anggota keluarga dan kerabat.

Bukan karena saya merasa iri melihat kehidupan mereka yang jauh lebih terlihat menyenangkan daripada hidup saya, bukan. Tapi lebih ke menghindari hal-hal beracun. Iya, toksik.

Percaya atau tidak, racun yang bisa menghajar kita setiap hari sampai kelenger itu bukan yang berasal dari orang luar saja. Seringnya racun-racun ini datang dari orang-orang terdekat kita. 

Keluarga, contohnya. Tempat ternyaman kita untuk pulang, tempat teraman kita untuk merasa disayang malah berubah menjadi kotak pandora. Tidak sedikit penghakiman kecil atas sikap dan pribadi kita di keluarga lalu membentuk kita menjadi seorang yang selalu merasa insecure.

Contoh kecil: nama panggilan di rumah. Mungkin karena saat bayi atau balita kita lucu dan menggemaskan, lalu orang memanggil kita dengan sebutan 'Gendut', 'Gembul', 'Montok', dan lain sebagainya. Kalau nama panggilan ini diteruskan sampai kita remaja dan dewasa, tentunya sudah tidak lucu lagi.

Memang ada beberapa orang yang baik-baik saja, tapi ada juga yang jadi merasa label ini menyiksa, dan berpengaruh ke kepribadian.

Contoh lain: sering dibandingkan dengan prestasi kakak atau adik. Ini merusak, sangat merusak. Jarang sekali ada yang merasa terpacu untuk jadi lebih jago, yang ada malah membuat mental seorang anak makin down. Merasa apa yang sudah mereka lakukan itu tidak dihargai, merasa selalu salah dan kalah.

Di dunia media sosial, hal ini masih berlanjut. Mengunggah foto dengan pasangan lalu dikomentari: "Lho, yang kemarin mana? Sudah ganti lagi?". Atau bila mantan kita telanjur kenal dengan keluarga, saat kita putus lalu si mantan mengunggah foto dengan orang lain, pasti akan ada pertanyaan semacam: "Itu pacar barunya? Kamu sih nggak bisa jaga baik-baik, diambil orang, kan, jadinya?"

Saya sendiri sudah lelah dengan hal-hal seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan yang bagi mereka hal biasa, hal enteng atau bahkan digunakan untuk basa-basi, itu belum tentu mudah bagi saya dan beberapa orang yang mengalami.

Ditanya 'Kapan nikah?', saat baru bubaran, pasti susah, kan, jawabnya? Ditanya 'Kenapa cerai sih? Nggak kasihan sama anak apa?' tentu juga nggak akan mudah menemukan dan menyusun kalimat yang pas untuk menjawabnya.

Belum lagi bila ternyata kita dan beberapa anggota keluarga ada yang berbeda cara pandang. Saya pernah menulis status 'Selamat merayakan tahun baru Saka' di akun Facebook saya, dan mendapat hujatan habis-habisan dari sepupu saya sendiri.

Tidak tanggung-tanggung, dia menuliskan amarah, hujatan, dan ketidaksetujuannya itu di kolom komentar! Yang pastinya bisa dibaca oleh siapa pun. Malu? Jelas. Kesal? Pasti.

Saya sudah beberapa kali menulis tentang hal ini, tapi belum juga menemukan alasannya, kenapa sih orang-orang lebih suka bertanya? Kenapa mereka tidak bisa menjadi seorang yang siap merangkul, siap mendengarkan saja?

Saya yakin, saat kita sedang mengalami masalah dalam hidup yang kita butuhkan bukanlah pertanyaan demi pertanyaan. Kita hanya butuh didengar. Butuh dimengerti, bukan dihakimi.

Bila kita masih bisa menghindari racun-racun semacam itu di lingkup pertemanan, akan beda ceritanya bila keluarga atau kerabat sendiri yang menjadi racunnya. Mau menghindar ke mana lagi kita?

Salah satu caranya, ya mungkin dengan aksi tutup telinga rapat-rapat. Kalau racunnya beredar di akun media sosial milik keluarga? Saya sih sudah tidak segan-segan untuk unfollow bahkan blokir.

Ini juga riskan sekali sebenarnya. Dengan meng-unfollow atau bahkan memblokir akun dan kontak milik keluarga, kerabat dan teman, tentunya membuat kita akan dapat label baru. Sombong, sok jago, aneh, antisosial, nggak sayang keluarga, dan masih banyak lagi. Makin kita mendengarkan apa yang mereka bilang, makin kita teracuni.

Jangan takut untuk melakukannya, teman-teman. Kita tidak akan sadar kalau udara yang kita hirup sehari-hari itu beracun sampai saatnya kita menemukan udara yang lebih segar.

Hubungan pertemanan dan persaudaraan yang sehat itu penting, tapi kesehatan dan kewarasan mental kita jauh lebih penting. Karena kalau mereka memang benar-benar keluarga, mereka tidak akan melakukan itu pada kita.