Sejak hari pertama wabah covid-19, pelaksanaan haji dan umrah mengalami penyesuaian. Begitu dinyatakan oleh WHO sebagai pandemi, umrah bahkan ditutup. Dalam beberapa kesempatan dibuka kembali, namun ada-ada saja kendala sehingga ditutup kembali. Termasuk dengan penerbangan umrah yang sudah diterbitkan tiketnya.

Setelahnya, ada protokol. Bagi yang akan menunaikan umrah hanya dapat melaksanakan satu kali. Itupun dengan kapasitas bis yang tidak boleh melebihi 50%. Ini mengakibatkan biaya umrah yang bertambah. Termasuk kewajiban untuk isolasi selama tiga hari ketika tiba di Jeddah.

Makan dan minum hanya sepenuhnya dapat dilakukan di kamar masing-masing. Tidak ada lagi prasmanan yang selama ini menjadi layanan umrah dan haji. Disesuaikan dengan selera makan asal negara masing-masing.

Namun, sepanjang Ramadan 1442 H, jamaah umrah sama sekali tidak dibuka. Hanya untuk penduduk mukim Saudi Arabia. Inipun dengan syarat yang ketat. Bahkan dengan ancaman denda yang mencapai 100.000 riyal.

Dalam satu kesempatan dimana ada jamaah yang terpapar covid-19, maka semua rombongan diisolasi. Setelah terkonfirmasi negatif, diterbangkan sesuai jadwal.

Salah satu operator umrah dan haji di Makassar mengemukakan, selama Maret 2020 sampai sekarang, menuju tahun kedua layanan kantornya tutup sama sekali.

Kalaupun ada pembukaan, kadang jamaah hanya sampai di Jakarta saja. Regulasi yang terus berubah sebagai respon atas kondisi semasa menyebabkan penyelenggara umrah dan haji memilih untuk banting stir.

Tidak banyak pilihan. Wisata lokalpun digarap. Begitu pula menawarkan wisata domestik. Sementara untuk rute internasional hanya ada beberapa. Diantaranya Turki, Mesir, dan beberapa destinasi lainnya di Timur Tengah yang membuka perbatasannya.

Bahkan perusahaan itu harus menutup layanan umrah dan haji. Selebihnya, karyawan diminta bekerja dari rumah. Sementara yang lainnya, dirumahkan. Tanpa biaya bulanan sama sekali. Sambil melihat keadaan yang akan datang.

Pandemi memberi tekanan tersendiri bagi perjalanan umrah dan haji. Sejauh ini, pemerintah Saudi belum mengumumkan sama sekali regulasi terkini terkait dengan umrah dan haji. Sehingga para pengelola biro perjalanan umrah dan haji, sementara ini tiarap. Tanpa aktivitas sama sekali.

2020, haji hanya dapat diikuti oleh 1.000 jamaah. Itupun hanya terpilih dari para pendaftar yang sudah berada di Saudi Arabia. Tidak ada jamaah yang datang dari luar negara. Bagi warga negara asing, hanya pekerja ataupun mahasiswa yang sudah berada di Saudi.

Selama pandemi, mahasiswa belajar daring. Sekalipun berada di asrama mahasiswa yang disediakan. Bagi mahasiswa yang terpapar, mereka dikarantina baik di rumah sakit rujukan maupun di hotel-hotel tempat isolasi.

Padahal dalam kondisi sebelum pandemi, haji diikuti sampai 2,5 juta orang. Kekhawatiran dan kecemasan menjadi pertimbangan sehingga pelaksanaan haji dibatasi. Termasuk pencegahan penularan virus dan memutus mata rantai wabah.

Untuk registrasi umrah, harus terkonfirmasi sudah mendapatkan vaksin yang terdaftar WHO. Adapun konfirmasi tersedia dalam aplikasi I'tamarna yang tersedia sejak September 2020. Semuanya dikelola dengan media digital. Termasuk proses keluar masuk masjid juga melalui aplikasi.

Bagi yang pernah terinveksi covid-19, hanya boleh bagi penyintas yang sudah melewati enam bulan sejak perawatan. Kurang dari itu, tidak diperkenankan untuk mendaftar.

Untuk keluar masuk di berbagai gedung harus menjalankan aplikasi tawakkalna. Dimana tracing untuk pergerakan tersenarai dalam aplikasi tersebut. Ini semata-mata memudahkan bagi jamaah untuk dikenali jika dalam kontak mereka ada yang terpapar covid-19.

Sementara itu, makanan hanya dapat dipesan. Meja dan kursi untuk makan di restoran untuk sementara ditiadakan.

Satu aplikasi lainnya, sehhaty yang terhubung kepada data penerima vaksin.

Dengan pengelolaan seperti ini, kesiapan untuk mengantisipasi penyebaran wabah dapat ditanggulangi.

Dalam satu kesempatan diskusi dengan atase pendidikan dan kebudayaan, KBRI Riyadh disampaikan bahwa dengan adanya aplikasi-aplikasi tersebut memudahkan pemantauan. Sekaligus juga pencegahan. Sehingga kerajaan Saudi dapat mengendalikan wabah.

Kita telah berada di Syawal. Walau vaksinasi terus dijalankan, hanya saja satu kendala bahwa vaksin bagi masyarakat Indonesia belum masuk dalam daftar WHO. Kecuali, jikalau calon jamaah haji yang akan berangkat mendapatkan vaksin tersendiri sebagaimana yang disyaratkan kerajaan Saudi.

Dengan kondisi yang sudah berada di Syawal, persiapan dalam negeri juga belum dilakukan. Sehingga sembari menunggu konfirmasi dari kerajaan Saudi, persiapan dalam negeri tak ada yang dapat dilakukan. Kepastian pemberangkatan sepenuhnya menunggu keputusan kerajaan Saudi.

Kedua, terkait dengan regulasi dan juga jatah jamaah haji yang ditetapkan kerajaan Saudi. Senyampang menunggu regulasi yang terkini untuk masa kekinian, maka tetap saja bahwa umrah dan haji belum dapat dilakukan.

Demikian pula, soal jatah yang ditetapkan bagi Indonesia. Mengacu pada jumlah umrah yang berlangsung dalam Ramadan 1442 H, sudah mencapai 10.000 orang. Ini juga bisa menjadi referensi bagaimana nantinya jamaah yang akan diterima. Bolehjadi akan meningkat jumlahnya berbanding dengan jumlah haji tahun lalu.

Hanya saja, pagebluk mengiringi kita dengan kondisi yang terus berubah. Maka, sampai pada waktunya nanti, ketetapan yang dibuat oleh kerajaan Saudi itulah yang akan memberikan kepastian terkait dengan haji tahun ini.