Benar yang dikatakan orang-orang bahwa penyair takkan pernah mati, mereka selalu hidup dalam karya-karyanya.

Umbu Landu Paranggi, para penyair mana yang tak mengenal beliau? hampir seluruh penyiar Indonesia mengenal siapa beliau, mungkin hanya orang-orang yang kurang piknik dalam belantika penyair sahaja yang tak tahu siapa beliau.

Lelaki kelahiran Sumba Timur, 6 April 2021, asal Nusa Tenggara Timur (NTT) , tepatnya kabupaten Sumba ini merupakan sosok fenomenal dan misterius dalam dunia penyair, Ia  disebut guru oleh beberapa penyair. Orang-orang yang dekat dengannya menyebutnya “guru batin”, “mahaguru puisi”, “mata air puisi”, “guru yang bersih hati”.

Tatkala membaca beberapa tulisan tentang beliau, saya terkagum-kagum ketika mengetahui bahwa Ema Ainun Najib atau yang biasa disapa Cak Nun  pernah berguru kepada beliau.

Bukan hanya itu, beberapa sastrawan seperti Linus Suryadi AG, Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarno Pragolapati pernah berguru kepada beliau.

Akan tetapi, menurut orang dekat beliau, walaupun beliau terkenal dikalangan penyair. Namun, beliau tak begitu suka dengan popularitas.

Dilansir dari Tirto.id, Emha dalam esainya, “Presiden Malioboro, Untuk Umbu”, yang tayang di Kompas (16/12/2012) menyebut bahwa keterkenalan sebagai penyair memang bukanlah tujuan Umbu. Ia bahkan dengan sadar menjauhi eksistensi sebagai penyair. Padahal ia punya kesempatan untuk itu ketika pada 1973 puisi-puisinya hendak diterbitkan oleh majalah Horison. “Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri, dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat curiga kepada kemasyhuran dan popularitas,” demikian Emha.

**

Syahdan, ketika saya Membaca tulisan Agus Rois tentang “Rinduku Pada Umbu; Mungkin Hanya Angin, Daun, dan Debu” saya makin kagum dan terkesima terhadap beliau. Saya yang membaca tulisan tersebut seakan tak percaya bahwa ada orang NTT yang masyur dalam dunia penyair dan begitu dikagumi.

Arkian  dua dari puisi-puisi beliau yang saya sukai adalah puisi tentang “Ibunda Tercinta” dan "Melodia' dan  Begini bunyinya:

Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

duka derita dan senyum yang abadi

tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi

dari ujung rambut sampai telapak kakinya

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

korban, terima kasih, restu dan ampunan

dengan tulus setia telah melahirkan berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

cinta kasih sayang, tiga patah kata purba di atas pundaknya

setiap anak tegak berdiri menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

(1965)
Sumber : Tonggak 3 : Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 244). Puisi ini diambil dari Manifes, Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.


Kalau kita membaca puisi  "Ibunda tercinta" di atas kemudian kita renungkan, kata-kata dari setiap bait puisi tersebut syarat akan makna.

Beliau menggambarkan  dengan  sangat indah tentang sosok ibu. Perempuan yang kuat, penuh pengorbanan, sosok pelindung, pemelihara, penopang bagi anak-anak. Beliau seakan menunjukan bahwa ibu adalah mahluk paripurna. Seperti dalam bait puisinya, pada diri ibu hanya ada tiga patah kata purba: cinta kasih sayang.

Arkian puisi tentang "Melodia" Begini bunyinya:

Melodia

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan

karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan

baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana

sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara

dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya

membukakan diri, bergumul dan merayu hari-hari tergesa berlalu

meniup seluruh usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi

dalam kerja berlumur suka duka, hikmah pengertian melipur damai

begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan

selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan

rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana

di ruang kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa

kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian

yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

(Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984 (halaman 73).

Puisi Melodia  di atas, menurut pembacaan saya seperti menjelaskan kekuatan cinta (The power of love) dalam bahasa kekinian "Dengan cinta segalanya bermula dengan cinta segalanya kembali". 

***

Sialnya belum lama saya mengenal dan membaca sajak maupun puisi beliau,
Saya terkejut tatkala mengetahui bahwa beliau telah dipanggil oleh yang Mahakuasa.

Dan itupun sudah di bulan lalu, tepatnya pada Selasa (6/4/2021) pukul 03.55 WITA, di Denpasar, Bali.

Detak, detik seakan memperpendek usia. Namun suaramu yang bergema dalam syair seakan membuatmu hidup selamanya.

Dalam detak detik, dalam genggaman usia

Mengombak suaramu jauh bergema

(Umbu Landu Paranggi, Solitude).

 
Para penyair selalu hidup dalam karya dan dihati pecintanya; dan yang kita lakukan adalah temukan mereka dalam karyanya

Kekasihku, di jalan ada jumpa dan sua kembali. Tetapi orang berjalan sendiri-sendiri. Kupikul ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kamu mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.

(Elizabeth D. Inandiak, Centhini: Kekasih yang Tersembunyi)