Kali ini saya membaca buku Human Kind, A Hopeful History karya Rutger Bregman. Buku ini sungguh luar biasa, bahkan bagi saya lebih menggetarkan daripada Sapiens karya Yuval Noah Harari, membuat kita memandang umat manusia dari sudut pandang baru.

Human Kind dimulai dengan pertanyaan besar: apakah manusia condong pada kebaikan atau kejahatan? Bregman membahas dua pendapat filsuf terkenal, Thomas Hobbes dan Jean-Jacques Rousseau. Hobbes seorang pesimis dan percaya hakikat manusia itu jahat sehingga diperlukan civil society, masyarakat beradab yang diatur oleh serangkaian aturan. Sebaliknya Rousseau berpendapat, di dalam hati semua manusia itu baik, dan peradaban dengan serangkaian aturan ketatnya justru membuat manusia terlibat kejahatan.

Teori-teori ekonomi banyak dibangun dari pemikiran Hobbes, bahwa manusia adalah homo economicus. Makhluk yang selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya. Di lain pihak, teori-teori pendidikan sering dibangun dari pandangan Rousseau. Baik Rousseau maupun Hobbes membahas dua emosi utama manusia: cinta dan ketakutan.

Bregman kemudian mulai menguraikan bukti: apakah Rousseau yang benar, atau Hobbes. Diawali dengan membahas novel terbitan tahun 1951: Lord of the Flies karya William Golding. Berkisah tentang anak-anak yang terdampar di pulau terpencil. Pada akhir kisah digambarkan mereka menjadi makin ganas dari hari ke hari. Akhirnya saling membunuh untuk mempertahankan hidup.

Novel Lord of The Flies laris di pasaran. Kisah itu juga diikuti berbagai reality show di TV, tentang orang yang makin kejam saat mencoba bertahan hidup di tempat yang jauh dari peradaban. Efeknya hampir semua orang menjadi percaya pada pandangan Hobbes.

Namun terjadi peristiwa luar biasa setelah itu. Di tahun 1965, tujuh orang anak sekolah terdampar di pulau Ata, pulau terpencil di Tonga, Kepulauan Pasifik. Baru setahun kemudian mereka diselamatkan seorang kapten kapal Bernama Peter Warner. Ketujuh anak itu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Menjadi sahabat sejati hingga di usia tua.

Sesaat setelah terdampar, ketujuh anak tersebut justru saling menguatkan dan bahu membahu. Dengan susah payah mereka berhasil membuat api, berpegang pada apa yang diajarkan dalam kepanduan. Selama setahun terdampar di Pulau Ata itu, mereka bekerja sama bergantian menjaga agar api tersebut tidak padam. Mereka juga menampung air hujan untuk diminum, membaginya dengan rata, dan akhirnya bahkan mampu membuat penampungan air yang besar. Mereka juga berbagi tugas mengumpulkan makanan, memancing dan kemudian berkebun.

Bila ada pertengkaran di antara mereka, mereka akan menjauh sementara untuk menenangkan diri, kemudian rukun lagi. Mereka juga saling bernyanyi, berbagi cerita, dan bermain bersama. Ketika ada seseorang yang jatuh dan kakinya patah, mereka merawatnya hingga sembuh kembali. Persahabatan mereka terjaga hingga mereka tua. Termasuk dengan Peter Warner, nakhoda yang menemukan mereka. Mereka kemudian bekerja sama membentuk perusahaan pengapalan ikan.

Kisah itu membuat kita optimis, bila peradaban dibangun dengan kasih sayang. Namun Bregman, penulis Human Kind juga menunjukkan fakta-fakta arkeologis yang menyedihkan tentang nenek moyang sebagai spesies yang ganas.

Pertama, kita adalah satu-satunya spesies manusia yang bertahan hidup. Spesies lain seperti Homo Neanderthal punah. Banyak saintis menunjukkan kepunahan spesies manusia lainnya disebabkan agresivitas spesies kita, Homo Sapiens. Ini yang membedakan kita dengan singa, macan, kuda, ataupun anjing yang punya banyak saudara satu genus meski beda spesies.

Saintis kemudian juga menduga bila Homo Neanderthal punah karena lebih bodoh dan kasar daripada kita, sedang manusia modern bertahan hidup karena lebih licik. Tetapi kemudian ditemukan fakta bila Homo Neanderthal bukan hanya lebih kuat secara fisik (memiliki otot sebesar Popeye setelah makan bayam) tetapi juga memiliki volume otak yang 15% lebih besar. Ini artinya Neanderthal bisa jadi lebih cerdas dari kita, para manusia Homo Sapiens. Fakta ini makin menguatkan dugaan bila Sapiens lestari karena jauh lebih brutal, kejam dan ganas.

Temuan arkeologis terus terungkap. Kian hari kian terkuak fakta bahwa sejarah Sapiens yang telah berlangsung sekitar 50.000 tahun itu bukanlah sejarah yang gelap. Nenek moyang kita di era pemburu-pengumpul ternyata tak kenal perang. Temuan lukisan-lukisan gua yang paling tua hanya menggambarkan perburuan binatang dan nenek moyang yang sedang leyeh-leyeh. Gambar-gambar tentang perang justru muncul pada lukisan gua yang lebih muda. Saat manusia dalam peralihan ke era pertanian. Saat itu manusia mulai bisa menjinakkan hewan dan mengendarai kuda.

Di sini teori Rousseau terlihat lebih potensial benar. Apalagi pada penelitian tentang manusia era pemburu-pengumpul, juga ditelusuri pada suku-suku terasing yang masih ada saat ini. Pemburu-pengumpul adalah sekelompok orang-orang yang egaliter. Mereka terbiasa saling berbagi, karena konsep kepemilikan belum ada. Apalagi konsep patriarki dan aturan-aturan misoginis. Disinyalir, hidup mereka lebih Bahagia, lebih damai dan memiliki waktu luang yang lebih banyak.

Bisa jadi kisah surga pada agama-agama Abrahamik adalah kisah hidup yang merujuk masa damai pada era pemburu dan pengumpul. Adam, yang disebut manusia pertama pada kisah tersebut, kemungkinan adalah seorang terhukum karena ingin mengambil sesuatu dan menguasainya sendiri. Apa yang dikisahkan Adam kemudian sebagai memetic pohon pengetahuan. Adam mungkin manusia awal yang bertani.

Dalam suatu kelas Pendalaman Alkitab yang pernah saya ikuti, pendeta mengatakan kisah Kejadian ditulis sebagai tafsiran manusia 3000 tahun lalu tentang alam semesta. Mereka melihat dalam kacamata dan keterbatasan pengetahuan mereka. Apa yang mereka tulis bisa jadi tidak terbukti, namun tak ada maksud buruk saat mereka mengumpulkan kisah tersebut. Metafor-metafor yang masih bisa digunakan hingga saat ini untuk membangun masyarakat yang baik.

Kembali ke Human Kind, temuan-temuan sains makin mencengangkan. Neanderthal punah bukan karena pertempuran barbar dengan Sapiens. Namun karena sifat anti sosial mereka yang tak mampu membuat mereka bertahan menghadapi aneka bencana di akhir zaman es. Sebaliknya Sapiens, dengan kemampuannya bekerja sama, mampu menciptakan peralatan dan saling bekerja sama dan bertahan hidup.

Bregman kemudian memuat hal mencengangkan, membandingkan struktur fisik yang membedakan anjing dan rubah. Anjing relatif lestari dibanding rubah. Demikian juga hewan-hewan lain yang berhasil dijinakkan manusia: kelinci, kuda, babi, ayam dan kucing. Hewan-hewan yang makin jinak itu bercirikan telinga yang lebih terkulai, ekor melingkar dan kerap bergoyang-goyang dan wajah yang lebih kekanak-kanakan (innocent) dibanding spesies yang lebih liar.

Demikian juga manusia. Dibanding Neanderthal, Sapiens memiliki wajah yang lebih kekanak-kanakan. Ini adalah ciri-ciri keramahan. Baik pada hewan-hewan jinak maupun manusia, keramahan itu bercirikan adanya hormon serotonin (hormone bahagia) dan oksitosin (hormone cinta) yang lebih banyak. Neanderthal, memiliki hormon serotonin dan oksitosin yang lebih sedikit. Lebih anti sosial dari kita, tak mampu membangun ikatan emosional, empati ataupun kasih. Inilah yang membuat spesies ini musnah. Berbeda dengan Homo Sapiens.

Rosseau menurut Bregman benar. Manusia adalah makhluk yang baik, meski kemudian, lahirnya peradaban melahirkan kebengisan manusia. Sejarah manusia, diawali sebagai spesies yang bahagia di era pemburu pengumpul. Era pertanian membawa manusia mengenal peperangan dan mulai kehilangan kedamaiannya. Tapi ada fakta menarik, dalam 200 tahun terakhir, manusia mulai memasuki masa yang membahagiakan. Angka kematian menurun, kualitas hidup meningkat, bahkan meski mengalami dua perang dunia, manusia modern mengalami jauh lebih sedikit pertempuran dibanding zaman pertengahan.

Tak ada alasan untuk bersikap fatalistik terhadap kemajuan peradaban.