Penikmat kopi
3 tahun lalu · 1370 view · 2 min baca · Agama 157179_620.jpg
Foto: tempo.com

Ulil Menjadi Anggota MUI

MUI sebagai satu lembaga yang dihormati dan dijadikan rujukan umat Islam sudah sepatutnya melakukan reformasi lembaga. Kredibelitas MUI mulai dipertanyakan umatnya, berdasarkan temuan Setara Institute misalnya selama 2015, MUI telah melakukan 13 tindakan pelanggaran dalam kebebasan beragama/berkeyakinan.

Angka itu selevel dengan ormas FPI sehingga sangat miris sekali dilakukan pula oleh lembaga yang katanya diisi alim-ulama dari ormas Islam besar di Indonesia. Realitas itu setidaknya menjadi satu catatan penting bagi MUI sebagai lembaga representatif ulama di Indonesia.

Selain itu, MUI harus siap dikritik dengan kinerjanya dan membuka diri untuk berdialog dengan komponen Islam lainnya. Komposisi MUI juga sebaiknya lebih demokratis dengan melibatkan kelompok yang selama ini dianggap berseberangan secara fikih dengan MUI.

Pandangan saya mengatakan bahwa MUI harus berani bergaul dengan Syiah, Ahmadiyah, maupun JIL. Dalam hal ini MUI harus memberi kesempatan yang sama kepada ulama dari 3 kelompok tersebut secara adil, mereka harus menjadi bagian dalam tim MUI.

Kita tentu paham bahwa kemajemukan merupakan modal utama bangsa ini, bahkan dalam konteks beragama sekalipun kita harus berani jujur dengan kemajemukan pemahaman terutama Islam. Semakin banyak sudut pandang yang digunakan MUI dalam melihat sebuah fenomena dan realitas maka semakin baik pula hasil keputusan yang dibuat.

Hal itu penting pula untuk menambah kredibelitas serta integritas lembaga itu sendiri.

Fenomena Ulil

Keragaman pemahaman dalam berIslam di Indonesia bukan menjadikan kita kelompok otoriter, rigid, sarkasme, apalagi menghalalkan darah manusia. Fatwa kesesatan pemikiran Ulil misalnya walaupun bukan dikeluarkan MUI setidaknya memunculkan sikap benci, yang akhirnya hanya menambah persoalan baru dalam toleransi beragama.

Dalam kasus Ulil bila MUI mau mengajaknya berdialog bahkan menjadikan Ulil sebagai salah satu anggota dalam MUI tentu akan menarik. MUI akan menambah energi MUI terutama dalam sudut pandang penerbitan fatwa halal-haram.

MUI tampaknya harus mendalami kembali kisah para Nabi yang berani menentang agama dan kebiasaan lama di sekitarnya sehingga kemudian menemukan kebenaran hakiki. Bila Ulil nantinya menjadi komisioner MUI dan memiliki hak yang sama maka akan terjadi benturan pemahaman dan pemikiran, sebuah rahmat yang patut disyukuri.

Pertanyaan besarnya adalah: beranikah MUI berjiwa besar dengan rekomposisi personal MUI?

Bila menolak apalagi dengan argumen fikih oriented maka MUI bisa dikatakan lembaga pelegalan untuk menyesatkan pemikiran dan pemahaman yang tidak sejalan dengan mereka, padahal harusnya MUI lebih bijak dalam merespon pemikiran yang mereka anggap nakal.

Toh Ulil dengan JIL-nya, Ahmadiyah, Syiah bukan kelompok yang menganjurkan perang maupun kelompok teroris yang harus dijauhi.

MUI harus menjadi teladan dalam merespons perbedaan bukan malah menjadi lembaga yang memprovokasi sehingga memunculkan kebencian komunal. Tak ada manfaatnya menabung kebencian karena negeri kita sedang mencari format ideal guna memajukan peradaban.

Artikel Terkait