Penikmat Kopi Senja
2 tahun lalu · 1625 view · 3 menit baca · Gaya Hidup arrahman.com_.jpg
Ulil Abshar Abdalla

Ulil (Belum) Liberal

Menyebutkan nama Ulil Abshar Abdalla sebagai rujukan walaupun hanya menukilkan beberapa kalimat ternyata bisa membuat kita diklaim sebagai Islam Liberal dan selanjutnya dapat dimutasi dari pertemanan, kenyataan itu semakin menambah keingintahuan tentang sosok yang bikin jengkel kebanyakan tokoh Islam hingga awam.

Kalau awam biasanya akan langsung mencaci habis-habisan Ulil, sedangkan para ustaz dan alim biasanya menggunakan argumen Al-Qur'an dan hadis dengan terjemahan yang akhirnya memvonis sesat Ulil.

Saya merupakan orang awam yang mencintai ilmu, bagi saya tak ada halangan mendapatkan ilmu dari agama, budaya, ideologi, berbeda, asalkan ilmu maka saia mau menjadi budak ilmu, seperti hal Islam melalui Al-Qur'an dan hadis banyak bicara soal berpikir dan berilmu maka begitu pula sikap saya terhadap Ulil.

Kalaulah Ulil sesat sebagaimana difatwakan beberapa ulama, justru hal itu membuat saya semakin tertarik untuk mengenal dan mencoba menerjemahkan fatwa tersebut dari sudut pandang keilmuan dan pendidikan.

Pendidikan dan KeIlmuan Ulil

Saat menuliskan artikel ini sempat muncul kekhawatiran akan dianggap sesat dan pendukung Ulil, namun kemudian hati dan pikiran diajak mengembara ke sejarah Islam. Toh, Nabi awalnya juga seorang diri dalam memperjuangkan sesuatu yang baru, Nabi juga dianggap sesat.

Argumen itu bukan berarti kemudian menyatakan Ulil sebagai calon Nabi baru atau mendukung pemikirannya 100% karena pada dasarnya kami hanya beda generasi, beda pendidikan, beda budaya, namun Tuhan kami bisa jadi sama, entah kalau besok mas Ulil melakukan ijtihad teologi dan memutuskan serta tetap menetapkan Tuhan yang berbeda.

Fenomena JIL dan Ulil menurut penulis telah memunculkan reaksi, baik positif maupun negatif serta reaksi samar-samar, namun semua reaksi tampaknya belum mengembalikan tradisi intelektual dan berislam. Lihat saja bagaimana peran manusia yang berubah menjadi 'malaikat' dengan mencatat kesalahan berpikir Ulil walaupun bisa jadi memang ada kesalahan berpikir dari Ulil.

Kita pun bisa jadi salah dalam menafsirkan sesuatu, seseorang termasuk tentang diri sendiri. Kasus Mu'awiyah dan Ali seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita dalam berislam. Kita harus berani koreksi dan evaluatif dalam menilai Ulil.

Ulil merupakan santri yang awalnya sangat persis pola pikirnya dengan yang memfatwanya sesat, kalau tak terlalu sama setidaknya satu 'mobil'. Lalu Ulil melakukan dekonstruksi pemikiran sehingga dia menemukan 'mutiara' pemikiran dan mencoba menyebarluaskannya terutama kepada komunitas di mana dia dulu berada, namun tak semua mampu dan mau menerima perbedaan Ulil yang dulu dan sekarang.

Mirip kita tak terima bila orang yang kita kasihi ternyata berubah sekian derajat setelah menuntut ilmu. Reaksi kontraproduktif malah membuat seseorang semakin menantang. Kalaupun Ulil mati dihukum pancung, secara jasad dia mati namun secara pemikiran akan muncul ulil-ulil lain yang juga berasal dari pesantren tradisional dan modern di Indonesia.

Ada dua hal yang harus kita akui. Pertama, sistem pendidikan kita ternyata rapuh, kalaupun tak rapuh berarti pendidikan di luar sana yang mampu mengubah Ulil lebih baik. Kita juga harus mengakui kita belum berislam dengan baik walaupun taat dan mengusai ilmu Islam. Toh, seorang Ulil membuat kita mengeluarkan fatwa, mengapa kita takut Ulil menularkan pemikirannya kalau kita cukup kuat dengan akidah dan kemampuan keilmuan kita?

Kalau kita mau jeli membaca tulisan maupun pemikiran Ulil dengan kacamata keilmuan, akan kita temukan sisi lemah argumen Ulil, bahkan Ulil (belum) Liberal walaupun dia pendiri JIL. Lihat saja argumen yang dibangun melalui tulisan dan retorikanya masih sebatas nukilan yang diramu sedemikian rupa sehingga tampak seolah Liberal. Menurut pandangan penulis, Ulil masih terikat dengan doktrin dan ajaran orang-orang yang juga diklaim tokoh liberal.

Kitab-kitab bacaan Ulil biasa-biasa saja. Ulil hanya mengajak kita 'bertamasya' di kebun ilmu yang di sana ada banyak buah yang halal dan menyehatkan. Jangan ambil yang bisa membuat diare atau sakit namun ambil yang menyehatkan tadi. Cara menanam Ulil di kebun itu memang berbeda dengan kebanyakan muslim di Indonesia namun sebenarnya bukan hal yang baru kalau kita mau belajar lagi.

Kesimpulan penulis, Ulil (belum) liberal dan semoga penulis tidak distempel sebagai liberal karena artikel ini. Bagi penulis, tidak ada Islam Liberal, Fundamental tapi yang ada hanya Islam. Sub-Islam itu hanya stempel di era perpecahan umat.