Ular piton berdiameter setengah meter dengan panjang tiga meter melahap anak rusa secara berlahan. Hanya dengan cara itulah ia mampu melahapnya, sebagai bekal bersembunyi agar tetap bertahan hidup.

Bayangkan jika kitalah ular itu, bentuk perasaan apakah yang akan kita rasakan saat melahap anak rusa tersebut? Namun, apa gunanya membayangkan hal seperti itu? Buang-buang waktu. Toh, kita hanyalah rakyat jelata yang bertahan hidup dengan memeras tenaga sendiri tanpa memakan siapa pun.

Terkadang kitalah yang dimakan. Entah oleh para politisi yang korup, oleh para juragan yang korup, oleh para elite dalam bidangnya masing-masing, atau oleh orang-orang di sekitar kita yang posisinya sedikit berada di atas kita, para senior misal.

Oleh karena kita adalah rakyat jelata yang hidup di negeri yang mengusahakan terciptanya iklim persaingan sehat (itulah yang dipropagandakan) sebagai wujud keikutsertaan dalam wacana globalisasi, maka kita yang hanyalah rakyat jelata telah diberi anugerah yang indah, yaitu kesempatan.

Oleh sebab itu, antusiasme adalah wujud rasa syukur kita sebagai rakyat jelata. Lalu, bagaimana dengan wujud antusiasme itu sendiri? Tentu dengan bekerja sekeras mungkin menduplikasi orang-orang sukses (atau menjadi sedikit lebih kreatif), dan menjadikan diri kita sukses seperti mereka. Itulah indahnya anugerah berupa kesempatan.

Saya sendiri mengamini kebaikan antusiasme dan indahnya anugerah kesempatan. Selain itu, saya juga termasuk ke dalam bagian rakyat jelata, dan kebetulan belum mendapat pengalaman dimakan oleh orang lain secara eksplisit.

Selain itu, saya ingin berantusias, bekerja sekeras mungkin, dan belajar agar mampu menduplikasi mereka yang telah sukses (atau menjadi sedikit lebih kreatif). Saya juga berharap untuk tidak mengulangi kesalahan yang mungkin dilakukan tanpa disadari banyak orang, dewasa ini.

Namun, saya akan menuruti anjuran untuk membayangkan diri jika berada di posisi ular yang sedang melahap mangsanya secara berlahan. Menurut saya, “Ular yang melahap mangsanya” tidak harus diidentikkan dengan “Memakan hak”, karena ia juga dapat diartikan sebagai lambang dari sebuah proses.

Mari kesampingkan efek negatif (saling memakan) dari antusiasme berlebihan terhadap kesempatan. Kemudian, beranjak membahas bagaimana seharusnya menata sikap mental dalam rangka menyemarakan anugerah indah berupa kesempatan yang telah diberikan untuk kita.

Namun, pertama-tama izinkan saya memberitahukan asumsi saya mengenai kehidupan di dunia ini. Kehidupan di dunia ini tidak lain halnya dengan rest area. Di dalam sebuah perjalanan, kehadiran rest area sangat penting. Karena jika kita terus mengendara tanpa mengambil jeda istirahat, maka akan banyak hal yang terlupakan. Hal itu berefek terhadap keselamatan.

Jadi, kehidupan di dunia ini bukanlah finish, melainkan rest area yang berfungsi sebagai tempat menata kembali perbekalan, mental, dan tenaga. Itulah mengapa di kebudayaan mana pun manusia selalu diingatkan agar tidak henti-hentinya belajar.

Sayangnya, terdapat banyak rumusan mengenai tujuan belajar itu sendiri. Dan saya memilih rumusan yang menyatakan bahwa belajar bertujuan untuk mengenal Tuhan. Selain itu, saya meyakini bahwa sejatinya tempat kembali setiap manusia hanyalah Tuhan. (Sudah menangkap maksudnya, kan?)

Kalau boleh sedikit curhat, saya memiliki keinginan menjalankan kegiatan apa pun di dunia ini tanpa melupakan kehadiran Tuhan. Sayangnya, saya masih sering kebobolan. Apakah kenyamanan yang mengelilingi saya selama ini, menjadi aspek seringnya kebobolan? Saya tidak tahu.

Namun, saya teringat dengan perkataan; “Ketika berada di puncak gunung bersama kekasih, saat itu juga muncul harapan kepada Tuhan agar jangan dulu merobohkan gunung tersebut.”

Sekali lagi bayangkan dan tempatkan diri kita sebagai ular yang sedang melahap mangsanya secara berlahan, mungkinkah saat itu juga kita memohon kepada Tuhan untuk terhindar dari sergapan manusia atau predator lain? Karena ketika ular melahap mangsanya, ular tersebut tidak mampu berbuat apa pun selain menyelesaikan apa yang ia mulai.

Jadi, apakah dengan terus-menerus menerjunkan diri  ke dalam mara bahaya adalah cara untuk selalu mengingat Tuhan? Bukankah lucu jika rest area yang tersedia untuk diambil manfaatnya (yaitu menata kembali perbekalan, mental, dan tenaga) sebagai persiapan melanjutkan perjalanan, malah membuat lupa dengan tujuan akhir perjalanan? Benarkah mara bahaya adalah jawabannya?

Bagimanapun juga, saya harus tetap berusaha mengingat kehadiran Tuhan di setiap kegiatan dalam alur kehidupan saya. Betapapun nyamannya kehidupan saya. Selain itu, meskipun sedikit bebal, saya tidak akan pernah berhenti belajar. Semoga dengan cara itu saya mampu mengenal Tuhan. Tidak perlu mengemis-ngemis mara bahaya. Yang terpenting adalah tadah.

Terkadang saya bingung sendiri melihat ingatan saya yang tiba-tiba muncul, tetapi juga sering menghilang tiba-tiba. Betapa tidak kuasanya saya menghadapi ingatan sendiri, padahal sebagai manusia seharusnya mampu me-manejemen banyak hal. Bukankah begitu?

Tetapi apa yang bisa ditata kalau barang yang mau ditata saja tiba-tiba hilang. Kemudian, ketika tiba-tiba ketemu dan akan ditata, ternyata hilang lagi. Kalau beruntung, barang tersebut tidak hilang, namun keberadaannya membuat gelisah.

Ya, setidaknya kegelisahan tersebut mendekatkan diri kepada Tuhan. Semoga saja.