Astaga, lagi-lagi aku terlambat!” Aku baru ingat bahwa hari ini ada ulangan Matematika di sekolah. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas sembari berharap semoga ulangan kali ini tak seperti sebelumnya, dimana aku bangun kesiangan dan nilai Matematikaku anjlok. Tak tertolong.

Suasana sekolah begitu sepi. Hampir tak kudapati seorang pun berlalu lalang. Aku bingung. Kemana orang-orang? Apakah aku terlambat lagi? Atau justru aku yang datangnya kepagian? Kutatap arloji di tangan kiri dan aku memang tepat waktu.

Kususuri setiap lorong menuju ruang kelasku. Beruntung aku bertemu Lisa, teman kelas yang sudah aku taksir semenjak kelas satu. Ia selalu begitu; menjadi murid paling rajin yang setiap hari selalu datang lebih awal dari yang lainnya, bahkan dari guru kami sekalipun.

Hai Lis, sudah lama?” Ia hanya tersenyum kala melihatku. Aku tentu membalas senyum yang begitu eksklusif dan langka itu. Senyum yang membuat patah tulang belakang. Selain rajin dan cantik, Lisa memang termasuk murid yang paling cerdas di kelas. Intinya, ia paket komplit.

Dulu aku sempat berniat menembaknya di bawah pohon mangga di samping kelas kami. Aku terlebih dahulu memberinya Silverqueen dengan harapan dia akan menerimaku. 

Sayang, waktu itu aku bertingkah terlalu cupu untuk seorang gadis yang pernah mengharumkan nama sekolah sebagai juara satu olimpiade sains tingkat nasional.

Ia menolakku dengan alasan ia adalah seorang indigo yang bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata yang tak bisa dilihat oleh manusia normal lainnya. Meski aku sendiri kurang yakin ia hanya sekadar bergurau atau sebagai alasannya saja. Ia tahu bahwa aku begitu penakut. Ia benar-benar cerdas dan banyak alasan.

Kamu sendiri kok tumben banget datang jam seginian? Takut terlambat lagi, ya?” Tanya Lisa dengan nada yang sedikit meledek.

Hmm… enggak. Kebetulan aja hari ini jadwal piketku, makaknya aku datang agak pagi,” kataku mencari alasan walaupun jadwal piketku sebenarnya lusa.

Terus, yang lain pada kemana?” Tanyaku balik kepada Lisa. Namun ia masih saja tersenyum tak menanggapi. “Lah, kok senyum?” Kataku heran.

Ya, yang lain sih sebenarnya juga sudah datang semua tapi ulangannya dibatalin.” Lisa mulai menjelaskan.

Lah, kok bisa?

Hm… gimana ya. Tadi bu guru tiba-tiba aja tuh ngebatalin lalu nyuruh anak-anak buat ikut. Katanya sih ada agenda mendadak.

Kemana? Kok mendadak begini sih informasinya? Kamu sendiri kok masih di sini? Kok enggak ikut?

Ya, tadinya mau barengan sama mereka cuman ada yang ketinggalan makanya aku nyusul belakangan.

Kalau begitu, kita berangkatnya barengan aja, berdua,” kataku menawarkan. Lisa pun mengangguk dengan senyum yang masih belum mau ia lepaskan, yang berarti ia mengiyakan. Bahagia rasanya. Kami pun berangkat meninggalkan sekolah.

***

Tak banyak hal yang kami obrolkan sepanjang perjalanan. Sepertinya ini karena pengalaman menembak Lisa dulu yang membuat kami sungkan untuk membuka percakapan. Jalan setapak yang kami lalui sepertinya tak asing.

Benar saja. Ternyata Lisa membawaku ke tempat yang sama sekali tak asing bagiku, tempat yang selalu kukunjungi setiap hari, rumahku. Aku semakin heran, kenapa ia tiba-tiba membawaku kesini? Ada apa sebenarnya?

Aku dan Lisa semakin mendekat. Kusaksikan orang-orang sudah berkumpul begitu ramai di beranda rumahku. Aku juga melihat ada beberapa guru dan teman-teman lainnya berada disana. Beberapa dari mereka terlihat begitu sibuk mengobrol satu sama lain. Yang lainnya terlihat sedang memanjatkan doa.

Ini aneh. Aku semakin heran dan penasaran. Kulangkahkan kakiku semakin mendekat. Kulihat kedua orangtuaku sedang menangis begitu kencangnya. Beberapa kerabatnya menenangkan sementara yang lainnya sibuk membaca surah yasin.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekat. Aku bertanya kepada beberapa orang yang ada di sana tetapi mereka hanya terdiam tak menganggapi. Aku lalu bergegas menuju orangtuaku. Aku bertanya perihal kenapa mereka manangis. Namun mereka tak menggubris sedikitpun.

Aku yang tak sanggup melihat ibu menangis akhirnya mencoba menenangkan dengan mengusap punggungnya. Namun yang terjadi, tanganku menembus tubuhnya. Kenapa aku jadi begini? Kenapa semuanya menjadi aneh seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Salah seorang dari keluarga ibu, kudengar, meminta untuk dibukakan kain yang membungkus wajah dari seseorang yang terbaring di depan orangtuaku. Ketika kain itu dibuka, itu adalah wajahku. Wajah yang begitu pucat dengan sekujur tubuh yang begitu kaku.

Aku tercengang. Mulutku bungkam. Ternyata mereka semua sedang menangisiku. Mereka sedang berkabung atas kematianku. Aku kembali menatap Lisa yang masih berdiri di ujung keramaian. Kali ini ia tersenyum sembari menyekapi air matanya.

Dengan langkah yang terseok-seok dan nafas yang tersengal-sengal, aku mendekati Lisa. Ia tak bisa lagi membendung air matanya. Dengan helaan nafas yang begitu panjang, ia menceritakanku.

Tadi pagi, saat kamu hendak bergegas menuju ke sekolah, kata ibumu, kamu begitu antusias. Bahkan kamu sampai tak ada sempat untuk mencicipi nasi goreng kesukaanmu yang baru saja ibumu selesai masak.

Katanya, kamu takut terlambat. Saking takutnya, kamu bahkan sampai menerobos lalu lintas. Sayangnya, motor skutermu tak terlalu kuat untuk menahan kerasnya hantaman truk yang datang dari arah kanan. Kamu pun terpental beberapa meter.

Dan seperti takdir yang selalu datang tepat waktu, kamu terhempas jatuh dengan kondisi kepala remuk setelah menghantam tiang beton. Sementara, motor skutermu juga remuk dan terhempas jauh dari tempatmu terjatuh.

Aku pun meraba bagian kanan kepalaku. Ada bagian yang pecah, remuk, membentuk cekung ke dalam kepala. Rasanya begitu hangat. Aku tidak berani melihat tanganku karena aku tahu bahwa itu pasti akan penuh darah.

Kenapa kamu enggak bilang dari tadi, Lis?” Tanyaku kesal dan menangis.

Karena aku mau membiarkan kamu pamit!” Jawab Lisa singkat.

Langit berubah mendung, seakan ikut berbelasungkawa atas kepergianku. Aku menatap Lisa yang sudah tak dapat lagi membendung air matanya. Namun senyumnya masih saja utuh. Sepertinya ia sudah rela melepas kepergianku.