Bibi, kali ini izinkan aku berbicara sebagai wanita dewasa, namun terlepas dari ini semua, aku tetaplah ponakan Bibi dan Paman yang masih tetap perlu dilindungi, dan dijaga.

Tertanda, Ponakan Pejabat Negara!

***

Berbicara mengenai figur wanita di Indonesia, tentu kurang "Crunchy" rasanya jika saya tidak memunculkan sosok Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Puan Maharani.

Sungguh berbohong jika saya tidak mengangumi sosok yang tangguh nan ambisius tersebut. Namun entah kenapa, akhir-akhir ini apakah itu damage baik atau pun damage buruk dirasa kerap menghampiri sosok wanita yang juga merupakan putri dari Presiden wanita pertama di Indonesia.

Kilas balik, persoalan "Omnibuslaw" dimana nama Puan Maharani disebut-sebut sebagai pembungkam perwakilan suara rakyat yang tidak menyetujui isi ketetapan RUU kala itu.

Demo besar-besaran berlangsung selama kurang lebih tiga hari. Luar biasanya, aksi Puan Maharani tidak hanya mengalihkan perhatian, namun juga turut menyita waktu dan menguras energi masyarakat Indonesia berikut "Ponakan-ponakannya".

Memasuki pertengahan Juni, damage baik seolah membanjiri beranda sosial media saya dan barangkali kita semua. Momen dimana Puan Maharani datang mengunjungi para petani-petani yang ada di kota Solo seraya membagi-bagikan sepeda motor ini mulai menjadikan saya berprasangka, 

"Wah, seperti akan ada apa-apanya ya?"

Seolah benar-benar ingin "Menebus kesalahan" pasca Omnibuslaw kemarin, memasuki fase dimana PPKM telah ditetapkan akan kembali diterapkan di Indonesia, lagi-lagi Puan Maharani memunculkan damage baik atas "Kesempatan kedua" yang saya dan barangkali kita semua berikan.

Tak terima aksi aparat keamanan yang semena-semana dalam menertibkan aturan tentang PPKM, Puan Maharani angkat bicara dengan berucap, 

"Kepada aparat keamanan diharapkan agar lebih mengedepankan empati selama penegakan aturan PPKM darurat. Utamakan pendekatan persuasif dan humanis agar seluruh masyarakat memahami akan ancaman covid-19."

Tentu tidak sia-sia saya, dan barangkali kita semua memberikan "Kesempatan kedua" pada sosok wanita yang sebenarnya sangat-sangat berpotensi ini bukan?

Bulan-bulan saya berlalu dengan dibanjiri oleh berita Puan Maharani, terus terang saja saya mulai risih sebenarnya. Sejumlah baliho dengan look anggun Puan Maharani juga mulai bertebar dimana-mana. Sampai pada akhirnya, angin bertiup terasa mulai menghantam ketika terdapat tulisan "Open BO" pada salah satu baliho tersebut.

Dalam sudut pandang saya, yang memiliki ekspektasi sedemikian rupa terhadap sosok Puan Maharani, semula saya berpikiran bahwa jangankan "Tersulut", "Terusik", saja beliau tidak akan. Eh tapi ternyata, terusik juga, Hihi. Buktinya, aparat keamanan segera menindak lanjuti siapa gerangan pelaku aksi vandalisme itu.

Okey-okey! Semakin menarik dan memanas saja. Seiring bertebarnya baliho-baliho Puan Maharani berbagai isu pun simpang siur sana-sini. Tanpa terkecuali munculnya berita yang menyebutkan bahwa, "Kekayaan Puan Maharani Meningkat 17 Miliar Di Tahun Pandemi." Luar biasa julidnya yang menyebarkan berita ini, tapi tidak masalah, saya tidak akan mempermasalahkan siapa pun yang ingin speak up. Itu hak prerogatif masing-masing orang namun dalam tulisan ini saya ingin menggaris bawahi, bahwa saya tidak akan menanggapi permasalahan kekayaan Puan Maharani yang meningkat drastis ini, karena itu bukan "Ranah" saya.  

Hahaha, untuk pembahasan selanjutnya telah saya buka dengan aksi tawa. Baliho ketika Puan Maharani yang berubah menjadi Suketi (Nama Suzana dalam sebuah film yang pernah dibintanginya) ini juga layaknya angin yang mulai menghantam Puan Maharani berikut PDIP nya. Bukan hanya saya, barangkali kita semua juga mulai merasa risih sehingga berbagai aksi pun dilakukan. Pesan saya,

"Jangan marah Puan, anggap saja masyarakat kita sedang butuh hiburan."

Sampai di sini pun, masih belum terjawab satu pertanyaan saya, Puan Maharani kenapa?

Selanjutnya, seolah tak peduli akan tombak yang menghujam dirinya, Puan Maharani kembali memunculkan damage baik berupa, "Membagi-bagikan makanan gratis di Kota Solo." Atuh kenapa pakai jargon, "Kepak sayap kemanusiaan" segala? Jadi dihujat kan aksinya.

Sampai pada akhirnya, saya menemukan sesuatu yang eufor di beranda sosial media saya. Puan Maharani sedang dipersiapkan untuk pemilihan Presiden tahun 2024! Sempat diisukan akan menggandeng Anis Baswedan, tapi tentu tidak seru jika kita mengetahuinya sekarang bukan?

Namun jika benar, lantas Puan Maharani kenapa? Kenapa bersikap "Sekrasak-krusuk" ini? Kenapa bersikap "Segegabah" ini? Kenapa bersikap "Segelisah" ini?

Faktanya, bahwa meski pun dibanjiri dukungan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden tahun 2024, ada banyak sekali pihak yang kontra dengan ide tersebut. Terlebih ketika hasil elektabilitas yang dilakukan berdasarkan survei polmatrix, ternyata skor untuk Puan Maharani sangat amat rendah, di angka 1,3 %. Sedangkan yang disebut-sebut akan menjadi rivalnya, Ganjar Purnomo mendapat skor tertinggi di angka 20,1 %. Lantas bernarkah ini yang menjadi "Alasan" kenapa Puan Maharani sekrasak-krusuk, segegabah, dan segelisah sekarang?