Tafsir Al-Azhar adalah salah satu tafsir buah tangan putra terbaik bumi pertiwi. Mufasirnya, Prof. Dr. Hamka, telah membuktikan betapa seorang Muslim non-Arab pun mampu menghasilkan sebuah karya tafsir yang cukup membanggakan. Hamka banyak sekali menulis buku tentang Islam.

Pada tahun 1959, beliau adalah imam masjid Al-Azhar Kebayoran dan pernah memimpin majalah Panji Masyarakat. Sementara itu pada tanggal 21 Mei 1981 Hamka meletakkan jabatannya selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hamka adalah nama singkatan Haji ‘Abdul Malik Karim Amrullah. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Ia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan membawa pembaharuan dalam soal agama di Minangkabau. Hamka adalah seorang ulama terkenal, penulis produktif, dan muballigh besar yang berpengaruh di Asia Tenggara.

Perjalanan intelektual Hamka ketika di Jawa di mulai dari daerah Yogjakarta, kota tempat Organisasi Muhamadiyah lahir. Lewat pamannya, Ja’far Amrullah, Hamka mulai belajar keorganisasian dan mengikuti kursus-kursus yang diadakan oleh Muhamadiyah dan Syarikat Islam.

Di sana beliau belajar mengenal dunia pergerakan Islam modern melalui H. Oemar Said Tjokroaminoto, dari beliau Hamka sempat mendengar ceramah-ceramah tentang Islam dan Sosialisme. Juga dari Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhamadiyyah 1944-1952) ia menerima pengetahuan tentang tafsir Alquran.

Nuansa keagamaan yang dilihat oleh Hamka antara di Minangkabau dengan di Jawa nampaknya sangat jauh berbeda. Islam di Minangkabau lebih banyak beroriantasi pada soal akidah, karena berhadapan (berbenturan) dengan tradisi adat daerah Minang yang berbau jahiliyah. Dengan begitu, orientasi yang ditampilkan oleh pembaharu Islam di sana adalah membersihkan akidah dan ibadah Islam dari hal-hal yang berbau syirik dan bidah. 

Berbeda dengan pembaharuan di Jawa melalui gerakan-gerakan yang coba ditampilkan oleh Muhammadiyah dan Syarikat Islam. Terlihat aktivitas pembaharuannya tidak lagi mempertentangkan permasalahan khilafiyat, tetapi lebih berorientasi pada usaha memerangi keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan serta mencegah bahaya Kristenisasi. 

Tak hanya di Indonesia, bahkan di mancanegara Hamka dikenal sebagai seorang mufassir. Salah satu karyanya adalah tafsir al-Azhar yang menjadi karya monumental dari seluruh karyanya. Tafsir al-Azhar pada mulanya merupakan materi yang disampaikan dalam acara kuliah subuh yang diberikan oleh Hamka di masjid Agung al-Azhar Kebayoran sejak tahun 1959.

Dalam waktu yang sama, Juli 1959, Hamka bersama KH. Fakih Usman dan HM. Yusuf Ahmad (Mentri Agama dalam kabinet Wilopo 1952) menerbitkan majalah “Panji  Masyarakat” yang menitikberatkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan Agama Islam. Tidak lama setelah itu, suasana perpolitikan bangsa Indonesia tidak menentu.

PKI dalam usaha mendiskreditkan pihak-pihak yang tidak sejalan dengan kebijaksanaan mereka bertambah meningkat. Sampai-sampai masjid al-Azhar ketika itu menjadi sasaran. Masjid tersebut dituduh menjadi sarang “Neo Masyumi” dan “Hamkaisme”. 

Atas tuduhan itulah, pada tanggal 27 Januari 1964, ia ditangkap oleh penguasa orde lama, setelah memberikan pengajian di masjid al-Azhar lalu dijebloskan ke alam penjara. Sebagai tahanan politik, di rumah tahanan inilah Hamka tidak membuang waktu dengan percuma, ia mempergunakan waktu dan kesempatan untuk menulis Tafsir al-Azhar. 

Karena kondisi kesehatan Hamka dalam tahanan kian lama kian menurun, ia harus dipindahkan ke Rumah Sakit Persahabatan Rawamangun, Jakarta. Dalam suasana perawatan, Hamka melanjutkan kembali penulisan tafsir al-Azhar.

Tak lama setelah itu, orde lama pun tumbang digantikan dengan orde baru, dan pada akhirnya pada tanggal 21 Januari 1966 Hamka dibebaskan setelah mendekam dalam penjara selama kurang lebih dua tahun. Dalam suasana bebas, kesempatan ini dipergunakan oleh Hamka untuk memperbaiki serta menyempurnakan Tafsir al-Azhar yang sudah pernah ia tulis di rumah tahanan sebelumnya.

Tujuan Hamka menulis tafsir ini adalah untuk membangkitkan kembali semangat dan ajaran Islam. Selain itu, tujuan dari penulisan tafsir ini juga untuk mempermudah pemahaman para mubaligh dan para khatib dalam menyampaikan ajaran agama yang tertuang dalam Alquran.

Dalam penulisan tafsirnya, Hamka banyak terpengaruh oleh pemikiran Muhammad Abduh yang merupakan salah satu tokoh pembaharu pada masa itu. Hamka banyak merujuk pendapat-pendapat pemikiran tafsir Muhammad Abduh serta menyatakan dengan jelas bahwa pendapat serta pandangannya tersebut bersumber dari Tafsirnya Muhammad Abduh.

Corak pemikiran tafsir Buya Hamka bisa digolongkan ke dalam corak yang sama seperti tafsir Al-Manar yaitu corak tafsir sastra budaya kemasyarakatan. Corak inilah yang menjadikan tafsir karya Hamka lebih diunggulkan, baik dari aspek kebahasaannya, fiqih, teologi, tasawuf dan ilmu pengetahuan yang disajikan dengan kemasan berbentuk tafsir.

Tafsir al-Azhar yang pertama diterbitkan oleh Penerbit Pembimbing Masa, pimpinan Haji Mahmud, dari juz pertama sampai juz keempat. Kemudian diterbitkan Juz 30 dan juz 15 sampai juz 29 oleh Pustaka Islam Surabaya. Juz 5 sampai juz 14 diterbitkan oleh Yayasan Nurul Islam Jakarta.

Sebagai kesimpulan, tafsir al-Azhar buah tangan Hamka merupakan tafsir yang cukup baik, lengkap dan luas. Hadirnya tafsir ini menjadikan sebuah pembuktian bagi dunia Internasional bahwa ulama asal Indonesia pun mampu berbuat hal yang sama dengan ulama-ulama lain di seluruh dunia terutama di Timur Tengah.