Freelancer
1 bulan lalu · 4098 view · 4 min baca menit baca · Politik 46932_40896.jpg
New Straits Times

Ulama Batok Kelapa di Kubu 02

Seorang perempuan berpakaian serba hitam melangkah maju sendirian. Entah berapa usia perempuan bercadar itu. Namun nyalinya luar biasa. Ia terus melangkah maju, coba menembus Gedung Bawaslu.

Melalui pengeras suara, polisi memperingatkan perempuan itu agar berhenti. Polisi meminta perempuan itu duduk dan melepas tas ransel yang dibawanya. Beberapa polisi lain siaga. Polisi dilarang mendekati perempuan itu.

Suasana tegang dan mencekam. Polisi menduga, perempuan itu hendak meledakkan diri. Sebab di tubuhnya tampak ada rangkaian kabel. Perempuan itu pun dipaksa mundur. Polisi pun melakukan tindakan tegas terukur.

Bahkan polisi mengancam akan menembak perempuan itu apabila terus melangkah maju. Entah apa yang ada di benak perempuan itu. Sebab sejurus kemudian ia menjauh. Dengan hati-hati polisi pun mengikuti.

Dalam keterangan resmi, polisi menyebut perempuan itu diduga mengalami depresi. Polisi juga memastikan perempuan itu bukan bomber. Soal foto viral benda diduga mirip bom, polisi menyebut benda itu adalah selongsong peluru gas air mata yang tersangkut di pakaiannya.

Itulah salah satu dari banyak cerita aksi 21 dan 22 Mei di depan Gedung Bawaslu. Aksi yang sedari awal dinarasikan sebagai aksi bela Islam memang kemudian berubah menjadi mengerikan. Ricuh dan bentrokan tak dapat terhindarkan. Bahkan, kerusuhan itu merenggut korban jiwa.

Mungkin hampir seluruh pasang mata di Indonesia menyaksikan kekacauan malam itu. Secara hukum, aksi unjuk rasa memang diperbolehkan. Namun secara hukum pula, aksi unjuk rasa diberi batasan.

Polisi masih memberi toleransi hingga massa aksi selesai salat tarawih yang digelar di jalanan. Usai salat tarawih, keadaan tidak sesuai harapan. Massa aksi enggan membubarkan diri. Berkali-kali negosiasi tak membuahkan hasil berarti. Hingga hari pun berganti. Jarum jam berjalan ke arah dini hari.

Polisi kembali mengingatkan agar massa aksi menghentikan kegiatan. Patut disesalkan, peringatan polisi tidak dihiraukan. Massa aksi tetap bertahan. Polisi pun menunjukkan ketegasan.

Dan, bentrokan pun pecah. Polisi menembakkan gas air mata. Dibalas lemparan kembang api menyala, batu, dan apa saja. Keadaan pun berubah menajdi menakutkan. Dini hari itu, tayangan pendamping sahur sungguh menyedihkan.


Aksi itu adalah aksi demonstrasi yang berujung ricuh. Aksi itu bukan aksi mengaji. Namun, ayat demi ayat Alquran terucapkan. Berkali-kali hadis Nabi dilontarkan sebagai penguat orasi dan mempermanis arogansi. Baik di lapangan aksi ataupun di media sosial, dalil-dalil Islam dimanipulasi.

Alquran dijadikan dasar untuk melegitimasi kekerasan, pemberontakan, dan pembangkangan. Hadis Nabi dijadikan senjata untuk memperkeruh suasana. Alquran dan Hadis menjadi barang murah untuk dijadikan tameng segelintir orang.

Berjubah, berserban, berpeci, namun ucapan penuh caci-maki. Tindakan sungguh tidak terpuji. Menyerang petugas dengan batu, bom molotov, dan kembang api. Sialnya, mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan adalah militansi membela agama Islam.

Narasi kebencian berhamburan. Amien Rais menyebut, polisi berbau PKI menembaki umat Islam dengan ugal-ugalan. Jelas ini pernyataan yang menyesatkan. Ini provokasi dan agitasi yang nyata. Ini adalah usaha membenturkan sesama anak bangsa.

Orang tua salah satu peserta aksi yang menginggal bahkan meyakini anaknya mati dalam keadaan syahid. Sang ayah yakin betul anaknya meninggal pada jalan jihad. Tanpa mengurangi rasa hormat atas duka keluarga, anggapan itu mengada-ada.

Bila peserta aksi meyakini aksinya jihad dan bila mati berarti syahid, maka yang mereka hadapi berarti musuh Allah, musuh agama Islam. Pertanyaannya, siapa yang mereka lawan? Apakah KPU itu musuh Islam? Apakah polisi itu musuh agama?

Sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat, yang tewas pada kerusuhan itu mati dengan sia-sia, tak memiliki dampak apa-apa. Tidak ada tinta emas untuk mencatat pengorbanannya. Esok lusa, bahkan kawannya pun akan melupakannya. Maka, kita doakan semoga husnul khotimah dan tenang di alam sana.

Inilah kekejaman nyata kubu 02. Nyawa manusia hanya dianggap umpan ikan belaka. Berharap dicaplok untuk mendapatkan targetnya. Bila gagal, umpan tinggal diganti karena masih banyak yang mengantre.

Di tangan mereka, agama menjadi brutal. Fanatisme agama benar-benar memberangus akal. Massa aksi begitu meyakini aksi itu adalah jihad qital. Perang yang harus dilakukan dengan total. Elite 02 berhasil mengobarkan militansi dengan iming-iming 72 bidadari. Menawarkan pahala surga yang nikmatnya tiada tara.

Mengumandangkan takbir, membaca selawat, membaca Alquran serta hadis, dan di saat yang sama melempar batu, bom molotov, bahkan petasan. Itulah gerombolan pecundang yang sedang menghamba pembelaan dari Islam.

Ya, mereka sedang menghamba pembelaan kepada Islam. Dengan terus mengusung identitas Islam, mereka berharap terbangun kebodohan kolektif untuk sama-sama turun ke jalan. Terbangun ketololan massal bahwa aksi itu adalah jihad membela Islam. Dan mereka pun akan mendapat bala bantuan.

Mereka merengek meminta dibela oleh Islam karena hanya dengan itulah mereka merasa nyaman. Dapat mengelak dengan berbagai macam tuduhan. Kekerasan, kebencian, dan hasutan semuanya ditamengi Islam. 

Tidak. Mereka tidak sedang membela Islam. Merekalah para pemerkosa Islam. Para pencabul yang menghambur-hamburkan sperma kebencian di atas sajadah Islam. Di otak mereka, Islam adalah perang. Maka tak peduli buan Ramadan, aksi memalukan tetap dilaksanakan.

Mereka enggan surut karena bagi mereka, tak haram berperang di bulan Ramadan. Perang Badar, Perang Tabuk, Perang Zallaqah, Perang Ain Jalut semua saat Ramadan dan semua dimenangkan. Konyol, sejarah ini yang kemudian dijadikan dalil oleh mereka.


Sungguh mereka sudah tidak mampu berpikir logis. Bagaimana mungkin mereka bisa menyejajarkan sejarah perjuangan Islam dengan aksi sakit hati karena kekalahan?

Mereka meneruskan tradisi pandir pasca wafatnya Nabi Muhammad saw, yaitu menjadikan Islam sebagai hasrat pelampiasan. Benci kepada seseorang, berbeda pandangan, atau horny kekuasaan, maka Islam-lah yang disalahgunakan.

Mereka akan merekontruksi narasi bahwa Islam sedang terancam. Islam berpotensi dibumihanguskan. Islam sedang hina, dinistakan. Tujuannya, agar umat Islam berbondong-bondong berada dalam satu barisan. Kemudian digerakkan sesuai keinginan.

Mereka berbuka puasa, salat, dan melakukan aktivitas lainnya di jalanan. Saat ricuh, mereka lari ke masjid. Menggunakan masjid untuk berlindung dari kesalahan yang mereka buat sendiri. Dan dapat ditebak, muncul narasi bahwa polisi menyerang mereka di tempat yang suci.

Lalu ke mana ulama-ulama yang selama ini menyebar hasutan agar massa turun ke jalan? Tak satu pun dari mereka menyuarakan perdamaian. Mereka tak bersuara. Moncongnya disembunyikan di dalam batok kelapa. Tertawa setelah sukses mengadu domba anak bangsa.

Artikel Terkait