History does not repeat itself, but it rhymes”. Mengembara dalam sejarah Ukraina, penggalan kalimat Mark Twain timbul keatas dari bawah ingatan. Katanya, sejarah itu tidak mengulang persis peristiwa yang dulu, tapi seperti dalam sajak, bunyi yang sama bisa lagi dikenali telinga.

Ukraina bukan kecil, lebarnya melebihi Jawa, 1200 km. Luasnya hampir se-Kalimantan. Separuh yang di barat, berbahasa Ukraina, lebih Eropa, separuh yang lain yang di timur ras Rusia, berbahasa Rusia. Itulah nasib negara yang garis-garisnya ditentukan pihak ketiga. Tidak pernah jadi satu, dalam garis batas negara, kesatuannya cuma semu.

Lihat peta di atas bagaimana Ukraina yang membesar dan sekarang mungkin bisa mengkeret. Juga lihat peta yang di atas sekali. Ukraina adalah tempat di mana Eropa yang Barat dan Rusia yang Timur bertemu. Maka Ukraina adalah “jalan lewat” alami bagi upaya Barat menaklukkan Timur. Setiap kali dua kekuatan beradu, alam pun menimpakan takdir deritanya pada Ukraina. Maka dari situ lahirlah seni survival khas Ukraina yang tidak dipunyai bangsa lain: Seni bolak-balik berpindah-pindah pihak.

Seni Bolak-Balik

Pada pertengahan abad 17, Bogdan Khmelnitskiy, pemimpin Ukraina 1648-1657, melanggar kesepakatan dengan Polandia, pindah berpihak pada Rusia. 50 tahun kemudian pemimpin yang lain Ivan Mazepa (1687-1708), melanggar kesepakatan dengan Rusia, pindah pihak ke Swedia ketika menyerbu Rusia.

Yang paling kolosal, Ukraina berpihak pada Nazi Jerman yang menyerbu Rusia pada 22 Juni 1941. Operasi militer Jerman itu dinamakan Operasi Barbarossa, adalah operasi militer terbesar dalam sejarah dunia. 

Serangan garpu mata ketiga paling selatan mengambil jalan lewat Ukraina. Ukraina Barat menyambut tentara Nazi Jerman sebagai tentara pembebasan. Berbagai batalyon sukarelawan seperti SS Galizien dibentuk. 80.000 orang berbondong mendaftar. 

Cikal bakalnya adalah kaum ultra nasionalis ektrim OUN (Organization of Ukranian Nasionalist) tahun 1929 yang bertujuan memurnikan ras bangsa Ukraina.

Saat Jerman masuk, pemimpin OUN, Stepan Bandera, mengumumkan kemerdekaan Ukraina. Jerman yang kurang senang menjebloskan Bandera dalam bui. Tapi dari penjara Bandera malahan berhasil menyebarkan ideologinya. Dia menyatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Polandia tidak punya tempat di Ukarina. 

Hasilnya, dalam perkiraan, OUN telah membunuh sekitar 50.000 sampai 200.000 orang Yahudi pada akhir perang dunia kedua. Yang paling mengerikan terjadi pada tanggal 29 dan 30 September 1941, di Babi Yar, Kiev. “ Pada tanggal 29 pagi semua “kikes” (panggilan hina untuk orang Yahudi) wajib hadir di sudut jalan Mel’nikova dan Dorohozhytska dekat pekuburan Viis.kove.”. Pagi itu, dan besoknya, 33.771 orang Yahudi mati dibantai.

Jerman kalah perang, Ukraina kembali jadi bagian Uni Soviet. Bandera lari ke Eropa, tidak diperlukan lagi, akhirnya mati terbunuh entah oleh KGB atau CIA di Munich tahun 1959.

Ukraina Merdeka

Setelah Uni Soviet bubar tahun 1991, Ukraina merdeka. Tapi bagian barat dan timur, yang berbahasa Ukraina dan berbahasa Rusia tidak pernah lebur jadi satu. Kesatuan semu itu bernasib malang kembali jadi bulan-bulanan rebutan pengaruh bolak-balik dalam perang selanjutnya, Perang Dingin Rusia Amerika.

Tahun 2004. Kandidat pro-Rusia Viktor Yanukovich terpilih sebagai presiden ke-4 Ukraina mengalahkan lawannya, Viktor Yuschenko. Tuduhan kecurangan dilayangkan, Revolusi Oranye jilid satu yang didukung Barat digelar.

Yanukovitch jatuh, mantan perdana menteri pro-Barat Viktor Yuschenko tahun 2005 naik jadi presiden. Yuschenko berjanji bahwa Ukraina akan bebas dari Kremlin. Tahun 2008, NATO pun memberikan lampu hijau, Ukraina akan bergabung pada suatu hari nanti. Tahun 2010 Yushenko kalah dalam pemilu. Memanfaatkan beberapa hari sisa kepresidenannya, dia mengangkat Stepan Bandera sebagai Pahlawan Nasional.

Yanukovich pro Rusia presiden lagi. Hubungan dengan Moskow kembali dibangun. Hubungan dengan Uni Eropa pada tahun 2013 ditangguhkan. Pengangkatan Bandera dicabut. Demonstrasi besar-besaran, revolusi warna Oranye jilid 2 yang disertai pertumpahan darah kembali terjadi. Bau CIA keras tercium. Kelompok Ultra Nasionalis batalyon Azov yang kejam mirip ISIS dipakai. Batalyon-batalyon dengan simbol-simbol Nazi kelihatan dimana-mana.

2014 Yanukovich jatuh. Poroshenko naik. Masyarakat pro Rusia di sebelah Timur, Donbask dan Luhanks yang tidak puas mendeklarasikan kedaulatannya. Rusia pun marah. Menganggap telah terjadi kudeta, Crimea yang strategis di caplok jadi bagian Rusia. Rusia kena sanksi, ketegangan bertahun dengan barat mulai memanas.

Ukraina jadi goyang lagi ke Barat. Poroshenko membawa Ukraina pada perang fase pertama Rusia-Ukraina. Memakai batalyon ultra nasionalis Azov, separatis Donbass didesak jauh mundur ke timur. Ribuan korban sipil jatuh. Di Odessa batalyon Azov tercatat oleh kantor PBB untuk kejahatan perang, membakar hidup-hidup puluhan orang-orang pro Rusia dalam sebuah apartemen tingkat lima.

Proses integrasi dengan Uni Eropa dimulai dengan penandatangan Eropean Union-Ukraine Association Agreement. Pada 2017, juga tercipta perjanjian kerja sama Ukraina dan Uni Eropa. Perjanjian ini membuka pasar perdagangan bebas barang dan jasa hingga perjalanan bebas visa ke wilayah Uni Eropa bagi Ukraina.

Demokrasi Sinetron

Tahun 2019 Zelensky menang pemilu presiden. Kejadian yang mulai biasa di bagian dunia lain, Demokrasi Internet bisa mengangkat siapa saja jadi presiden. Zelensky adalah bintang sinetron serial TV populer di Ukraine: The Servant of the People. Disana Zelensky berperan sebagai guru SMP yang akhirnya jadi Presiden. Digambarkan kemudian bagaimana demokrasi bisa menciptakan kemakmuran dan keadilan. Masyarakat terpukau, Zelensky jadi presiden betulan.

Demokrasi internet seringkali adalah demokrasi wayang, dibelakangnya ada dalang. Dalam hal ini ditengarai pemilik Channel TV yang menyiarkan sinetron the Servant, Ihor Kolomoyskyi, adalah dalang kuatnya. Dia adalah seorang kaya raya pemilik Privat Bank, bank terbesar di Ukraina. Dia adalah raja media TV dan koran, pemilik perusahaan penerbangan, dll. 

Pada saat yang sama, pada pemerintahan sebelumnya dia diselidiki sebagai pengemplang triliunan dana bail-out. Amnesti Internasional mencatatnya sebagai penyandang dana terbesar bagi Dnipro-1 Special Tasks Patrol Police Battalion

Batalion yang paling bertanggung jawab bagi menghalangi masuknya bantuan makanan bagi masyarakat berbahasa Rusia di Donetsk dan Luhansk agar terjadi kelaparan mematikan. Di Crimea, tahun 2016, bank privat milik Kolomoyskyi disita Rusia. Asetnya dibagikan pada nasabah yang dirugikan oleh bank tersebut.

Rebutan Definisi Nazi

Rusia masuk Ukraina pada Februari 2022. Targetnya adalah demiliterisasi, dan denazifikasi Ukraina. Timbul berbagai pertanyaan dan propaganda. Apakah Rusia menuduh ada Nazi pada pemerintahan yang dipimpin oleh presiden keturunan Yahudi? Bukankah Yahudi kehilangan 6 juta nyawa pada peristiwa Nazi Holocaust?

Nazi dan Holocaust adalah gandengan narasi populer yang dimengerti oleh banyak orang. Tidak persis demikian oleh bangsa Rusia. Melawan Nazi Jerman dalam perang Dunia II, Rusia kehilangan nyawa warganya sebanyak 27 juta. Jauh diatas klaim kaum Yahudi dalam Holocaust yang 6 juta, kalau itu benar. 

Jadi soal Nazi adalah soal yang sangat sensitif berada lengket di setiap jantung ingatan orang Rusia. Tentu juga dalam jantung presiden Putin. Nazi dalam perspektif Rusia punya arti khusus, rasisme pembenci ras Rusia pembantai puluhan juta warganya. Dan Rusia bertekad tidak akan kecolongan untuk kedua kalinya.

Dalam 10 tahun terakhir, lambang-lambang Nazi kelihatan kembali di Kiev. Batalyon-batalyonnya diakui sebagai bagian tentara negara. Oligarki penyandang dana seperti Kolomoyskyi yang cuma peduli pada untung dan uang, Stepan Bandera penjahat perang yang dielu-elukan disertai slogan kebencian ras Rusia. 

Barat yang tidak sembunyi menyatakan keinginannya menjadikan Ukraina jadi anggota NATO. Tidak sembunyi menyumbang persenjataan dan melatih tentara dan milisi dengan standar mutakhir.

Semuanya menjadi sangat mengganggu. Semuanya terjadi di halaman depan rumahnya. Tidak ada tafsir lain, bahwa semua itu adalah bagian dari upaya baru yang belum selesai untuk menaklukkan Rusia. 

Rusia yang sangat cemas, sejak 2004 telah menegaskan berkali-kali , bahwa Georgia dan Ukraina adalah garis-merah yang tidak boleh dilampaui. Tapi kelihatannya tidak didengarkan oleh mereka-mereka yang selama ini, berpuluh tahun, sudah biasa merasa lebih kuat dan bisa berbuat apa saja.

Tidak mau ambil risiko menunggu kecambah menjadi pohon, itulah, pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia ambil keputusan masuk Ukraina membereskan keadaan dengan tangannya sendiri.. Tiga target dicanangkan: demiliterisasi, denazifikasi, netralisasi.

Dunia pun kelihatan telah mulai berubah.