Peneliti
1 bulan lalu · 117 view · 4 menit baca · Lingkungan 73921_96809.jpg
Kompas

Ujian Tulis vs Ujian Lisan

Menjelang ujian semester, seperti saat ini sebelum masuk bulan puasa, saya sudah pasti kasak kusuk. Pasalnya, saya selalu melihat jadwal ujian. Dan jadwalnya pasti TULIS (baca besar-besar ujian tulis), baik itu untuk ujian mata kuliahku atau menjadi pengawas mata kuliah lain.

Kemudian yang membuat lebih kasak-kusuk lagi adalah melihat jumlah mahasiswa yang banyak yang akan mengikuti ujian. Ya, ujian tulis. Mereka pasti akan memenuhi kampus walau selama ini mereka jarang masuk.

Sebagai seorang pendidik, saya paling tidak suka mengadakan ujian tulis. Setelah belajar bertahun-tahun menjadi dosen yang baik dan benar sejak 2012, saya sudah memberikan ujian tulis. Namun, mulai 2018, saya memutuskan untuk ujian dalam bentuk lisan.

Alasannya? Banyak. Pertama, ujian lisan lebih efektif untuk melihat sejauh mana peserta didik mengetahui, mempelajari, atau bahkan mendalami mata kuliah yang bersangkutan melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Namun, tidak banyak pertanyaan, cuma satu tapi akhirnya nanti berkembang.

Kedua, ujian lisan tidak membuat mereka, mahasiswa, menyontek. Mau nyontek bagaimana? Kalau mereka akan berhadap-hadapan dengan dosennya sendiri seperti wawancara, mana sempat buka catatan kanan kiri apalagi buka mobile phone.

Ketiga, karena semacam wawancara, suasana yang dibangun pun harusnya lebih santai dan lebih menyenangkan. Kesempatan ini lebih kepada mereka untuk saling tahu atau berakrab-akrab dengan dosen. Dan dosen pun lebih tahu keinginan dan maunya mahasiswa seperti apa. Di sini akan tercipta komunikasi dua arah.


Keempat, dosen yang sudah tahu tipe mahasiswa sejak awal bisa lebih cepat memberikan penilaian, karena penilaian sebelumnya sudah ada, tentang bagaimana sehari-harinya di kelas melalui kontrak belajar; tidak capek memeriksa kertas-kertas lagi. Intinya, ujian lisan cepat selesai sedangkan ujian tulis menghabiskan banyak energi dan waktu untuk memproses jawaban mahasiswa.

Kelima, yang paling penting adalah tidak memakai kertas lagi. Artinya, ujian lisan tidak menghabiskan banyak kertas pertanyaan dan jawaban. Semuanya bisa tumplek jadi satu di meja kerja. Belum lagi kalau melihat tulisan yang cakar ayam, dan jawaban dari menyontek hape atau teman karena tidak diawasi pengawas alias dosen pengawas.

Sejak saya kecil, dari SD sampai kuliah, ujian yang selalu diadakan adalah ujian tulis. Mungkin, di sisi lain, masih penting karena sang pendidik ini ingin melihat hasil jawaban atau tulisan mahasiswanya via tulisan atau tertulis. Namun, di sisi yang satunya, kita mungkin ikut merusak lingkungan. Merusak lingkungan? Iya, karena setelah itu akan dimanfaatkan ke mana kertas-kertas tadi? Dipakai ke mana, ya?

Saya ingat ayah dan ibu yang seorang pendidik setiap selesai mengadakan ujian final, rumah penuh sesak dengan kertas. Mana ini bukan satu kelas, tapi berkelas-kelas. Apalagi orang tuaku adalah tipe orang tua konvensional yang suka menyimpan barang-barangnya dalam ruangan.

Mereka tidak akan membuang kertas-kertasnya, sampai masuk di semester selanjutnya. Lalu, ketika masuk di ajaran baru atau semester baru, kertas-kertas itu bisa dipakai untuk jadi tempat mencatat semacam notebook.

Saya dan beberapa saudara memisahkan antara kertas yang kosong dan yang ada tulisannya. Kertas yang kosong tadi jadi notebook. Sedangkan kertas yang ada tulisannya biasanya dibawah oleh kakak perempuanku ke kantor.

Kakakku tadi kebenaran kerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di lingkungan, jadi kertas-kertas tadi didaur-ulang di kantornya. Kemudian, kertas daur ulangnya di bawah pulang ke rumah dan dibuat sebagai kertas gambar yang unik berwarna coklat dan bertekstur kasar selain menjadi buku catatan juga, notebook.


Kemudian kertas-kertas ujian tadi ada juga yang menjadi bahan dan materi permainan adik-adikku. Kertas-kertas tadi menjadi pesawat kertas, perahu kertas, dan uang-uang kertas. Terkadang juga ada yang dipakai sebagai pemantik api, kompor kayu bakar di dapur. Atau kertas-kertas tadi diberikan ke penjual yang jualan di warung sebagai pembungkus.

Sejauh Mana Penggunaan Kertas?

Biasanya saya selalu berusaha untuk menjilid hasil mata kuliah mahasiswa saya, berupa kertas-kertas respons paper. Lalu dijilid dalam satu bagian. Pikirku, nanti dipakai lagi sebagai bahan ajar atau belajar adik-adiknya. Apalagi juga makalah-makalah seniornya di kampus, saya satukan untuk dilihat oleh junior-juniornya sebagai bahan membuat makalah yang baik dan benar.

Akhirnya, ini menjadi buku juga, kan? Menurut saya, ini lebih berharga dan mungkin akan lebih baik dengan tidak membiarkan kertas langsung berlalu alias masa hidupnya cepat apalagi berserakan.

Saya juga bukannya anti dengan hard copy atau hasil print out. Pun, saya tidak selalu membebani mereka dengan soft copy, kirim lewat email. Paling banter, foto tugas lalu kirim lewat WhatsApp (WA). Saya berusaha menyeimbangkan pengumpulan tugas melalui hard copy dan soft copy, antara tradisional dan modern, antara via kertas dan internet.

Karena, saya juga selalu suka melihat tulisan tangan mahasiswa yang menarik, rapi, dan bersih. Apalagi melihat sekaligus memeriksa tugas mind mapping mereka. Perasaan saya langsung berbunga-bunga karena lihat gambar yang penuh bunga-bunga atau cinta. Rasanya, saya ingin membuat pameran galeri seni mind mapping lewat kertas HVS.

Maka, penggunaaan kertas bisalah diminimalisasi dan dimaksimalkan. Hitam di atas putih itu penting. Tapi, kalau untuk ujian, khususnya ujian akhir, final semester, bisalah bukan tertulis tapi dengan lisan. Sehingga, kita pun bisa menghemat kertas.


Walau ada cara lain juga menghemat kertas selain dengan ujian lisan. Mungkin, dengan mengirim tugas via e_mail. Jadi, sejauh mana penggunaan kertasmu? Kertasnya?

Kalau aku, dengan ujian lisan. Kamu?

Artikel Terkait