Setiap pekerja di bidang profesi mana saja selalu punya masa super sibuk. Bagi seorang guru, masa yang paling memeras segenap waktu, pikiran dan tenaganya adalah masa ujian sekolah. Salah satu tugas beratnya adalah memeriksa dan menilai lembar jawaban para siswa.

Saya sendiri harus memeriksa dan menilai tak kurang dari 240 lembar jawaban siswa yang terbagi dalam delapan kelas. Karena soal-soal ujian yang saya buat harus berbentuk essay, saya harus membaca satu-persatu jawaban dengan seksama. Itu kalau guru mau bersikap adil kepada murid-muridnya. Jalan pintas memang kerap menggoda.

Tapi tugas yang terberat adalah membuat soal ujian. Memang itu tidak gampang, karena dalam membuat soal guru akan berhadapan dengan masalah objektivitas: bagaimana mungkin soal ujian yang berjumlah, katakanlah, 10 sampai 20 dapat mengevaluasi keseluruhan kemampuan dan perkembangan peserta didik selama satu periode pembelajaran tertentu?

Objektivitas soal dan bentuk ujian juga pernah dipersoalkan salah seorang dosen saya ketika kuliah S2. Kala itu beliau merasa bingung bentuk soal ujian bagaimana yang akan ia sodorkan kepada mahasiswa. Awalnya beliau ingin memberi kami soal-soal berbentuk essay, tapi beliau berpikir penilaiannya akan sangat subjektif.

Lalu beliau ingin soal-soalnya berbentuk mengisi titik-titik, tapi itu terlalu mudah. Akhirnya, soal final test beliau buat dalam bentuk pilihan ganda. Itulah, menurut pandangan dosen kami tadi, bentuk soal ujian yang paling mendekati kebenaran. Jadi, soal ujian punya masalah epistemologis.

Namun jika sudut pandang diperluas lagi, muncul problem yang lebih mendasar: apakah ujian sekolah dapat mengukur kualitas peserta didik sebenar-benarnya? Apakah ujian sekolah mampu mengungkap realitas kemampuan dan perkembangan peserta didik apa adanya? Apakah ujian sekolah beserta penilaiannya valid secara epistemologis?

Pertanyaan ini penting karena guru dan pengelola pendidikan acapkali mengkategorisasi, mengklasifikasi dan mendiskriminasi peserta-peserta didik berdasarkan hasil ujian sekolah – atau sebagian besarnya dari sana. 

Seorang siswa – dan mahasiswa – akan ditempatkan di kelas mana pada tingkat berikutnya atau apakah dapat dinyatakan lulus dari suatu tingkat pendidikan, hasil ujian sekolahlah referensi utamanya.

Ujian sekolah merupakan salah satu unsur pokok dalam proses pendidikan. Tujuannya adalah mengevaluasi sejauh mana tujuan umum dan khusus pembelajaran tercapai. Atau jika merujuk kepada pengertian belajar, sejauh mana perkembangan kognitif dan perubahan tingkah laku (afektif dan psikomotorik) peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran.

Namun, sebagaimana yang telah dipertanyakan para filsuf sejak dahulu, cara-cara kita mengetahui dan memahami segala sesuatu menyisakan banyak masalah (lihat Kartanegara dalam Menyibak Tirai Kejahilan, 2003). Masalah objektivitas soal ujian, seperti saya singgung di atas, adalah salah satunya. Ini belum lagi ditambah dengan faktor manusia dari diri para siswa yang mengikuti ujian.

Boleh jadi seorang siswa menguasai satu atau dua materi dari semua materi pelajaran yang diajarkan dalam satu periode pembelajaran, tapi materi-materi itu tidak keluar dalam ujian. Atau sebaliknya, ada siswa yang cukup beruntung mendapati soal-soal seputar materi pelajaran yang justru ia telaah kembali pada hari-hari terakhir menjelang ujian.

Faktor eksternal juga tak jarang mempengaruhi peserta ujian, baik fisik maupun mental. Suhu udara, misalnya, entah karena cuaca atau konstruksi bangunan ruang ujian, berpengaruh bagi kemampuan kognitif siswa dalam mengakses memorinya. 

Suasana hati siswa juga begitu. Boleh jadi saat sedang mengikuti ujian, ia dirundung masalah yang sangat mempengaruhi mood-nya hingga ia kesulitan menjawab soal-soal.

Faktor tersebut bukan cuma mempengaruhi peserta ujian tertulis, tapi juga ujian lisan. Kebetulan sekolah saya juga melaksanakan ujian lisan (syafahi) selain tertulis (tahriri). Tidak sedikit saya jumpai siswa yang mengaku sudah menelaah dan menguasai pelajaran, tapi ketika masuk ruang ujian lisan dan berhadapan tatap muka dengan para penguji ingatannya buyar seketika.

Fakta memang membuktikan suasana bisa menurunkan penguasaan siswa terhadap pelajaran, atau bahkan bisa mendorongnya. Kebanyakan sekolah menganggap masa ujian sekolah adalah masa yang sakral. Tak terkecuali sekolah berasrama tempat saya mengajar.

Kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler ditutup, suasana sekolah dibuat sesepi mungkin dengan spanduk “harap tenang ada ujian” dan kutipan-kutipan motivasi, para siswa diwajibkan belajar di malam hari, dan tentu saja ada upacara-upacara di awal dan akhir masa ujian. 

Suasana semacam ini memang membantu siswa dalam menghadapi ujian, tapi bisa menggiring anggapan bahwa belajar dan menghayati pelajaran hanya pada masa ujian.

Masalah lainnya adalah pada penilaian ujian sekolah. Penilaian hasil belajar yang biasanya tertera dalam rapot merupakan semacam bahasa yang menggambarkan kualitas peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan di sekolah. 

Namun karena bahasa bersifat arbitrer, dalam arti tak ada hubungan absolut antara kata dan makna, antara tanda dan apa yang ditandainya, patutlah kiranya kita meragukan kapasitasnya.

Uraian di atas pada intinya ingin menyampaikan bahwa tidak ada atau belum ada satu sumber apapun yang dapat memperlihatkan pada guru kemampuan dan perkembangan pembelajaran siswa dengan sebenar-benarnya. Ujian sekolah hanya mampu menangkap realitas umum kualitas para peserta didik tapi tidak kondisi-kondisi partikular mereka.

Namun demikian, ujian sekolah adalah satu-satunya cara yang dapat dilakukan sejauh ini untuk mengevaluasi pembelajaran. 

Ujian sekolah merupakan alat ukur yang sekalipun menyisakan kekurangan-kekurangan tapi, seperti ungkapan dosen saya, paling mendekati kebenaran.

Persoalan ini mengingatkan kita akan pemikiran ontologis Rene Descartes. Pada dasarnya Descartes percaya dunia eksternal nan objektif itu ada, bahkan yang bersifat fisis sekalipun. Akan tetapi ia mengingatkan bahwa kita tidak dapat mengetahui Ada-nya dunia itu secara langsung. 

Kita melihat sesuatu dengan menggunakan media, seperti halnya kita baru mampu melihat suatu benda jika ada cahaya memantul dari benda tersebut.

Prinsip sang filsuf cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada) itu disebut dengan realisme tak langsung (indirect realism) (Feser, Philosophy of Mind, 2006).

Meski dunia eksternal ada pada dirinya dan kita dapat mengetahuinya, tapi pengetahuan kita tentangnya hanyalah “pantulan” dari media tertentu. Atau jika boleh meminjam ungkapan filsuf Perancis kontemporer, Jacques Derrida, sesuatu yang kita ketahui adalah “kebenaran yang tertunda”.

Dengan demikian, media atau alat harus menjadi titik perhatian kita dalam melihat sesuatu, dan dalam konteks evaluasi pembelajaran siswa, ujian sekolah adalah media dimaksud. Karena itu, sistem ujian, komponen-komponennya, sistem penilaiannya dan lain-lain harus terus-menerus dievaluasi dan jika perlu diperbaiki agar ia semakin mendekati kebenaran.

Namun di atas semua itu, yang terpenting menurut saya adalah keseluruhan proses pembelajaran itu sendiri. Perubahan dan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa terjadi sepanjang periode pembelajaran, bukan hanya menjelang atau saat ujian. Guru dan pengelola pendidikan tidak boleh terpaku pada nilai hasil belajar siswa yang didapat dari ujian sekolah.

Untuk itu ia harus mengikuti perkembangan siswa setiap hari, setiap waktu. Menjadi guru bukanlah sekedar profesi yang terikat jam kerja. Guru harus menjadi pendamping bagi murid-muridnya, dalam proses belajar mereka, aktivitas keseharian mereka di sekolah, bahkan pergaulan mereka.

Di situ ia tidak hanya dapat melihat realitas anak didik, tapi juga merasakannya. Sebab, tiada pengetahuan yang lebih nyata ketimbang rasa.[]