Tulisan ini berangkat dari kegelisahan murid murid sekolah di Indonesia tentang menakutkanya ujian nasional. Awal tahun sampai bulan ke empat ( tepatnya bulan April) adalah bulan penuh tekanan dan pengharapan murid sekolah untuk menentukan langkah.

            Indonesia masih menggunakan metode konfensional dalam menentukan langkah murid sekolah, walaupun akhir-akhir ini sudah tidak seratus persen karena dipadukan dengan nilai-nilai dari ujian sekolah. Republik ini belum memiliki terobosan yang serius dalam hal kelulusan, bayangkan metode ujian nasional kita sudah sejak lama bahkan menurut sumber http://news.okezone.com/read/2013/09/23/560/870147/ini-lho-awal-mula-ada-ujian-nasional Sistem UN sudah ada sejak 1950. Whaaattt??

            Indonesia sempat menjadi tolak ukur pendidikan pada zaman dahulu. Itulah nyanyian indah yang memang sempat terdengar namun itu akan tetap menjadi bagian dari sejarah. Kita tak berbicara 30 atau 40 tahun ke belakang. Generasi muda indonesia butuh harapan yang nyata untuk masa depan.

            Buah dari pendidikan sejatinya adalah mencipta generasi yang tangguh dan setia membangun negaranya. Generasi yang tangguh berakar dari proses pendidikan yang baik dan kaya akan inovasi, lantas bagaimana anak-anak bisa kreatif kalau apa yang mereka makan sehari hari dibangku sekolah adalah hidangan lama?

            Saya bukan pakar yang paling tahu dalam hal pendidikan tetapi boleh saja saya menyampaikan harapan saya kepada pemerintah. Melihat belum adanya keseriusan dalam membangun sistem pendidikan yang baik maka pemikiran liar mulai bermunculan. Apakah pemerintah betul mau menjadikan pendidikan ke arah akademis atau hanya mencari kegemukan finansial?

            Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kita menyisihkan 20% untuk mengurusi pendidikan, dana segar itu tak kecil sekitar 38,92 Trilliun. Kalau saya boleh berandai dengan dana yang sebesar itu rasanya ujian nasional sudah bisa diganti dengan menyediakan media-media edukatif yang kekinian. Misalkan saja ruang komputer yang memadai, kelas-kelas keterampilan sesuai daerahnya, dan masih banyak lagi.

            Lalu apa untungnya penyediaan kelas-kelas itu bagi generasi muda? Yang harus kita ingat adalah tantangan hari ini sudah lebih berat dibanding yang lalu. Misalkan saja siswa sekolah di Jepang sudah pandai merakit robot, tapi lihat anak sekolah di pinggiran masih bertahan di kelas yang reyot.

            Tidak mudah memang merubah pendidikan ini menjadi baik dan teratas, lalu pertanyaannya sudah dimulai atau belumkah perubahan-perubahan itu?

            Negara Indonesia akan dititipkan kepada mereka yang dalam waktu dekat ini akan menjalankan ujian nasional. Semoga bapak dan ibu yang ada di pemerintahan mendengar cerita ini.